Mengenang Kematian Bung Karno Presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno, meninggal dunia pada 21 Juni 1970. (Foto: Wikipedia)

Hari ini, 47 tahun yang lalu, Sukarno wafat. Saat itu, Indonesia tengah memiliki presiden kembar. Sukarno, presiden de jure, dan Suharto, presiden de facto.

Kematian Putra Sang Fajar itu menjadi misteri. Ada beberapa versi mengenai penyebab kematian pria yang kerap dipanggil Bung Karno ini. Di dalam buku berjudul "Indonesia X-File" karya ahli forensik Abdul Mun'im Idries disebutkan Sukarno meninggal akibat komplikasi. Sang proklamator Indonesia itu menderita gangguan ginjal dan jantung.

Sukarno dinyatakan mengidap gangguan ginjal dan pernah menjalani perawatan di Wina, Austria, pada 1961 dan 1964. Ketika Prof K Fellinger dari Fakultas Kedokteran Universitas Wina menyarankan ginjal kiri Sukarno diangkat, Sukarno sempat menolak karena lebih memilih pengobatan tradisional. Namun, jika mengacu pada buku "Indonesia X-File", Mun'im mengungkapkan satu ginjal Bung Karno telah diangkat di Wina pada 1960. Satu ginjal lainnya hanya berfungsi 25 persen. Fakta itu Abdul dapatkan dari Rachmawati.

Kesehatan Sukarno menurun drastis pada 1965. Sakitnya pria yang biasa dipanggil Bung Karno ini dirahasiakan pemerintah. Tim dokter kepresidenan, Prof Dr Mahar Mardjono, rutin memeriksa Sukarno. Sukarno masih bertahan selama lima tahun sebelum akhirnya ia wafat.

Masih di dalam buku yang sama, Mun'im menyebutkan penyebab lain kematian Sukarno. Faktor psikologis disebut-sebut sebagai salah satu penyebab kematian Bung Karno. Pada masa Orde Baru, ia harus menjalani tahanan rumah. Hidup terisolasi membuatnya kehilangan eksistensi di hadapan rakyat yang tak pernah bosan mendengarkan pidato Bung Karno yang berjam-jam.

Kondisi fisik dan psikologis yang menurun berujung pada wafatnya Sukarno. Satu penyebab lainnya, ungkap Mun'im, Bung Karno juga tidak mendapatkan perawatan yang seharusnya selama sakit. Sukarno meninggal pada Minggu, 21 Juni 1970, sekira pukul 07.00 WIB, di ruang perawatan Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. Usianya saat itu, 69 tahun.

Komunike medis tentang kematian Bung Karno ditandatangani Prof Dr Mahar Mardjono dan Wakil Ketua Mayor Jenderal Dr (TNI AD) Rubiono Kertopati.

Meski pernah meminta agar dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor, Bung Karno akhirnya dimakamkan di Blitar, Jawa Timur. Persis, di sebelah makam ibunya. Semasa hidupnya hingga sekarang, Sukarno merupakan tokoh yang dikagumi. Bahkan, Raja Salman pun mengaku mengagumi sosok Bung Karno. Tak percaya? Buktinya ada pada artikel Ini Mengapa Raja Salman Sangat Mengagumi Presiden Sukarno.



Rina Garmina

YOU MAY ALSO LIKE