Mengenal Difteri, Infeksi yang Diam-Diam Bisa Mengancam Nyawa Ilustrasi. (Foto:pixabay)

DIFTERI adalah infeksi bakteri yang merusak selaput lendir hidung dan tenggorok. Penyakit ini menyebar melalui partikel udara saat batuk atau bersin, serta lewat kontak kulit dengan barang-barang pribadi yang terkontaminasi. Menyentuh luka yang terinfeksi bakteri penyebabnya juga dapat membuat Anda terekspos penyakit ini.

Difteri disebabkan bakteri Corynebacterium. Bakteri itu dapat menghasilkan racun yang merusak dan membunuh jaringan dalam tubuh, terutama selaput lendir tenggorok dan hidung. Selaput lendir yang mati kemudian menebal dan berubah warna menjadi keabuan.

Gejala umum yang biasanya mengikuti adalah radang tenggorokan dan serak, sulit bernapas dan menelan, hidung meler, ngiler berlebihan, demam menggigil, bicara melantur, dan batuk yang keras. Rentetan gejala itu disebabkan racun bakteri yang ikut terhanyut ke dalam aliran darah dan merusak jantung, ginjal, sistem saraf otak, serta jaringan tubuh sehat lainnya.

Pada awalnya difteri bisa tidak menampilkan gejala berarti. Itu sebabnya banyak orang yang sebenarnya sudah terinfeksi bisa tidak menyadari adanya penyakit ini.

Orang yang terinfeksi penyakit ini haruslah cepat-cepat diobati untuk mencegah risiko komplikasi fatal dan penyebaran bakteri. Diperkirakan, satu dari lima dan lansia di atas 40 tahun meninggal dunia akibat komplikasi difteri.

Beberapa komplikasi yang mungkin timbul, yakni gagal pernapasan, peradangan otot jantung (miokarditis), gagal jantung, hingga perdarahan dalam parah yang menyebabkan gagal ginjal.

Jika tidak ditangani dengan tepat, difteri dapat menyebabkan shock (kulit dingin memucat, keringat deras, dan jantung berdebar) yang berujung pada kematian.

Penyakit ini sangat menular. Itu sebabnya difteri lebih banyak ditemui di negara-negara berkembang, dengan angka imunisasi masih rendah.

Langkah pencegahan paling efektif untuk penyakit ini ialah dengan vaksin DPT. Vaksin itu meliputi difteri, tetanus, dan pertusis (batuk rejan). Vaksin DPT termasuk lima imunisasi wajib bagi anak-anak di Indonesia. Pemberian vaksin itu dilakukan lima kali pada saat anak berusia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, satu setengah tahun, dan lima tahun.

Vaksinasi DPT dapat melindungi anak dari difteri seumur hidup. Namun, anak-anak yang belum menerima vaksin DPT saat bayi bisa diberi vaksin Tdap pada usia 12 tahun. Orang yang sudah sembuh juga disarankan untuk menerima vaksin karena tetap memiliki risiko untuk kembali tertular penyakit yang sama.(*)



Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH