Mengenang Perjalanan Karir Penyanyi Utha Likumahuwa Utha Likumahuwa dan Bagoes AA 1984. (Denny Sakrie)

SIAPA sangka, sebelum menetapkan pilihan menjadi penyanyi, Utha Likumahuwa sempat menjadi penggebuk drum band rock.

Cerita bermula ketika pria kelahiran Ambon, Maluku, 1 Agustus 1955, mengikuti jejak sang kakak, Benny Likumahuwa, hijrah ke Bandung untuk bermusik.

Di sana, Utha kemudian membentuk banda rock bernama Big Brother. “Band itu dinamakan Big Brother karena para personelnya memiliki abang yang lebih dulu menjadi pemusik atau ngeband,” ungkap Utha kepada Denny Sakrie dikutip dennysakrie63`sblog.

Para personel, beranggotakan Agus adik Gito Rollies (The Rollies), lalu Harry Soebardja adik Benny Soebardja (Giant Step), Imank Kusni adik Wandi Koeswandi (One Dee & Lady Faces), dan Utha adik Benny Likumahuwa (The Rollies). Utha mengaku memang belajar bermusik dari sang kakak.

Soal vokal, pria bernama lengkap Doa Putra Ebal Johan Limkumahuwa banyak terpengaruh dengan karakter vokal Alex Ligertwood, vokalis Brian Auger`s Oblivion Ezpress dan Santana. “Saya pun sangat menganggumi Gino Vanneli,” tukasnya.

Debut rekaman Utha tercatat berlangsung kala menyanyikan lagu "Cinta Diri" karya Harry Dea dan "Dara" gubahan Candra Darusmen diiringi Prambors Band pada album 10 Pencipta Lagu Remaja pada tahun 1979.

Kiprah Utha sebagai penyanyi mulai mencuat ketika membawakan lagu Tersiksa Lagi pada 1981 dengan iringan Christ Kaihatu, Jopi Item, Karim Suweileh, Yance Manusama, Embong Rahardjo, dan Joko WH.

Lagu tersebut menuai kesuksesan dan berbuah kontrak oleh label Jackson Records & Tapes untuk merilis album Bersatu Dalam Damai tahun 1983, dengan lagu hits “Esok Kan Masih Ada”, semakin melambungkan nama Utha Likumahuwa.

Rilisan album selanjutanya bertajuk Aku Pasti Datang pada 1985 juga melahirkan lagu hits, “Mereka Bukan Kita”, “Gayamu”, dan “Aku Pasti Datang” dengan penggarapan musik di tangan Addie MS. Utha, menurut Addie MS dikutip Kompas, 14 September 2011, mampu membawakan lagu dengan sentuhan Jazzy dan menyuguhkannya ke penikmat musik pop dengan sangat nyaman.

“Utha memperkaya musik pop Indonesia dengan pilihan rasa yang lain. Sebuah musik pop yang berbeda. Dia berani mengambil risiko itu,” ungkap Addie MS.

Utha Likumahuwa menjadi tonggak musik Jazz Pop di industri musik Indonesia tahun 1980-an. Dia telah menelurkan lebih kurang 20 album sepanjang karir bernyanyi. “Jazz tetap terasa karena dia sering mengambil blue note, notasi jazz, tanpa mengklaim sebagai penyanyi jazz,” ungkap Idang Rasjidi.

Bahkan, Utha, menurut pengamat musik Theodor KS, dikutip Kompas, 23 November 2007, merupakan tonggak kesuksesan besar musik jazz berkompromi dengan pop di era kaset pada tahun 1980-an lewat tembang “Tersiksa Lagi”.

Selain sukses di rekaman, Utha pun garang di ajang kompetisi musik. Dia tercatat mengukir prestasi pada ajang Grand Prix Song`s The 6th ASEAN Festival, Manila, Filipina pada 1989, dan The 2nd in Asia Pasific Singing Contest di Hongkong, serta ABU World Song Festival di Malaysia pada tahun 1990.

Pada tahun 2009, setelah lama tak terdengar, Utha membuat kejutan dengan membuat album Kembali berisi tembang-tembang lama namun mendapat aransemen baru.

Pelantun tembang “Mungkinkah Terjadi” berduet bersama Trie Utami, mendadak terkena serangan stroke pada bulan Juli 2011 ketika berada di Pekanbaru, Riau. Utha sempat mendapat perawatan intensif di Rumah Sakit Santa Maria selama lima minggu. Sejak saat itu, suami Debbie Likumahuwa tak lagi bisa berkomunikasi secara lisan.

Hari Ini, 6 tahun silam, pukul 13.11 WIB, penyanyi Utha Likumahuwa meninggal dunia pada usia 56 tahun di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan.

Kini, dunia hiburan tanah air tak lagi bisa menikmati aksi pria bersuara khas dan memiliki kharakter kuat Pop Jazz. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH