Mengenal Wastra Nusantara Melalui Pameran Flux & Flex Pameran ini dihelat selama bulan suci ramadan (Foto: MP/Ikhsan Digdo)
KAIN tradisional batik berwarna dasar indigo itu terpajang di ruangan yang sangat cozy. Sekiranya ada sembilan kain batik berwarna biru dengan aneka macam motif. Tidak hanya itu, di lantai bawah juga terdapat 12 kain batik. Secara total ada 21 kain batik yang dipamerkan oleh Artotel Thamrin berkolaborasi dengan Alun-Alun indonesia bertajuk 'Flux & Flex'.

Pameran tersebut dihelat di lobby dan artspace Artotel Thamrin dalam rangka menyambut bulan suci ramadan dan juga hari buruh pada 1 Mei kemarin. Selama satu bulan kamu bisa menikmati pameran kain tradisional atau kekayaan wastra nusantara. Sebagai hotel yang terinspirasi dengan desain seni, hotel yang terletak di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat itu kali ini tertarik memamerkan kain tradisional bersama Alun-Alun Indonesia.

Pada Selasa (15/3) pameran tersebut resmi dihelat. Pameran itu memang tidak besar, hanya sekadar pameran kecil agar bisa mengedukasi pengunjung. Sasarannya adalah pencinta seni dari segala umur. Kamu yang datang bisa sambil menginap di hotel atau sekadar menikmati pameran itu. Pameran Flux & Flex terbuka untuk umum dan gratis. Letaknya juga strategis di pusat kota Jakarta, artinya akses menuju lokasi sangat mudah.

Pincky Sudarman (tengah) (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

Kolaborasi Artotel dengan Alun-Alun Indonesia adalah pertama kalinya. Meskipun demikian urusan pameran karya seni tidak jarang dihelat setiap satu bulan di hotel ini. Semisal hasil foto dan lukisan. Batik sendiri juga pertama kalinya dipamerkan. "Kita punya visi dan misi support local product," tutur Ratu Triamarshida, Asisten marketing komunikasi manajer Artotel.

Kain-kain batik yang dipamerkan pun beragam. Dari nuansa klasik hingga yang berkembang seiring perkembangan zaman. Misalnya adalah motif kawung, motif kopi, motif gedek kawung, dan motif puspo lereng swastiko. Koleksi yang dipamerkan akan dibagi dalam dua babak.

Setelah dua minggu, koleksi yang dipamerkan akan diganti. Dua minggu pertama fokus dengan warna dasar batik indigo dan dua minggu setelahnya kain tenun yang menggunakan timpal tangan semisal dari Tuban, Sumba, dan Flores.

Motif gedek seling kawung (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

Kain-kain yang dipamerkan merupakan karya dari produk lokal. Sebanyak delapan produk lokal dipamerkan. Di antaranya adalah Citra Lawas, Batik Arimby, Sumba Art, MSW Texrltile, Kekean Batik, Kanawinda, Isam Tenun, dan Rumah Songket. Kalau kamu tertarik membeli karya lain dari delapan produk tersebut juga bisa dilihat secara langsung jika kamu sempat mengunjungi Alun-Alun Indonesia di Grand Indonesia, Jakarta Pusat.

Motif batik pada kain dalam pameran juga simpel. Tidak seperti motif batik rumit pada umumnya. Motif tersebut merupakan ciri khas dari pedesaan pesisir Timur Jawa. Sehingga pameran ini akan mudah dicerna masyarakat tapi tidak menghilangkan keragam budayaan. "kita milih batik-batik dari pedesaan. Bukan seperti dari Solo dan Yogyakarta yang motifnya rumit," papar CEO PT Alun-Alun Indonesia Kreasi, Pincky Sudarman di saat yang sama.

(Motif puspo lereng swastiko (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

Tujuan pameran ini agar masyarakat semakin memahami kekayaan wastra nusantara. Apalagi para anak muda yang masih memiliki waktu panjang untuk melestarikan kebudayaan. Sebab menurut Pincky jika dibandingkan baru ada 30 persen anak muda yang tertarik dengan karya kebudayaan asli Indonesia. "Kami berharap masyarakat semakin mencintai kebudayaan yang kita punya," Tukas Pincky.

Sekadar informasi, Alun-Alun Indonesia merupakan Wahana One Stop Shopping yang hadir untuk melihat Indonesia dari 'dekat' dengan tagline 'Inspiring Inovation. Sementara Artotel merupakan hotel yang terinspirasi dari seni semisal seni rupa, seni patung hingga fotografi.

Jadi tunggu apalagi Sahabat Merah Putih? Yuk kenali keanekaragaman Wastra Nusantara. Jangan lupa ajak teman kamu atau keluarga biar lebih seru ya. (ikh)

Kredit : digdo

Tags Artikel Ini

Ikhsan Digdo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH