Relasi
Mengapa Kita Begitu Terobsesi dengan Likes di Instagram? Baikah likes di postingan Instagram kita. (Foto: Unsplash/prateekkatyal)

SADAR tidak kalau kita dalam beberapa menit mengunggah foto baru. Kemudian setiap beberapa menit refresh feed Instagram untuk melihat jumlah likes postingan terbaru kita. Kalau likesnya tidak banyak, ada bagian dari diri kita yang merasa minder dan kecewa.

Seperti yang diungkapkan oleh Medium, bahwa kita menjadi sangat terobsesi dengan likes, followers, komen, dan segala hal yang berhubungan dengan mendapatkan perhatian di sosial media. Sangat terobsesi sehingga kita bisa jadi lupa dengan hal penting lain dalam kehiudpan kita.

Baca Juga:

Awas Tertipu, Kenali 'Catfishing' di Media Sosial

Kebutuhan pengakuan

likes
Setelah posting foto baru di Instagram kita cenderung langsung sering-sering refresh feed buat lihat berapa orang yang like foto kita. (Foto: Unsplash/kate_torline)

Wajar bagi akun online shop untuk terobsesi dengan likes. Tapi bagi kita yang hanya memiliki akun pribadi, kenapa sih kita sebegitu terobsesi dengan likes di Instagram?

Daria Kuss, profesor psikologi di Universitas Nottingham Trent di Inggris mengatakan kepada VICE bahwa sangat normal bagi seorang manusia untuk ingin dilihat, dimengerti, dan diakui.

Seperti seorang anak yang mendatangi orang tuanya untuk memamerkan sebuah proyek seni. Mereka mengharapkan diberi penghargaan atas pekerjaan yang telah dilakukan dengan baik, pada usia atau tahap kehidupan apa pun.

Kuss menambahkan bahwa mendapatkan sejumlah likes dan komentar yang baik, mengaktifkan pusat penghargaan otak, menimbulkan ledakan kebahagiaan singkat.

Seiring waktu, otak mengasosiasikan notifikasi media sosial dengan pengalaman yang menyenangkan, Ini menjelaskan mengapa kamu secara aktif mencari perasaan itu lagi. Sehingga menciptakan lingkaran: posting, tunggu reaksi, hadiah dan berulang lagi.

Walau normal, tidak sehat untuk terus menerus mendapatkan pujian, akuan untuk setiap selfie, setiap foto artistik, dan setiap kiriman lainnya.

“Mengetahui bahwa kamu mendapat afirmasi dan dukungan melalui platformmu adalah satu hal. Namun menjadi hal lain ketika kamu menjadi sangat bergantung pada validasi eksternal media sosial,” ungkap psikoterapis Marline Francois-Madden kepada VICE.

Baca Juga:

Lakukan 'Social Media Detox' Untuk Bantu Tingkatkan Kesehatan Mental

Stereotype

likes
Terkadang kita menjadi minder dengan diri kita yang sebenarnya karena persona palsu yang kita ciptakan di media sosial. (Foto: Unsplash/mdenkasyarif)

Melansir laman Medium, dalam masyarakat saat ini, orang percaya bahwa popularitas, kecantikan, dan harga diri mereka semua berasal dari jumlah likes pada selfie mereka.

Hal ini dapat sangat merusak harga diri seseorang karena standar yang tinggi sering kali hampir mustahil untuk dicapai. Terutama jika mereka membandingkan diri mereka dengan selebriti seperti keluarga Kardashian, Selena Gomez, atau Justin Bieber, dan lainnya.

Untuk anak-anak atau remaja yang depresi atau memiliki gangguan kecemasan. Medium menuliskan bahwa mereka kemudian mulai mengedit foto-foto mereka untuk menutupi masalah serius dan berpura-pura menjadi sempurna.

Selain itu, Medium menulis bahwa para remaja tersebut bisa jadi telah menciptakan persona online palsu dan mungkin akan merasa putus asa dan depresi ketika mereka fokus pada kesenjangan antara siapa mereka sebenarnya dengan persona palsu mereka.

Social media break

likes
Sering-sering lakukan social media break demi kesehatan mentalmu. (Foto: Unsplash/seteph)

Kalau kamu merasa sudah terobsesi dengan mendapatkan validasi dari sosial media, para psikolog menyarankan untuk coba melakukan social media break.

Medium menyarankan untuk setidaknya melakukan hal itu selama seminggu dan ulangi ini sebanyak mungkin. Terkadang kamu hanya perlu beristirahat untuk mendapatkan ruang pikiran yang tepat, dan memastikan bahwa kecanduanmu tidak menjadi terlalu drastis.

Marline Francois-Madden, psikoterapis yang dilansir dari VICE, mengatakan bahwa saat kamu melakukan social media break, cobalah temukan cara lain untuk mendapatkan validasi.

"Temukan cara untuk memvalidasi diri kamu sendiri secara internal sehingga kamu tidak selalu mencari validasi eksternal," jelas Francois-Madden. (lev)

Baca Juga:

Cara Move On Dari Kecanduan Media Sosial, Nomor 3 Solusi Terbaik!

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
COVID-19 Meluluhlantakkan Label Musik?
ShowBiz
COVID-19 Meluluhlantakkan Label Musik?

COVID-19 membuat industri musik mencari jalan untuk tetap bertahan.

Jaga Imun di Masa Pandemi dengan Konsumsi Vitamin C dari Buah dan Sayur
Fun
Jaga Imun di Masa Pandemi dengan Konsumsi Vitamin C dari Buah dan Sayur

Pastilah lebih aman karena sudah pasti alami tanpa efek samping.

PBB Longgarkan Penggunaan Ganja
Fun
PBB Longgarkan Penggunaan Ganja

PBB hapus ganja dari daftar substansi berbahaya.

Peringatan NASA: Asteroid Besar Sedang Mengarah ke Orbit Bumi
Fun
Peringatan NASA: Asteroid Besar Sedang Mengarah ke Orbit Bumi

Asteroid 2020ND berpotensi menimbulkan bahaya.

Warna Darah Menstruasi Jelaskan Kondisi Kesehatan
Fun
Warna Darah Menstruasi Jelaskan Kondisi Kesehatan

Perhatikan warna darah menstruasi.

Belajar Memotret dengan Sempurna di Kelas Fotografi Virtual Nikon
Fun
Belajar Memotret dengan Sempurna di Kelas Fotografi Virtual Nikon

Kelas virtual gratis ini mulai tersedia sejak 23 November sampai akhir tahun 2020.

New Balance KAWHI 'Four Bounces' akan Debut di NBA Playoffs
Fashion
New Balance KAWHI 'Four Bounces' akan Debut di NBA Playoffs

Desain sepatu basket dari New Balance ini terinspirasi dari aksi menakjubkan Kahwi Leonard.

Oscar 2021, Masih Terkangkangi COVID
ShowBiz
Oscar 2021, Masih Terkangkangi COVID

Oscar 2021 memang berbeda.

Pilihan Makanan yang Pas untuk Sahur
Fun
Pilihan Makanan yang Pas untuk Sahur

Bikin kenyang lebih lama.

Tips Aman Memakai Aplikasi Video Conference Zoom, Akun Email Kuncinya!
Fun
Tips Aman Memakai Aplikasi Video Conference Zoom, Akun Email Kuncinya!

Tips untuk Menghindari Peretasan yang diakukan hacker pada saat menggunakan Zoom.