Mengenal Akira Nishino, Pelatih Konservatif dan Guru Baru Sepak Bola Thailand Pelatih Timnas Thailand Akira Nishino (@ThaiLeague)

TAK ada lagi nama Milovan Rajevac atau Sirisak Yodyardthai. Yang ada adalah nama baru: Akira Nishino. Orang Jepang itu adalah wajah baru di area teknis timnas Thailand. Kemahirannya kembali diuji saat anak asuhnya berlaga melawan Indonesia dalam lanjutan laga grup G Kualifikasi Piala Dunia 2022 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Selasa (10/9) malam WIB.

Federasi Sepak Bola Thailand (FAT) memang mengambil keputusan mengejutkan pada 17 Juli 2019 lalu. Mereka menunjuk pelatih berusia 64 tahun itu sebagai pelatih kepala timnas Thailand U-23 dan juga senior. FAT mendobrak tradisi Thailand yang tidak pernah dilatih pelatih asal Jepang.

Layaknya kebanyakan negara-negara di Asia Tenggara, Thailand juga lebih memercayai pelatih lokal. Alasannya bisa memahami bahasa dan kultur sepak bola setempat.

Pelatih Timnas Thailand Akira Nishino
Akira Nishino dan timnas Thailand

Pelatih asing yang melatih Thailand bisa 'dihitung dengan jari'. Peter Schnittger, Dettmar Cramer, Werner Bickelhaupt, Winfried Schafer, Burkhard Ziese (Jerman), Carlos Roberto (Brasil), Peter Withe, Bryan Robson (Inggris), dan Rajevac (Serbia), merupakan beberapa contoh pelatih asing yang melatih Thailand.

Ditunjuknya Nishino sebagai pelatih dari U-21 hingga senior memperlihatkan rencana jangka panjang FAT. Artinya, pelatih kelahiran Saitama, 7 April 1955, diberi waktu untuk menanamkan filosofinya di Thailand.

Baca Juga:

Tekanan Lebih Sedikit, Simon McMenemy Sebut Mentalitas Timnas Indonesia Sudah Membaik

Timnas Thailand Tak Alami Masalah dalam Adaptasi di Indonesia

Chanathip Songkrasin: Timnas Indonesia Lawan yang Tidak Mudah di Hadapan Suporternya

Nishino baru bua bulan melatih. Dia belum sepenuhnya menanamkan gagasan sepak bola yang dimilikinya kepada Siwarak Tedsungnoen dan kawan-kawan. Itu bisa dilihat kala mereka ditahan imbang tanpa gol oleh Vietnam di laga pertama grup G dan laga dilangsungkan di Thailand.

Salah satu pemain senior dalam skuat Thailand, Chanathip Songkrasin, memahami kesulitan yang dialami Thailand dalam proses adaptasinya dengan gagasan bermain Akira Nishino.

"Pelatih Jepang dikenal karena kedisiplinannya. Tapi, dia (Nishino) punya waktu terbatas untuk bekerja dengan tim dan kami masih butuh waktu untuk belajar (mengenal) satu sama lain," ucap Chanathip.

"Saya senang bekerja dengannya. Dia punya teknik (melatih) modern dan fokus dengan kerja sama tim," lanjut pemain yang bermain di klub Jepang, Hokkaido Consadole Sapporo.

Pelatih Timnas Indonesia Simon McMenemy juga memahami proses adaptasi Thailand di era Nishino. Kendati demikian, Simon sama sekali tidak berpikir 'mudah' mengalahkan Thailand setelah Indonesia kalah 2-3 dari Malaysia.

Pelatih Timnas Indonesia Simon McMenemy
Simon McMenemy (Foto: BolaSkor.com/Hadi Febriansyah)

"Thailand masih transisi di bawah pelatih baru seperti saat melawan Vietnam, tetapi tetap berbahaya pemainnya. Masih ada Chanathip. Ada pula Supachok (Sarachat). Kita tonton pertandingan dia bersama Buriram (United)," ucap Simon di situs resmi PSSI.

Menilik catatan head to head kedua tim, Thailand dan Indonesia sudah bertemu 67 kali sejak 1957 dengan catatan 25 kemenangan dan 38 kekalahan untuk Indonesia. Dalam dua laga terakhir Indonesia kalah. Wajar jika Simon mewaspadai Thailand, negara kuat di level sepak bola Asia Tenggara.

Satu hal pasti, Nishino tidak akan meminta anak-anak asuhnya untuk bertahan dan mengandalkan serangan balik di SUGBK. Nishino, menurut John Duerden dalam tulisannya di ESPN, pelatih yang konservatif seperti Jose Mourinho, namun keduanya punya pandangan yang berbeda akan sepak bola.

Akira Nishino dan Filosofi Sepak Bola Jepang

Jose Mourinho konservatif dengan keyakinannya akan hasil adalah segalanya. Tidak peduli dengan cara main timnya, The Special One akan memprioritaskan hasil akhir, tak peduli meski itu dengan cara bermain bertahan, mengandalkan serangan balik, dan 'mengharamkan' sepak bola ofensif.

Mourinho melawan opini publik soal sepak bola yang seharusnya menghibur dengan permainan ofensif. Itu konservatif ala The Special One. Nishino berbeda lagi.

Baca Juga:

Prediksi Timnas Indonesia Vs Thailand: Adu Ngotot Demi Poin Perdana

Latar belakang karakter dan kedisiplinan ala Negeri Sakura menempel erat di benak pikiran Nishino. Dia kukuh bertahan dengan filosofi sepak bola Jepang yang identik dengan: permainan ofensif, operan bola pendek dari kaki ke kaki, dan lincah dalam pergerakannya.

Timnas Jepang pernah dibawanya ke-16 besar Piala Dunia 2018. Kendati kalah 2-3, Jepang membuat Belgia 'keringat dingin' melalui kegigihan dan kecerdasan bermain mereka.

Jepang unggul 2-0 terlebih dahulu via gol Genki Haraguchi dan Takashi Inui, sebelum Belgia memanfaatkan keunggulan postur tubuh dan berbalik menang 3-2 via gol Jan Vertonghen, Marouane Fellaini, dan Nacer Chadli.

Akira Nishino
Akira Nishino di tahun 1996

Meski kalah, pecinta sepak bola dunia memberi apresiasi tinggi kepada perjuangan Jepang dan cara mereka bermain. Nishino langsung mengubah permainan Jepang dalam kurun waktu dua bulan setelah menggantikan pelatih asal Bosnia Herzegovina, Vahid Halilhodzic.

Nishino juga sosok yang memimpin tim Jepang memenangi laga melawan Brasil - yang berisikan Ronaldo, Roberto Carlos - dengan skor 1-0 di Olimpiade 1996. Kemenangan ini dinamakan dengan istilah "Miracle of Miami" di Jepang atau "Keajaiban di Miami".

Baca Juga:

Tak Mau Kecolongan, PSSI Perketat Keamanan Jelang Indonesia Vs Thailand

Di level klub, Nishino menjadikan Gamba Osaka sebagai kekuatan yang mengerikan di Asia pada medio 2002-2011. Klimaks dari masa kepelatihannya di sana terjadi ketika mempersembahkan titel Liga Champions Asia pada 2008.

Di tahun yang sama, Nishino beradu taktik dengan Sir Alex Ferguson, manajer Manchester United, di ajang Piala Dunia Antarklub. Tim asuhan Nishino kalah 3-5 dari Man United - yang masih diperkuat Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney - di fase semifinal. Gamba kalah namun cukup menyulitkan Red Devils.

Seluruh pengalaman itu menjadikannya salah satu pelatih top di Asia. Melawan Nishino di SUGBK, kemudian di laga tandang, seharusnya bisa jadi pengalaman berharga bagi Simon McMenemy dan Timnas Indonesia.

Indonesia dan Thailand, dua negara yang memulai segalanya dari titik nol di era pelatih baru, akan berusaha meraih tiga poin setelah tampil mengecewakan di laga pertama grup Kualifikasi Piala Dunia 2022.

Nishino dengan gagasan bermain yang jelas dan McMenemy dengan variasi taktik yang dimilikinya. Momentum Thailand atau Indonesia akan dimulai di SUGBK. (Arief Hadi/Bolaskor)


Tags Artikel Ini

Thomas Kukuh

LAINNYA DARI MERAH PUTIH