Mengenal Sirnaresmi, Desa Adat yang Kini Tertimbun Longsor Desa Sirnaresmi (Sumber: Instagram/dewiasmara.id)

BELUM usai berita duka tentang tsunami di pantai sepanjang Selat Sunda, Indonesia kembali ditimpa bencana. Kali ini longsor yang diakibatkan hujan deras menimpa Desa Sirnaresmi, Cisolok, Sukabumi. Hingga kini tim SAR masih melakukan pencarian terhadap orang-orang yang diduga tertimbun tanah.

Sirnaresmi sendiri merupakan desa adat yang masih masih kuat dalam menjalankan tradisi leluhurnya. Misalnya saja dalam hal pertanian. Masayarakat di sana dilarang melakukan komersialisasi terhadap produk pertanian padi yang ditanam.

sirnaresmi masih memegang kuat adat dan tradisi (Sumber: Instagram/b_bubuh)
sirnaresmi masih memegang kuat adat dan tradisi (Sumber: Instagram/b_bubuh)

Pasca panen, gabah yang merupakan hasil panen kemudian disimpan ke lumbung atau masyarakat di sana menyebutnya leuwit. Hasil panen itu kemudian bisa dimanfaatkan sehari-hari oleh masyarakat ataupun kebutuhan sosial lainnya.

Bukan hanya itu saja. Pemakaian produk kimia sintetis untuk pertanian sangat dilarang di sana. Benih yang ditanam harusnya varietas lokan dan ditanam sesuai musim yang ditentukan, yakni setahun dua kali.

Hal tersebut tentu membuat semua masyarakat Sirnaresmi tidak pernah kelaparan. Sistem pertanian di sana tidak bergantung pada pihak luar. Hal itu karena secara adat semua yang dibutuhkan mulai dari benih, pupuk organik dan lainnya sudah tersedia.

Desa afat Sirnaresmi banyak dikunjungi wisatawan (Sumber: Instagram/wongabraham)
Desa afat Sirnaresmi banyak dikunjungi wisatawan (Sumber: Instagram/wongabraham)

Desa ini cukup terkenal. Meski jaraknya cukup jauh yakni 23 kilometer dari Cisolok, Sirnaresmi banyak dikunjungi wisatawan. Apalagi tak jauh dari desa terdapat empat mata air yang bisa dikunjungi yakni Cipanengah, Cisodong, Cidongkap, dan Cisolok.

Karena penghormatan mereka terhadap alam, desa ini pernah diberikan penghargaan oleh pemerintah Belanda perihal ekologi. Desa Sirnaresmi masih menjadi satu kesatuan adat Banten Kidul. Konon tradisi yang mereka lakukan sudah berusia 650 tahun.

Namun di balik itu semua, desa Sirnaresmi cukup rawan longsor. Dengan ketinggian antara 300-600 mdpl desa ini berada di dekat lereng dengan kemiringan 25-45 derajat. Ditambah lagi dengan curah hujan yang cukup sering yakni 2120-3250 mm/lahun.


Tags Artikel Ini

Muchammad Yani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH