Menyibak Makna Sejati Ruwatan Cukur Rambut Gimbal Dieng, Benarkah Anak Gimbal Pembawa Sial? Pemangku adat, Mbah Sumanto melakukan ritual ruwatan pemotongan rambut salah satu anak gimbal (MP/Rizki Fitrianto)

BOCAH berpipi gembil mengenakan kebaya putih itu tampak anteng digendong neneknya. Mukanya datar nyaris tanpa senyuman. Rambutnya acak-acakan. Kusam. Seakan tak pernah keramas.

Saat dilihat dari dekat, helai-helai rambutnya menyatu. Gimbal serupa kaum rastafara di Jamaika. Kondisi gadis berusia tiga tahun itu biasa disebut masyarakat dataran tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, sebagai Lare Gembel (anak berambut gimbal).

Ia bersama anak berambut gimbal lainnya dengan busana serbaputih sedang menanti prosesi Ruwatan Rambut Gimbal di Candi Arjuna, dalam rangkaian acara Dieng Culture Festival (DFC), Minggu (4/8).

Rambut bocah bernama lengkap Alifa Najwa Azkia sebelumnya normal. Ia pun tumbuh sewajarnya anak kecil pada umumnya. Namun, sekitar umur setahun, menurut penuturan Sujiah, neneknya, Alifa mulai sakit-sakitan. Ia bahkan sempat dilarikan ke rumah sakit karena kejang-kejang disertai panas tinggi mencapai 39 derajat celcius. Kondisi tersebut terus berlangsung hingga sang cucu berusia dua tahun.

Baca juga: Ritual Potong Rambut Anak Gimbal

Bersamaan timbulnya penyakit tersebut, muncul pula semcam gumpalan-gumpalan di rambut Alifa. "(Rambut gimbalnya) datang sedikit-sedikit. Kalau mau datang (rambut gimbalnya) sakit lagi," kata Sujiah.

Kondisi Alifa, berdasar kepercayaan turun-temurun masyarakat Dieng, tidak bisa disembuhkan dengan tindakan medis semata.

Tak Boleh Dipaksa

Mbah Sumanto mengenakan penutup kepala kepada anak gimbal sebelum ruwatan (MP/Rizky Fitrianto)
Mbah Sumanto mengenakan penutup kepala kepada Alifa sebelum ruwatan (MP/Rizky Fitrianto)

Masyarakat Dieng hingga lereng barat gunung Sindoro dan Sumbing percaya kehadiran Anak Gimbal merupakan titisan leluhur mereka, Kiai Kaladete nan juga berambut gimbal. Anak Gimbal itu akan terus dibayangi Kiai Kaladete sehingga tingkah lakunya berbeda.

Demi memulihkan keadaan anak itu di dalam tradisi Jawa dikenal prosesi ruwatan. Dalam bahasa Jawa, menurut Koentjaraningrat pada Ritus Peralihan di Indonesia, ruwatan berpadanan dengan kata luwar, berarti lepas atau terlepas. Diruwat artinya dilepaskan atau dibebaskan dari hukuman atau kutukan dewa nan menimbulkan bahaya atau malapetaka agar keadaan kembali pulih.

Prosesi itu disebut Ruwatan Cukur Rambut Gembel. Masyarakat Dieng percaya pemotongan hanya boleh dilakukan bila Anak Gimbal tersebut sudah meminta atau menghendakinya. Bukan kemauan orang lain apalagi dipaksa.

Biasanya Anak Gimbal punya syarat tertentu untuk dipenuhi sebelum prosesi. Maka lazimnya orang tua, ketika Anak Gimbal sudah meminta diruwat, menanyakan apa permintaannya. Dan seringkali permintaannya aneh-aneh.

Alifa misalnya, menurut Sujiah, meminta dicukur di Dieng, padahal tak pernah sekali pun ia mengunjungi daerah tersebut. Alifa juga meminta sepasang kambing sebagai syarat pemotongan rambut gimbalnya.

"Gini, si Alifa sendiri usia 2 tahun sudah minta dibawakan ke sini (Dieng). Ndok gembelnya minta apa? Minta kambing dua. Dipotong (rambutnya) di mana? Di Dieng. Gitu," ucapnya.

Berbeda dengan Alifa, Anak Gimbal lainnya peserta pada ruwatan DFC 2019, Dinda Syifa Ramadhani, meminta kentut satu kantong plastik dan sebutir telur puyuh mentah.

Harus Dikabulkan

Kesebelas anak gimbal yang akan dipotong rambutnya (MP/Rizki Fitrianto)
Kesebelas anak gimbal yang akan dipotong rambutnya (MP/Rizki Fitrianto)

Menurut penuturan Pemangku Adat Desa Dieng Kulon, Mbah Sumanto, permintaan aneh sekali pun harus dituruti sebelum melakukan proses ruwatan rambut gimbal. Jika tidak, maka lanjutnya, meski rambut sudah dipotong akan tumbuh kembali.

Mbah Sumanto juga menceritakan beberapa pengalaman ganjil mengenai hal tersebut. Dulu ada anak asal Pamulang. Ia minta sepeda motor kecil. Saat pemotongan hanya dipinjamkan saja, niat panitia memberikan uang untuk dibelikan sepeda sesampainya di rumahnya. "Tapi enggak dibelikan, dan akhirnya rambut gembelnya tetap tumbuh," tutur lelaki berusia lebih dari setengah abad itu.

Permintaan itu, menurut Mbah Sumanto, sebenarnya bukan kehendak Anak Gimbal, tetapi diucapkan sosok makhluk gaib nan dipercaya sebagai Kiai Kaladete.

Saat marah, bocah gimbal memiliki kekuatan luar biasa. Rambutnya juga tampak berdiri, seakan menunjukan kalau ia sangat berbeda dengan bocah pada umumnya. Tak jarang permintaan apapun akan dituruti kedua orang tuanya.

Bila permintaan telat dituruti, orang tua akan menentukan tanggal pelaksanaan ruwatan sesuai weton, hari lahir dalam kalender Jawa, si anak.

Namun, sejak sepuluh tahun terakhir penyelenggaraan ruwatan telah berubah dan tak lagi menggunakan patokan weton.

Baca Juga: Dieng Culture Festival IX Padukan Budaya dan Keindahan Dataran Tinggi Dieng

Menjelma Festival

Para pemangku adat desa melakukan kirab budaya keliling kampung (MP/Rizki Fitrianto)
Para pemangku adat desa melakukan kirab budaya keliling kampung (MP/Rizki Fitrianto)

Sekelompok orang di Dieng melihat prosesi tersebut bernilai pariwisata. Mereka kemudian mengemas prosesi tersebut agar layak menjadi sajian wisatawa. Bermula dari Pekan Budaya Dieng kemudian lewat Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) diubah mejadi Dieng Culture Festival (DCF).

DCF berlangsung tiap tahun dengan mengusung prosesi Ruwatan Cukur Rambut Gembel sebagai sajian utama. Prosesi dilangsungkan secara massal.

Rangkaian pertama, pemangku adat melakukan napak tilas. Di tahun ini, napak tilas dilakukan hingga 22 titik. Setelah itu ada prosesi kirab, berjalan menuju tempat pencukuran. Dilanjutkan jamasan atau keramas sebelum akhirnya rambut gimbal si anak dipotong. Saat proses pencukuran berlangsung, si anak harus melihat barang permintaannya.

Tak jauh dari lokasi cukur, ada acara ngalap berkah. Di sana masyarakat setempat akan memperebutkan tumpeng dan makanan. Mereka percaya makanan itu bisa mendatangkan berkah. Proses ngalap berkah sendiri dipimpin oleh pemangku adat.

Akhir dari prosesi dilakukan acara pelarungan. Rambut gimbal nan telah dicukur akan dihanyutkan ke sungai menuju Laut Selatan.

Sebelum adanya DFC, ritual tersebut hanya dilakukan layaknya acara syukuran khitan atau pernikahan. Bahkan, jika kondisi ekonomi tak mencukupi, pemotongan dilakukan langsung oleh orang tua masing-masing.

"Adek bapak ini (Alifa) gembel, saya dulu juga gembel. Rambutnya udah enggak gitu, sempat ada permintaan, tapi paling dipotongnya sama orang tertua," kata Sujiah mengenang masa lalu.

Bukan Pembawa Sial

Peserta anak gimbal didampingi orangtuanya menaiki andong untuk mengikuti kirab keliling kampung (MP/Rizki Fitrianto)
Peserta anak gimbal didampingi orangtuanya menaiki andong untuk mengikuti kirab keliling kampung (MP/Rizki Fitrianto)

Ruwatan rambut gimbal dipercaya sebagai ritual untuk membebaskan anak dari sukerta atau sesuker berarti kesialan, kesedihan atau malapetaka. Stigma tersebut masih dipercaya para orang tua dengan kondisi anak memiliki rambut gimbal.

Meski begitu, Ketua panitia Dieng Culture Festival, Alif Fauzi tak ingin persepsi 'anak sial' bagi bocah berambut gimbal terus menerus tertanam di masyarakat. Dengan acara Dieng Culture Festival ini ia berharap bisa membuat orang tua dengan anaknya berambut gimbal lebh percaya diri dan bangga.

"Banyak orang menganggap orang gimbal adalah marabahaya. Yang minder itu biasanya adalah orangtuanya seakan-akan malu. Maka saya katakan jangan malu, ini harus kita terima. Kalau anak kita saat ini menjadi (gimbal) harus kita terima dan syukuri kalau karena bersyukur maka akan bertambah nikmatnya," ucap ketua panitia Dieng Culture Festival, Alif Fauzi saat ditemui di tempat berbeda.

Alif juga mengatakan sebenarnya tak masalah anak dengan rambut gimbal tak dicukur. Misalnya sepupu Alif yang hingga dewasa masih berambut gimbal. "Bahkan dia (sepupu Alif) bangga dengan rambut gimbalnya," tuturnya. (*)

Baca Juga: Anak Gimbal Dieng, Potong Rambut Buang Energi Buruk



Muchammad Yani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH