Menengok Koleksi Mushaf Museum Bayt Alquran Museum Bayt Alquran dan Museum Istiqlal. (Merahputih.com/Noer Ardiansjah)

MUSEUM Bayt Alquran di kompleks Taman Mini Indonesia Indah (TMII) tak sekadar menyajikan Al Quran bersejarah, tapi juga mengoleksi ragam mushaf berbagai zaman. Mushaf berarti lembar-lembar terjilid menghimpun ayat-ayat suci Al Quran.

Masing-masing mushaf memiliki cerita tersendiri, misalnya mushaf Alquran terkecil se-Indonesia.

Mushaf Istanbul. (Merahputih.com/Noer Ardiansjah)

Pertama ada Mushaf Instanbul. Mushaf tersebut merupakan hibah dari Turki untuk Indonesia. Mushaf tersebut ditulis oleh Sayid Muhammad Abdul Latif asal Arab Saudi, yang diterbikan pada 1401 Hijriah atau sekitar tahun 1980-an.

Kemudian terdapat Mushaf Wonosobo, dapat dikatakan Alquran terbesar di Indonesia. Mushaf berukuran 2×3 meter dengan bobot 150 kilogram itu merupakan karya dari santri Pondok Pesantren Al-Asy'ariyah di Wonosobo, Jawa Tengah di tahun 1991-1993.

Mushaf Wonosoobo. (Merahputih.com/Noer Ardiansjah)

Selanjutnya ada salah satu Alquran tertua di dunia, diperkirakan diciptakan pada akhir abad ke-7 atau awal abad ke-2 Hijriah, sehingga tanpa tanda titik dan tanda baca. Mushaf ini diklaim sebagai satu dari tujuh salinan mushaf karya Utsman bin Affan.

Tak hanya itu, ada juga Alquran terindah di Indonesia yang disebut Mushaf Istiqlal. Dikatakan indah, karena Mushaf Istiqlal memiliki 40 macam keragaman hias yang diambil dari motif di tanah air. Agar mushaf terlihat indah dan detail, waktu pengerjaan Alquran Istiqlal pun juga terbilang lama, sampai 4 tahun.

Selain itu, mushaf terberat yaitu Mushaf Marmer yang menggunakan marmer jenis White Carrara. Jika dilihat sekilas, Mushaf Marmer seperti menyerupai manuskrip mushaf kuno. Serta juga tersedia mushaf tertebal yakni Mushaf Braille yang diterbitkan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama pada 2012-2013. (*)



Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH