Mengapa Olimpiade Tokyo Tidak Membuat Jepang Bergegas Vaksinasi? Lambatnya proses vaksin mengkhawatirkan bagi Olimpiade Tokyo (Foto: insidethegames.biz)

DENGAN pertandingan Olimpiade yang akan dimulai di Tokyo pada bulan Juli, Jepang memiliki banyak alasan untuk bergerak cepat menyetujui vaksin COVID-19 dan memulai inokulasi atau penyuntikan vaksin. Namun, negara itu baru mulai menginokulasi penduduknya yang berjumlah 126 juta orang dengan suntikan Pfizer-BioNTech minggu lalu, lebih dari dua bulan setelah vaksin itu diluncurkan di negara-negara besar lainnya, termasuk Amerika Serikat dan Inggris.

Di Jepang, hanya sekitar 18.000 dosis yang telah diberikan, menurut pemerintah setempat. Beban kasus Jepang tidak setinggi AS atau Inggris, tetapi dalam beberapa bulan terakhir sistem kesehatan di sana telah kewalahan oleh gelombang infeksi terburuk sejak pandemi dimulai tahun lalu. Ratusan kasus baru masih dilaporkan setiap hari. Dan Perdana Menteri Yoshihide Suga berada di bawah tekanan untuk mengurangi infeksi sebelum Jepang menyambut dunia untuk Olimpiade Musim Panas.

Baca juga:

Orangtua Abai akan Anak, ini 4 Dampak Fatalnya

Seperti AS, Jepang menggunakan vaksin Pfizer-BioNTech sebagai bagian dari programnya. Namun regulator Jepang membutuhkan dua bulan lagi untuk menyetujui penggunaannya. Pemerintah mengatakan pihaknya sengaja berhati-hati. Setelah serangkaian skandal vaksin yang berlangsung selama 50 tahun terakhir di Jepang. Negara ini memang memiliki salah satu tingkat kepercayaan vaksin terendah di dunia, jadi memenangkan hati publik yang skeptis sangatlah penting.

Keputusan untuk bergerak lambat dalam vaksinasi COVID-19 ini telah dikritik oleh beberapa profesional medis, termasuk Dr. Kenji Shibuya, seorang profesor di King's College di London, yang mengatakan penundaan peluncuran vaksi dan kurangnya strategi vaksinasi pada akhirnya akan menelan korban jiwa di Jepang.

Proses Persetujuan Cermat

Penolakan Olimpiade Tokyo dinyatakan oleh 58% penduduk Jepang (Foto: japantimes.co.jp)
Penolakan Olimpiade Tokyo dinyatakan oleh 58% penduduk Jepang (Foto: japantimes.co.jp)

Pfizer-BioNTech melakukan uji klinis fase 3 ekstensif dari vaksin mereka selama beberapa bulan akhir tahun lalu di sekitar 150 lokasi uji klinis di AS, Jerman, Turki, Afrika Selatan, Brasil, dan Argentina. Pada 19 November, perusahaan mengumumkan vaksin menunjukkan kemanjuran 95% dalam mencegah infeksi COVID-19.

Dua minggu kemudian, Inggris menjadi negara Barat pertama yang menyetujui vaksin untuk penggunaan darurat, diikuti oleh AS pada 11 Desember. Pada 31 Desember, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyetujui vaksin Pfizer-BioNTech untuk penggunaan darurat. Persetujuan Jepang datang enam minggu kemudian, pada 14 Februari, setelah tes dalam negeri yang lebih kecil dari 160 peserta menunjukkan hasil yang konsisten dengan uji coba internasional.

Menurut standar Jepang, persetujuan tersebut terhitung cepat, biasanya prosesnya dapat berlangsung dari satu hingga dua tahun. Tetapi para kritikus mengatakan penundaan itu menghabiskan waktu yang berharga bagi pemerintah. "Dengan ukuran sampel 160 orang, itu tidak memberi Anda bukti ilmiah apa pun tentang keefektifan atau keamanan (suatu vaksin)," kata Shibuya, dari King's College seperti diberitakan cnn.com (28/2).

Baca juga:

Tren Fesyen Masker, Tak Lagi Sekadar Kebutuhan Kesehatan

Taro Kono, menteri yang bertanggung jawab atas peluncuran vaksin virus korona Jepang, mengatakan uji klinis negara itu dilakukan untuk membangun kepercayaan publik terhadap program tersebut. "Saya pikir lebih penting bagi pemerintah Jepang untuk menunjukkan kepada orang-orang Jepang bahwa kami telah melakukan segala kemungkinan untuk membuktikan kemanjuran dan keamanan vaksin - untuk mendorong orang Jepang agar meminum vaksin tersebut. Pada akhirnya, kami mungkin memulai lebih lambat, tapi kami pikir itu akan lebih efektif," kata Kono.

Skandal dan Skeptisisme

 Proses vaksinasi COVID-19 di Jepang baru berlangsung minggu lalu (Foto: japantimes.co.jp)
Proses vaksinasi COVID-19 di Jepang baru berlangsung minggu lalu (Foto: japantimes.co.jp)

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal medis The Lancet yang memetakan kepercayaan vaksin di 149 negara antara 2015 dan 2019, kurang dari 30% orang di Jepang sangat setuju bahwa vaksin itu aman, penting, dan efektif - dibandingkan dengan 50% di AS.

Resistensi vaksin Jepang dimulai pada tahun 1970-an ketika dua bayi meninggal dalam waktu 24 jam setelah menerima vaksinasi gabungan difteri, tetanus, dan pertusis (batuk rejan). Vaksin untuk sementara ditangguhkan tetapi kepercayaan diri sudah goyah. Selama beberapa tahun, tingkat vaksinasi bayi turun, menyebabkan peningkatan kasus batuk rejan.

Pada akhir 1980-an, muncul ketakutan lain dengan diperkenalkannya vaksin campak, gondok, dan rubella (MMR) produksi Jepang. Versi awal vaksin dikaitkan dengan meningitis aseptik, atau pembengkakan selaput di sekitar otak dan sumsum tulang belakang. Masalah ini ditelusuri kembali ke komponen gondongan dari vaksin MMR, yang mengarah ke pengadilan dan pembayaran ganti rugi yang besar dan besar.

Jepang berencana mengamankan dosis vaksin untuk seluruh penduduk pada Juni (Foto: asia.nikkei.com)
Jepang berencana mengamankan dosis vaksin untuk seluruh penduduk pada Juni (asia.nikkei.com)

Kasus lain, National Institute of Health Science menghentikan suntikan gabungan pada tahun 1993 dan menggantinya dengan vaksin individu. Setelah skandal MMR, Shibuya mengatakan pemerintah Jepang menjadi "sadar risiko" dan program vaksinasi nasionalnya menjadi sukarela. Dr. Yuho Horikoshi, seorang ahli penyakit menular, mengatakan tuntutan hukum tersebut menyebabkan "kesenjangan vaksinasi", di mana tidak ada vaksin yang disetujui di Jepang selama sekitar 15 tahun.

Baru-baru ini, pada 2013, Jepang menambahkan vaksin human papillomavirus (HPV) ke dalam jadwal nasional untuk melindungi anak perempuan dari virus menular seksual, yang diketahui menyebabkan kanker serviks. Namun, video gadis-gadis yang diduga menderita reaksi merugikan mulai beredar di YouTube, membuat pemerintah menghapusnya dari jadwal nasional.

Resistensi Jepang terhadap vaksinasi menghadirkan masalah bagi pemerintah dalam hal peluncuran vaksin virus corona. Vaksinasi COVID-19 pertama di Jepang diberikan kepada 3,7 juta petugas kesehatan garis depan, dengan tujuan memvaksinasi lansia pada bulan April.

Menjelang Olimpiade, Shibuya mengatakan pemerintah perlu fokus untuk mengadvokasi kepada publik bahwa vaksin COVID-19 aman, penting, dan esensial. Dia mengatakan pemerintah juga harus berbuat lebih banyak untuk menekan virus. (aru)

Baca juga:

Cara Aman Menggunakan Toilet Umum

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Menggunakan Konsep Seksi, Gayoung Mantan Stellar Hidup dengan Traumanya
ShowBiz
Menggunakan Konsep Seksi, Gayoung Mantan Stellar Hidup dengan Traumanya

Gayoung menceritakan soal grupnya dulu yang menggunakan konsep seksi,

Akibat COVID-19, John Wick: Chapter 4 Ditunda Hingga Mei 2022
ShowBiz
Akibat COVID-19, John Wick: Chapter 4 Ditunda Hingga Mei 2022

Satu lagi, film yang banyak dinantikan moviegoers harus menunda perilisan akibat pandemi virus Corona.

Tokyo Disneyland dan DisneySea Akan Dibuka dengan Peraturan Baru
ShowBiz
Tokyo Disneyland dan DisneySea Akan Dibuka dengan Peraturan Baru

Disneyland Tokyo akan dibuka dengan protokol khusus

Punya Rumah Mungil, Hindari 7 Dekorasi Ini
Home Lifestyle
Punya Rumah Mungil, Hindari 7 Dekorasi Ini

Memiliki rumah kecil tidak berarti kamu menghentikan kreativitas dalam mendekorasi interior.

Akun Twitter Bill Gates, Elon Musk, Hingga Barack Obama Dibajak Hacker, Kok Bisa?
Fun
Makanan Menjadi Sumber Kontaminasi Virus Corona, Benarkah?
Hiburan & Gaya Hidup
Makanan Menjadi Sumber Kontaminasi Virus Corona, Benarkah?

Sangat sedikit bukti virus corona dapat dibawa dalam makanan.

Ryan Reynolds dan Rob McElhenney Beli Klub Sepak Bola Inggris
ShowBiz
Ingin Kulit Bercahaya? Lakukan 3 Rutinitas ini Setiap Pagi
Fun
Ingin Kulit Bercahaya? Lakukan 3 Rutinitas ini Setiap Pagi

Ada tiga rutinitas pagi untuk mewujudkan kulit terlihat bercahaya dan sehat secara alami.

Garmin Hadirkan 6 Jam Tangan Pintar Baru dengan Tenaga Surya
Fashion
Garmin Hadirkan 6 Jam Tangan Pintar Baru dengan Tenaga Surya

Garmin Hadirkan 6 Jam Tangan Pintar Baru dengan Tenaga Surya

WhatsApp Kedatangan Bot Pemberantas Hoaks Baru
Fun
WhatsApp Kedatangan Bot Pemberantas Hoaks Baru

WhatsApp Kedatangan Bot Pemberantas Hoaks Baru