Mengenal Pacu Itiak, Olahraga Unik dari Luak Limopuluah Itik terbang di gelanggang pacu itiak. (Instagram/@minangtourism)

MEMBICARAKAN Minangkabau dalam hal budaya selalu menarik. Tak ada habisnya. Warga Minang di Provinsi Sumatra Barat sangat kukuh mempertahankan tradisi nenek moyang. Mulai dari masakan, kesenian, hukum adat, hingga kebiasaan unik pun terus mereka jaga. Pacu itiak misalkan.

Olahraga tradisional asli Kabupaten Limapuluh Kota ini konon sudah ada sejak 1028. Kisah awalnya terjadi di Kanagarian Aur Kuning, Sicincin, dan Padang Panjang. Kebiasaan petani dalam mengembala itik dengan menghalaunya hingga terbang menjadi ide awal olahraga ini.

Dari sanalah muncul ide untuk mengadakan pacu itik. Mereka mulai melatih para itik untuk dapat terbang tinggi, kemudian diikutsertakan dalam ajang lomba pacu itiak. Uniiknya, lomba ini diselenggarakan guna menghilangkan kejemuan dan kepenatan para petani.

Kebiasaan ini terus terjadi turun temurun, hingga hari ini. Pacu itiak sekarang tidak lagi digelar di sawah, tapi beralih ke gelanggang.

1. Pacu Itiak sebagai pelepas penat di kala senja tiba

Start Pacu Itiak. (Instagram/@sumbar.viral)
Start Pacu Itiak. (Instagram/@sumbar.viral)

Untuk mengikutkan itik dalam suatu perlombaan, tak semudah membalikkan telapak tangan. Pemilik harus melatih itik kepunyaannya terbang hingga berbulan-bulan lamanya. Biasanya, mereka melakukannya pada sore hari setelah lepas dari tanggungan kerja.

Para pemilik itik biasanya berkumpul di satu gelanggang yang sama untuk melatih itik. Dampak positifnya ialah mereka berbincang satu sama lainnya, bercanda, tertawa menghabiskan senja bersama. Meski zaman telah berubah, tujuan pacu itik tak lepas dari sejarahnya.

2. Melatih itik terbang jauh dengan beberapa tips

Masyarakat sedang menerbangkan itik di gelanggang pacu itiak. (Instagram/@erisonjkambari)
Masyarakat sedang menerbangkan itik di gelanggang pacu itiak. (Instagram/@erisonjkambari)

Biasanya, si pemilik pertama kali melatih itiknya untuk mendarat sempurna. Wajar, meski hewan ini jenis unggas, namun itik tak terlalu lihai untuk terbang dan mendarat seperti hewan sejenisnya. Setelah bisa mendarat, barulah dilatih untuk terbang dari jarak pendek ke jarak panjang.

Selain melatih terbang dan mendarat, pola makan itik untuk ikut pacu juga di atur. Masyarakat mempercayai, jika itik diberi makan jangkrik yang dibakar maka badannya akan ringan dan bisa terbang jauh. Sangat berbahaya jika itik diberi makan nasi, karena itu mengakibatkan berat badannya bertambah.

3. Sistem pacu itiak yang sangat unik

Orang setelah melepas itik terbang. (Instagram/@west.sumatra.tourism)
Orang setelah melepas itik terbang. (Instagram/@west.sumatra.tourism)

Setelah itik siap dilatih berbulan-bulan, warga akan mengadakan baralek atau pesta pacu itiak. Di sanalah ajang menunjukkan kehebatan itik masing-masing. Berbagai kategori lomba diadakan di sini, mulai jarak terbang 800 meter, 1000 meter, 1200, meter, 1400 meter, hingga 1600 meter yang mereka sebut boko.

Penentuan pemenang pun ada dua kategori lomba. Jika lomba kategori batas garis, itik yang melewati garis yang ditentukan akan terkualifikasi sekalipun terbangnya jauh. Ada juga lomba terbang bebas, di sini peraturannya baru normal dimana itik yang paling jauh terbangnya yang jadi juara. (*)

Baca Juga: Pangek Cubadak, Olahan Nangka Muda Paling Nikmat dari Payakumbuh

Kredit : zaimul

Tags Artikel Ini

Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH