Mengenang  Dawam Rahardjo, Cendekiawan Muslim Pejuang HAM Cendekiawan Islam M Dawam Rahardjo. (Foto: www.salihara.org)

DAWAM Rahardjo sempat membikin panas seisi Serambi Salihara. Ia mengemukakan Marxisme sebagai suatu teori ilmiah berdasarkan penalaran rasional dan obyektif pernah beriringan dengan Islam, agama nan ajarannya dapat diterima dan ditolak berdasarkan iman dan kepercayaan.

Ia mengambil sosok Haji Misbach sebagai contoh. Misbach, menurutnya, menangkap Islam sebagai agama revolusioner, dan dalam sejarah Nusantara telah menimbulkan pemberontakan-pemberontakan lokal bertema pembebasan. “Dari situlah pikiran Misbach bertemu dengan ideologi komunisme,” kata Dawam pada diskusi “Islam dan Marxisme” di Serambi Salihara, 11 Desember 2013.

Paparan mantan Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada 1995-2000 itu, begitu menarik dan memancing perdebatan. Sejarawan Bonnie Triyana, sebagai pembahas pun tak kalah bernas menjelajah tiap periode pertemuan Islam dan Komunisme di Indonesia. Mulai pemberontakan Silungkang dan Banten hingga mengentengahkan sosok Henk Sneevliet, aktor intelektual di balik radikalisme Sarekat Islam.

Diskusi tersebut sangat memantik perseteruan. Dawam, kala itu menjabat Rektor Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta cum Cendekiawan Muslim tak canggung menera hubungan harmonis Islam dan Komunis. Ia memang terbiasa mengajukan pikiran nyeleneh.

Perjuangan Dawam

Dawam menjadi salah satu ikon intelektual muslim gelombang awal Indonesia. Peneliti Yayasan Paramadina Moh Shofan dalam catatan jurnalnya mengatakan pemikiran serta ide-ide segar Dawam kerap menimbulkan polemik di masyarakat. "Salah satunya (cerpen) Anjing yang Masuk Surga," kata Shofan.

Di dalam cerpennya tersebut, Dawam menyuguhkan kisah satu keluarga muslim memutuskan untuk memelihara anjing untuk menjaga rumahnya, namun kemudian hubungan keduanya menjadi intim. Saat Nero juga Hector, kedua anjing mereka mati, hampir seluruh keluarga sedih.

Kisah itu tentu menuai polemik lantaran Anjing dianggap haram bagi pemeluk Islam. Dawam memberikan perspektif lain tentang persoalan-persoalan keislaman.

Meski kerap mendapat 'serangan' dari golongan intelek muslim lainnya, justru tak menghentikan Dawam untuk berhenti menyuarakan kebebasan serta pembelaan terhadap kaum tertindas.

Menurut Shofan, hal tersebut merupakan salah satu bentuk ketegaran dan kehebatan Dawam. "Berbagai hinaan, cercaan, sampai pada batas-batas yang paling jauh, yakni pengafiran, pemurtadan, semuanya dihadapinya dengan tenang dan sama sekali tak membuatnya surut, apalagi takut," kata Shofan dalam tulisannya.

Dawam, kata Shofan, tetap memegang erat pemikirannya sebagai kebenaran, terutama terkait isu pluralisme, liberalisme, dan sekularisme yang diharamkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Tak hanya tegas terhadap pendiriannya, Dawam pun kritis terhadap golongan Islam konservatif yang terlalu 'galak' dengan yang tak sepaham. Menurut Shofan, keberanian Dawam dalam membela hak-hak seperti penganut Ahmadiyah, Komunitas Eden, Kristen, membuatnya dimusuhi oleh kalangan konservatisme Islam. "Mas Dawam melalui pemikiran-pemikirannya yang progresif-liberal selalu menganjurkan kebebasan berpikir dan menjalankan pemikiran pluralisme," katanya.

Shofan juga mengatakan dalam pandangan Dawam, jika agama tidak ditafsir secara terus menerus, maka akan berakibat pada kematian pemikiran. Jika ahli pikirnya tidak sanggup melahirkan kontekstualisasi gagasannya serta ulama tidak sanggup bertanggung jawab atas agamanya, maka di situlah awal lonceng kematian agama dimulai. "Kita harus berani mempertahankan kebebasan pada saat kebebasan sungguh-sungguh terancam," katanya.

Pendidikan Dawam

Senin, 20 April 1942, pasangan Muhammad Zuhdi Rahardjo dan Muthmainnah melahirkan anak pertamanya bernama Muhammad Dawam Rahardjo. Dawam memulai pendidikan di Madrasah Bustanul Athfal Muhammadiyah (setara TK) Kauman. Setelah selesai, ia melanjutkan pendidikan ke Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah, Masjid Besar Solo.

Sejak kecil, Dawam merupakan sosok berprestasi. Hal itu terbukti ketika Dawam melanjutkan pendidikan ke sekolah dasar di Sekolah Rakyat Logi Wetan, ia langsung ditempatkan di kelas dua. Pendidikan Dawam pun berlanjut ke SMPN 1 Solo pada 1957, dan melanjutkan pendidikan di SMA Manahan hingga lulus pada 1961.

Berkat kecerdasannya, anak sulung dari pasangan Zuhdi dan Muthmainnah itu pun akhirnya mendapat kesempatan mengikuti American Field Service (AFS) dan menjadi siswa di Borach High School, Idaho, Amerika, selama satu tahun.

Ketika kembali Indonesia, Dawam meneruskan pendidikannya di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pada 1969, ia mendapatkan gelar sarjana di salah satu kampus ternama di negeri ini. Dawam semakin dikenal masyarakat sebagai ekonom dan cendekiawan muslim. Ia juga aktif dalam menulis dan melahirkan beberapa karya yang terkenal, di antaranya Esai-esai Ekonomi Islam, Risalah Cendekiawan Muslim, dan Masyarakat Madani.

Dalam bidang agama Islam, Dawam merupakan penggali Alquran yang baik, dan banyak mempelajari buku-buku tafsir. Karena kedalaman ilmu yang dimilikinya itu pula, Dawam pun menelusuri arti pluralisme dan toleransi dalam kehidupan beragama.

Di tengah tingginya sesitifitas agama, sang cendekiawan mulsim sekaligus pejuang HAM, justru berpulang mendahului kita. Inalillahi wainailaihi rojiun. Selamat Jalan Pak Dawam!(*)


Tags Artikel Ini

Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH