Meneropong Humor Om Pasikom Om Pasikom. (Sumber: kompas.id)

FACHRY A Harim, seorang dosen di desa Barat, Suhon, Aceh Selatan, mengirim kritik terhadap gaya harian Kompas di surat pembacanya tertanggal, 20 November 1993.

Kompas, menurut Fachry 'kurang gaya' lantaran akhir-akhir ini tidak lagi memuat karikatur Om Pasikomnya GM Sudarta. Ia begitu rindu gelitik Si Om nan secara berkala mengeritik situasi sosial politik Indonesia.

Sang Dosen berani mengirim surat pembaca kepada Kompas lantaran kerinduannya tak sendirian. Ia secara iseng-iseng membuat semacam kuesioner pada sekitar 25 orang mahasiswanya.

"Kolom apa paling mengena bagi anda," tanya kuesinor, seperti termuat pada buku Rahman Arge bertajuk 200 Kolom Pilihan Permainan Kekuasaan.

Fachry kaget lantaran 92,50 persen menjawab tegas Om Pasikom!

GM Sudarta
Karikaturis Indonesia Gerardus Mayela Sudarta (GM Sudarta). (Sumber: Antara)

Di Kompas begitu banyak jenis kolom, mulai jenis berita, tajuk, ulasan, dan artikel berisi kasus-kasus sosial. Namun, menurut Raham Arge, dengan gaya-gaya mencekam sekonyong kita memang dibuat tertawa-tawa oleh gambar Om Pasikom dengan isi serupa.

"Kesegaran dalam canda ini perlu dijaga, dipelihara, dirawat, karena ia adalah modal kodrati bangsa ini," tulis Arge.

Om Pasikom hadir sejak 1967 di harian Kompas. Gerardus Mayela Sudarta mengores sesosok lelaki jenaka berjas tambalan, bertopi fedora, dan berparas kocak, bernama Om Pasikom.

"Mana lebih dulu hadir atau menonjol? Kekocakannya, humornya, atau kritik serta olok-oloknya?" tanya salah satu pendiri Kompas, Jacob Oetama pada Bersyukur dan Menggugat Diri.

Om Pasikom seolah seperti sisi berlainan GM Sudarta. Si Om meski jenaka namun pedas dan tajam mengeritik. Sementara Sudarta terkenal murah senyum dan menghindari konflik terbuka.

GM Sudarta, menurut kritikus seni rupa Agus Dermawan T pada Bukit-Bukit Perhatian, Dari Seniman Politik Lukisan Palsu Sampau Kosmologi Seni Bung Karno, biasanya lembut dan cuma menggerutu, di karikatur Kompas 22 Juli, tiba-tiba kuat berteriak.

om pasikom
Om Pasikom. (Sumber: kompas.id)

Tergambar Om Pasikom sedang ditanya anaknya tentang tidak pernah adanya tindakan tegas atas penjarahan. Dengan lantang Om Pasikom menjawab, "Survey membuktikan, 30 tahun lebih kita dijarah... dengan lancar dan aman..,".

Om Pasikom menjadi poros baru Editorial Cartoon atau Kartun Tajuk. Kehadiran goresan dan kritikan GM Sudarta sudah menyatu dengan napas Kompas.

"Bisakah Anda bayangkan Kompas tanpa karikatur Om Pasikom. Baca Kompas tanpa Om Pasikom, bagaikan makan dengan sayur tanpa garam. Kenyang sih kenyang, tapu hilang kenikmatannya," ungkap Jacob Oetomo, pada kata pengantar Buku Itu Pintu Kalbu, 33 Tulisan Tentang Andar Ismail. (*)


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho