Mengenang Legenda Inggris Paul "Gazza" Gascoigne, Sang Pemabuk Tapi Dicinta Publik Inggris Paul Gascoigne. (Sumber: adrianminde.com)

MESKI tak lagi merumput di lapangan hijau, masyarakat Inggris tetap menempatkan Paul John Gascoigne sebagai idola di hati. Gazza, panggilan akrab Gascoigne, lahir dan besar di Dunston, Gateshead, Inggris. Tak jauh dari markas salah satu klub raksasa di era 90'an, Newcastle United.

Setiap akhir pekan, Gascoigne kecil (8 tahun) selalu mendengar gemuruh suporter mendukung tim pujaannya. Hal itu kemudian menumbuhkan rasa cintanya terhadap si kulit bundar. Tak ada rotan akar pun jadi. Gascoigne awalnya berlatih hanya menggunakan bola tenis di pekarangan rumah. Orang tuanya tak tega. Tak lama berselang, ia dibelikan bola kulit. Gazza pun mulai menggeluti si kulit bundar.

Pada usia ke-16, Gascoigne masuk skuat Newcastle Junior. Tak disangka, kariernya melesat laiknya roket. Manajer Newcastle saat itu, Jack Charlton melihat bakat Gascoigne. Ia meminta sang bintang muda mengurangi konsumsi minuman bersoda. Menurut Charlton, badannya yang tambun akan mempersulit geraknya saat berada di lapangan.

Paul Gascoigne muda. (Sumber: chroniclelive.co.uk)

Setelah menuruti nasihat Charlton, Gascoigne langsung didapuk menjadi kapten di tim muda. Tak lama berselang, Charlton kembali memercayainya masuk ke dalam tim utama. Pada laga pertama Gascoigne, Newcastle berhadapan dengan Wimbledon.

Gelandang anyar Wimbledon, Vinnie Jones ditugasi menempel Gascoigne. Tapi Jones kesulitan mengawal Gascoigne, hingga akhirnya kemaluan Gascoigne diremas dengan sangat keras. Kejadian itu menjadi momen yang melekat bagi masyarakat Inggris, khususnya pendukung Newcastle United.

Paul Gascoigne. (Sumber: dailyrecord.co.uk)

Tiga tahun bersama The Magpies, membuat Gascoigne semakin populer. Kelihaiannya mengolah bola menarik minat klub besar Inggris. Bahkan Gascoigne menjadi rebutan Terry Venables (Tottenham Hotspur) dengan Sir Alex Ferguson (Manchester United). Pada awalnya, Gascoigne lebih berharap bermain bersama Red Devils. Ia pun berjanji kepada Fergie untuk hijrah ke klubnya.

Namun, bukan Tottenham namanya kalau menyerah. Pihak manajemen mengiming-imingi sang primadona. Bahkan Tottenham berjanji bakal membelikan rumah untuk orang tua Gascoigne. Pada 1988, Gascoigne pun menjatuhkan pilihan. Ia mencampakkan Fergie, berlabuh ke Venables.

Mendapati kenyataan seperti itu, Fergie meradang. Selama enam bulan keduanya tak berbicara, sebelum akhirnya berdamai atas nama satu bangsa. Selama empat tahun bersama The Lilywhites, permainan Gascoigne semakin berkembang.

(Paul Gascoigne berseragam Tottenham Hotspur. Sumber: fourfourtwo.com)

Manajer Inggris saat itu, Bobby Robson kemudian memanggil Gascoigne untuk masuk timnas. Robson mengaku terpukau atas kualitas dan karakter Gazza. Akhirnya pada 1990 Gascoigne sudah berseragam The Three Lions, dan ikut skuat tampil dalam Piala Dunia di Italia.

Meski kandas dalam perempat final ketika melawan Jerman Barat, tapi tak membuat Gascoigne patah arang. Justru nama Gascoigne semakin meroket. Pada 1991 ia meraih trofi Piala FA bersama Tottenham Hotspur. Sayangnya, dalam laga final melawan Nottingham Forrest, Gascoigne tak bermain penuh. Di tengah pertandingan ia cedera parah. Gazza dibawa ke rumah sakit.

Meski demikian, Gary Mabbutt selaku kapten Tottenham tak lupa jasa Gascoigne. Usai merayakan kemenangan, mereka membawa trofi piala ke rumah sakit, tempat Gascoigne dirawat. Betapa tidak, Gascoigne merupakan salah satu pemain yang sangat memberikan kontribusi bagi The Lilywhites. Dalam laga semifinal, tendangan bebas Gascoigne berhasil membenamkan impian rival sekota mereka, Arsenal.

Ironisnya, dalam keadaan seperti itu Gascoigne justru masuk dalam bursa transfer. Pada 1992, Gazza dijual ke Lazio, Italia. Saat bermain bersama Biancocelesti, merupakan masa suram Gazza. Akibat kematian sepupunya, Gazza mulai menjadi pecandu minuman beralkohol.

Paul Gascoigne ketika bersama Lazio. (Sumber: chroniclelive.co.uk)

Meski menjadi pecandu alkohol, penampilan apik Gazza tidak berkurang. Malah ia menjadi pahlawan Lazio ketika berhasil mengalahkan AS Roma. Sayangnya, karier Gazza tiba-tiba terhenti. Ia kembali cedera parah akibat tekel keras Alessandro Nesta saat latihan. Pada 1995 Gazza dijual Lazio, dibeli Rangers, Skotlandia, dengan mahar 4,3 juta Euro.

Tak disangka, bersama Rangers Gascoigne tetap piawai dalam mengolah si kulit bundar. Bermain selama tiga tahun bersama Rangers, Gascoigne berhasil memberikan empat trofi; dua Divisi Premier Skotlandia, Piala Skotlandia, dan Piala Liga Skotlandia.

Paul Gascoigne berkostum Rangers. (Sumber: eveningtimes.co.uk)

Tiga tahun kemudian, 1998, Gascoigne kembali ke Inggris dan bermain untuk Middlesbrough. Kariernya sudah mulai meredup. Akhirnya, ia pindah lagi ke Boston United pada 2004.

Setelah itu, Gazza memutuskan untuk pensiun. Ia sering keluar masuk tempat rehabilitasi. Hobinya mabuk membuat Gazza 'penyakitan'. Ia bisa mabuk selama lima-enam kali dalam sepekan untuk mengusir kegalauannya tersebut. (*)



Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH