Pesona Indonesia
Menengok Tarsius dan Yaki di Cagar Alam Tangkoko Cagar alam Tangkoko, rumah bagi tarsius dan yaki. (foto: Instagram @arwan_moehammad

TANAH Minahasa tak hanya punya Bunaken yang jadi rumah bagi berbagai jenis biota laut. Di Sulawesi Utara juga ada cagar alam belantara di Gunung Tangkoko yang menjadi rumah bagi yaki dan tarsius, dua satwa endemik dari Tanah Minahasa.

Yaki atau monyet wolai yang juga dikenal dengan sebutan monyet hitam sulawesi (Macaca nigra) merupakan satwa endemik Indonesia yang hanya ada di Sulawesi Utara. Di seluruh dunia, ada 23 spesies macaca. Tujuh spesies di antaranya ada di Indonesia, yakni di Sulawesi. Nah, Macaca nigra ini hanya ada di Sulawesi Utara. Satwa ini punya tubuh hitam dan memiliki rambut berbentuk jambul di atas kepalanya. Ciri khasnya, pantat berwarna merah muda.

monyet hitam sulawesi/yaki
Yaki, monyet hitam sulawesi dengan pantat berwarna pink. (foto: Instagram @ito_wodi)

Sementara itu, tarsius merupakan mamalia terkecil yang hidup tersebar di pulau-pulau di Asia Tenggara. Sulawesi Utara, tepatnya di Cagar Alam Tangkoko, spesies Tarsius tersier bisa kamu temui tengah bergelantung di rimbunnya belantara. Matanya yang bulat membelalak besar amat kontras dengan tubuhnya yang mungil. Lucu.

tarsius
Tarsius, mamalia terkecil sekepalan tangan. (foto: Instagram @virustraveling)

Bertemu kedua satwa unik endemik Tanah Minahasa tersebu pastilah meninggalkan kesan mendalam. Tak perlu jauh. Saat berkunjung ke Manado, kamu hanya perlu menempuh perjalanan selama 1 jam ke Cagar Alam Tangkoko Batu Angus yang terletak di Kecamatan Bitung Utara, Kota Bitung. Cagar alam ini berbatasan langsung dengan Cagar Alam Gunung Duasudara.

Untuk mencapai cagar alam d bawah kelolaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Utara ini memang butuh usaha. Kamu harus banyak bertanya arah kepada warga lokal mengingat petunjuk arah yang minim, sedangkan lokasi cagar alam tersembunyi.

Meskipun demikian, cagar alam ini telah banyak diketahui para peneliti dan penyuka wisata alam. Terlebih setelah kunjungan Alfred Russel Wallace pada 1861. Pada masa itu, Wallace menemukan spesies babirusa dan maleo. Sayangnya, koloni maleo tak lagi bisa ditemukan di Cagar Alam Tangkoko sejak 1915. Eksploitasi oleh penduduk setempat telah mengancam dan mendesak maleo ke pedalaman.

cagar alam tangkoko
Jangan ragu untuk bertanya dalam perjalanan menuju Cagar Alam Tangkoko. (foto: Instagram @virustraveling)

Saat berkunjung ke cagar alam ini, kamu akan menemukan berbagai flora dan fauna unik. Tak hanya yaki dan tarsius yang mendiami wilayah ini. Ada juga rusa (Cervus timorensis), musang cokelat (Macrogalidia musschenbroeki), tarsius (Tarsius spectrum), maleo (Macrocephalon maleo), rangkong (Rhyticeros cassidix), kuskus (Ailurops ursinus), dan elang laut (Haliaeetus leucogaster). Flora aneka rupa pun banyak tumbuh di sini. Kamu bisa menemui beringin (Ficus spp), aras (Duabanga moluccana), nantu (Palaquium obtusifolium), edelweis (Anaphalis javanicum), hingga kantong semar (Nephentes gynamphora).

cagar alam tangkoko-kuskus
Kuskus juga bisa ditemukan di Cagar Alam Tangkoko. (foto: Instagram @virustraveling)

Warga sekitar dengan senang hati akan mengantar kamu berkeliling sambil menjelaskan beberapa hal tentang cagar alam ini. Beberapa warga memang diperbantukan untuk menjaga cagar alam seklaigus menjadi pemandu bagi wisatawan. Hal itu dilakukan mengingat cagar alam dengan luas 3.196 hektare ini masih kekuarangan penjaga kawasan. Namun jangan khawatir, kamu tetap bisa berkunjung dan belajar tentang alam Minahasa dari warga sekitar kok.

Jadi jika berkunjung ke Tanah Minahasa, jangan lewatkan bertemu yaki dan tarsius di Cagar Alam Tangkoko ya.(dwi)

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Mandeh, Cita Rasa Asli Padang di JHL Solitaire
Kuliner
Mandeh, Cita Rasa Asli Padang di JHL Solitaire

Sensasi merasakan makanan khas Minang di hotel bintang lima.

Meski Perang Jawa Libur Selama Puasa, Siasat Melumpuhkan Diponegoro Justru Gencar Dilakukan (1)
Indonesiaku
Meski Perang Jawa Libur Selama Puasa, Siasat Melumpuhkan Diponegoro Justru Gencar Dilakukan (1)

Diponegoro mengaku beroleh petunjuk ilahi (wangsit) di suatu malam bulan Agustus 1829

5 Spot Wisata Keren Sekitar Malioboro
Travel
5 Spot Wisata Keren Sekitar Malioboro

Malioboro menjadi titik pusat destinasi wisata di Kota Yogyakarta.

Asyiknya Wisata Sepeda Keliling Kampung di Kota Yogyakarta
Travel
Asyiknya Wisata Sepeda Keliling Kampung di Kota Yogyakarta

Para wisatawan dapat menikmati keunikan suasana perkampungan di Yogyakarta yang sarat nilai budaya dan seni.

Ketika Laut Meninggalkan Nelayan Pulau Bangka
Tradisi
Ketika Laut Meninggalkan Nelayan Pulau Bangka

Nelayan memang menjadi salah satu yang terdampak, tetapi lebih dari itu, biota laut lah yang paling merasakan dampaknya

Museum Layang-layang, Kepedulian pada Budaya Bangsa
Travel
Museum Layang-layang, Kepedulian pada Budaya Bangsa

Di Museum Layang-Layang dapat melihat budaya layang-layang di Indonesia.

Mengunjungi Candi Prambanan dengan Protokol Kesehatan Covid-19
Travel
Mengunjungi Candi Prambanan dengan Protokol Kesehatan Covid-19

Wisatawan mengenakan masker saat melakukan swafoto di komplek wisata Candi Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta,

Celimpungan Hangat Khas Palembang
Indonesiaku
Celimpungan Hangat Khas Palembang

Cocok untuk hari dingin.

Menjajal Jembatan Gantung Terpanjang se-Asia Tenggara di Situ Gunung Sukabumi
Travel
Menjajal Jembatan Gantung Terpanjang se-Asia Tenggara di Situ Gunung Sukabumi

Pengunjung berjalan di atas jembatan gantung Situ Gunung di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Sukabumi, Jawa Barat

Tabuh Gamelan Sekaten Ditiadakan karena Pandemi COVID-19
Tradisi
Tabuh Gamelan Sekaten Ditiadakan karena Pandemi COVID-19

Keraton Kasepuhan Cirebon menunda dan meniadakan sejumlah tradisi yang biasanya digelar jelang dan saat Idul Fitri.