Mengenal Masyarakat Adat Citorek di Banten Sebuah situs megalitikum di Citorek, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten. (Foto: Twitter/@bahrudin34646)

MerahPutih Wisata - Masyarakat Citorek merupakan salah satu masyarakat adat di Kabupaten Lebak, Banten. Masyarakat adat Citorek hampir sama dengan masyarakat adat Cisungsang yang lebih terbuka, dibandingkan dengan masyarakat Suku Baduy.

Masyarakat adat Citorek masih memegang erat tradisi nenek moyak semenjak kampung ini dibentuk dahulu. Mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani. Seperti halnya masyarakat adat Cisungsang, masyarakat Citorek lebih terbuka dengan dunia luar. Akses jalan telah sampai ke Citorek sehingga bisa memudahkan para pelancong ke desa ini. Dari Kota Rangkas Bitung, kawasan adat Citorek berjarak kurang lebih 180 kilometer.

Masyarakat adat Citorek, masyarakat adat Cisungsang, dan masyarakat adat Suku Baduy memiliki karakteristik yang sama dalam mempertahankan tradisi. Penghargaan masyarakat terhadap para sesepuh atau pemimpin adat sangat tinggi. Selain itu, masyarakat adat sangat taat terhadap aturan adat meskipun peraturan tersebut tidak tertulis.

Masyarakat adat Citorek teletak di Citorek, Kecamatan Cibeber. Kawasan adat Citorek mempunyai 4 wilayah adat atau disebut empat kasepuhan, yaitu Citorek Timur, Citorek Barat, Citorek Tengah, dan Citorek Selatan. Keempat Citorek ini masing-masing dipimpin oleh kepala kasepuhan.

Tradisi menjaga aturan leluhur membuat lingkungan di wilayah adat Citorek sangat terjaga. Penanaman padi di Citorek memiki aturan tertentu. Seperti halnya pada masyarakat adat Cisungsang, masyarakat adat Citorek juga memiliki tradisi Seren Taun sebagai bentu rasa syukur pasca panen.

Sistem pemerintahan mayarakat adat Citorek juga tidak jauh berbeda dengan di Cisungsang. Masyarakat ada Citorek menganut kepemimpinan tiga unsur, yaitu negara (lura/jaro), karhuhun (kasepuhan/kaolotan), dan agama (penghulu). Ketiga unsur penentu aturan di Desa Citorek ini membentuk sistem sosial yang menjunjung peninggalan leluhur dan senantiasa selalu mengedepankan kelestarian lingkungan.

Beberapa aturan membuat wilayah adat Citorek senantiasa terjaga. Misalnya tentang leuwung kolot, istilah itu merupakan bahasa Sunda untuk hutan tua atau bisa disebut hutan lindungan. Leuweung kolot ini tidak boleh digarap karena dipercaya telah dipesankan turun temurun dari leluhur. Hal tersebut diketuhui untuk melindungi mata air di bagian hulu agar pemukiman dan lahan-lahan pertanian tidak mengalami kekeringan. Masih banyak hal yang dapat menjadi pelajaran masyarakat lain yang sudah tergerus kemoderan. Jika Anda ingin belajar kearifan lokal masyarakat Banten, salah satu tempat yang bisa dikunjungi adalah wilayah adat Citorek ini.

 

BACA JUGA:

  1. Selain Suku Baduy, Ada Masyarakat Adat Cisungsang di Banten
  2. Sebelum ke Baduy, Yuk Mampir di Situ Palayangan
  3. Koja Tas Ramah Lingkungan dari Suku Baduy
  4. Wisatawan Dilarang Masuk ke Baduy Dalam, Ada Apa?
  5. Angklung Buhun Pusaka Identitas Masyarakat Baduy


Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH