Menengok Persaingan Pemain e-Commerce Lokal dan Luar Negeri Persaingan e-Commerce dalam meraup untung. (Foto: Pixalbat/geralt)

TUMBUH suburnya perdagangan online atau e-commerce di Indonesia membuat para pebisnis berbondong-bondong memeluknya. Suasana e-commerce sesak. Hal ini berdampak pada persaingan ketat setiap pemilik saham untuk memajukan marketplus masing-masing.

Para pemain e-commerce baku strategi. Baik pemain e-commerce yang berasal dari luar negeri maupun pemain lokal saling baku geser. Akibatnya, triliunan uang mengalir ke e-commerce yang ada di Indonesia.

 Persaingan e-Commerce. (Pixalbay/geralt)
Persaingan e-Commerce kian meluas. (Foto: Pixalbay/geralt)

Sebagai contoh Lazada, pada pertengahan Maret lalu perusahaan ini mendapat guyuran dana sebesar Rp27 triliun dari Alibaba. Selain itu, kehadiran Lucy Peng yang merupakan salah satu dari delapan belas pendiri Alibaba kini menjabat sebagai CEO di Lazada.

Shopee yang juga notabennya sebagai pemain luar (Singapura) juga tak mau kalah. Melihat penetrasi mobile yang terus meningkat, mereka memanfaatkan peluang ini untuk meraih kue pasar. Dengan strategi ini Shopee berhasil meraih peringkat pertama ranking aplikasi mobile.

Tak mau kalah, para pemain lokal mencoba bagaimana strategi dalam mengambil potensi pasar mobile ini dioptimisasi sedemikian rupa. Mulai dari pengembangan aplikasi yang mudah digunakan dan kaya fitur, pengembangan tampilan dan user experience dalam mobile web, optimisasi search engine memudahkan untuk ditemukan dalam pencarian, dan lain-lain.

Saat ini, pemain lokal yang optimis mampu menggaet pasar mobile adalah Tokopedia, Bukalapak, dan Blibli. Mereka berhasil menyamakan diri dengan kompetitor luar seperti Shopee, Lazada, JD.ID, dan Zalora dari segi ranking aplikasi mobile.

Kredit : zaimul


Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH