Menengok Arus Islamisasi Tiongkok-Nusantara Patung Cheng Ho di areal Sam Poo Kong. (Foto: Rizki Fitrianto/MP)

PRESIDEN ketiga Republik Indonesia pada 2013 silam pernah berceramah di Masjid Lautze menyinggung tentang hubungan keagamaan Indonesia dan Tiongkok. “Hadiah terbesar bangsa Tiongkok ke Indonesia adalah agama Islam,” kata Habibie. Setali tiga uang, mantan Ketua Umum PP Muhamadiyah Din Syamsuddin juga pernah mengetengahkan hal serupa. “Dalam sejarah Islam, Islam dekat sekali dengan bangsa Tionghoa,” kata Din Syamsuddin.

Meski begitu, hingga kini di Indonesia masih ada saja pihak-pihak secara terus-menerus membenturkan Islam dengan Tionghoa, terlebih selepas muncul video pidato mantan Gubernur Jakarta Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama di Kepulauan Seribu. Reaksi keras berdatangan. Demo mengutuk Ahok menista agama pun digelar berjilid-jilid di ibukota.

Padahal, jika mau menelusuri sejarah, Islam justru bisa dan berhasil membaur dengan pemikiran Khonghucu. Tengok saja magnum opus cendekiawan-cendekiawan Tiongkok-muslim berpengaruh sejak masa kedinastian Tiongkok, semisal Penjelasan tentang Islam (Zhengjiao Zhenquan), Ajaran Agung Islam (Qingzhen Daxue), Filsafat Islam (Tianfang Xingli), dan Prinsip-prinsip Islam (Tianfang Dianli) karya Wang Daiyu dan Liu Zhi.

Kita perlu mengakui, laiknya Wali Songo di Jawa, Islam bisa hadir di Tiongkok tanpa banyak benturan fisik dan peperangan, tak lain karena para pemikir dan penyebarnya tidak pongah untuk menyelaraskan Islam (hui) dengan tradisi Konfusian (ru), nan sudah ribuan warsa lebih dahulu mengakar di masyarakat Tiongkok. Terlebih, orang-orang Tiongkok-muslim –atau kemudian dikenal dengan sebutan muslim-Konfusian (huiru)–juga mempunyai peran terhadap menyebarnya Islam di Indonesia.

Islam Tiongkok

Jauh sebelum Islam berkembang pada abad ke-7, Tiongkok telah menjadi kekuatan utama dunia, terutama pada aspek perniagaannya. Tiongkok mencatat, pada abad ke-5, armada dagangnya sudah berlayar sampai ke Teluk Persia. Diakui pula oleh Marzuqi al-Isfahani dalam Kit?b al-Azminah wa al-Amkanah, saat zaman Jahiliyah, pedagang dari Tiongkok berkumpul di Bandar Daba, sebuah kawasan di pesisir Oman.

Memasuki tahun 651, Khalifah Utsman mengirim empat utusan pimpinan Sa‘ad ibn Abi Waqqas ke Tiongkok. Mereka bertemu dengan Gaozong, kaisar ketiga dinasti Tang. Dua di antaranya wafat di Quanzhou. Pusaranya dikenal dengan sebutan “sheng mu” alias makam suci. Sa‘ad diyakini sebagai pendiri Masjid Huai Sheng (Merindukan Nabi) di Guangzhou.

Belakangan, selain dijadikan permulaan hubungan resmi Arab dan Tiongkok, dianggap pula sebagai awal masuknya Islam ke Negeri Panda. Sekalipun, Nabi Muhammad sendiri pernah mengutus delegasi ke Tiongkok pada 618-626 sebagaimana dinyatakan sejarawan dinasti Song, He Qiaoyuan, dalam Sejarah Hokkien (Min Shu).

Selama setengah abad (651-800), kedatangan utusan Arab ke Tiongkok semakin masif. Terhitung ada 34 kali. Rinciannya, 17 delegasi pada zaman Kekhalifahan Umayyah dan 15 delegasi pada era Kekhalifahan Abbasiyah. Ketika masa Umayyah, perdagangan ke Tiongkok dilakukan melalui darat. Jalan itu kemudian diblokade karena terjadi Perang Turk (Tujue Zhanzheng) sepanjang 620-657. Jalur laut pun menjadi alternatif.

Sejak masa Abbasiyyah pimpinan Al-Mansur (754-775), ibu kota dipindah ke Baghdad, notabene daerah pesisir. Mulai saat itu, banyak saudagar muslim dari Arab menetap dan menikah dengan orang Tiongkok. Mereka bersama anak pinaknya bermukim di wilayah pinggir pantai, seperti Guangzhou dan Quanzhou. Itulah cikal-bakal Hui, suku penganut Islam terbesar dan terluas persebarannya di Tiongkok.

Selepas dinasti Tang, Islam makin maju. Apalagi selama periode pemerintahan suku Mongol dinasti Yuan, posisi muslim ditinggikan. Saat Kubilai Khan bertakhta, Tiongkok terbagi menjadi 12 distrik dikepalai gubernur. Ahli tarikh Islam-Mongol Rashid al-Din Tabib dalam kitab J?mi‘ al-taw?r?kh menyatakan, 8 di antara 12 gubernur merupakan seorang muslim. Wakil gubernur juga dipangku muslim di 4 distrik sisanya. Yang masyhur terutama gubernur pertama Provinsi Yunnan Sayyid Ajjal Shams al-Din Omar (1211-1279), kemudian dilanjutkan Nasr al-Din, anaknya, sampai 1292.

Populasi muslim terus meninggi sehingga muncul istilah “Yuan shi huihui biantianxia” (era dinasti Yuan, Hui bertebaran di mana-mana). Bahkan, menurut Donald Daniel Leslie dalam makalah "The Integration of Religious Minorities in China: The Case of Chinese Muslims", Pangeran Ananda (cucu Khubilai penakluk Kerajaan Tangut di Gansu, Ningxia, dan Sichuan) juga memeluk Islam.

Dinasti Ming lebih menarik lagi. Profesor Zhang Zhihua dalam buku Intisari Budaya Islam di Cina (Zhongguo Yisilan Wenhua Yaolüe, 2010) menyebut, setelah melakukan penelitian terhadap beberapa agama, kaisar ke-11 dinasti Ming, Zhu Houzhao, memutuskan menganut Islam dan menamai dirinya Majidillah.

Islam di Indonesia

Dengan berganti menggunakan jalur maritim, para pedagang muslim dari Arab menuju Tiongkok harus melalui Selat Malaka. Demikian pula saudagar muslim dari Tiongkok akan ke Arab. Jika bertepatan dengan pergantian angin musim, mereka singgah di wilayah membelah Pulau Sumatra dan Semenanjung Melayu itu.

Pada waktu bersamaan, hubungan Java Dwipa dengan Tiongkok telah terjalin sejak dinasti Han Timur (25-220) juga sedang mesra. Karena itu, ketika 878-884 meletus Pemberontakan Huangchao (Huangchao Qiyi), menelan banyak korban muslim di Guangzhou, tak sedikit lantas orang-orang Tiongkok melarikan diri bumi Nusantara, terutama ke Palembang. Demikian pula saat 1357-1366 pecah Perang Ispah (Yisibaxi Bingluan) antara kubu Sunni dan Syiah di Quanzhou.

Terlebih, sewaktu ekspedisi Laksamana Cheng Ho di masa dinasti Ming, abad ke-15. Ketika armada Cheng Ho sampai di Palembang pada 1407, atas laporan Shi Jinqing, saudagar Tionghoa setempat, pasukan Cheng Ho “membunuh lebih dari 5000 orang komplotan, membakar 10 kapal, menawan 7 kapal, dan merampas 2 stempel perunggu [lambang kekuasaan]” Chen Zuyi. Demikian Catatan Fakta Ming (Ming Shilu) mendokumentasikan.

Ma Huan, penerjemah Cheng Ho, dalam catatan perjalanan Mengarungi Pemandangan Indah di Seberang Samudra (Yingya Shenglan), menuding Chen Zuyi sebagai gembong bajak laut kejam “merompak barang-barang setiap kapal pendatang yang melintas.” Pasukan Cheng Ho seakan tak mau tahu bahwa Chen Zuyi dan Shi Jinqing adalah sama-sama pedagang Tiongkok nan enggan tunduk pada kebijakan “haijin” (pelarangan melaut untuk berdagang secara mandiri ke luar negeri) diterapkan dinasti Ming kepada semua pelaku ekonomi swasta negerinya. Serta, dibandingkan Shi Jinqing, bisnis Chen Zuyi di Palembang lebih pesat perkembangannya. Keduanya bersaing sengit.

Di satu sisi, kita musti mengesampingan kemungkinan adanya kepentingan pribadi Shi Jinqing. Berdasar riset Tan Yeok Seong terangkum dalam Admiral Zheng He & Southeast Asia (2005), dieditori oleh Leo Suryadinata, setelah pemberangusan kedigdayaan Chen Zuyi itu, dinasti Ming mengangkat Shi Jinqing sebagai pemimpin komunitas Tionghoa di Palembang –kemudian digantikan putrinya, Shi Erjie alias Nyai Pinatih, pasca-kematiannya. Lalu, Shi Erjie kaya raya itu, lantaran berseteru dengan saudaranya, pindah ke Gresik, menjadi syahbandar. Dialah pengasuh Sunan Giri kecil, Raden Paku, dan menyokong keuangan Giri Kedaton.

Selain itu, jika boleh merujuk buku kontroversial Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, terbit pertama kali pada 1968 itu, maka Wali Songo merupakan ulama beretnis Tionghoa. Hal ini bisa diketahui dari nama-nama mereka, seperti Sunan Bonang bernama asli Bong Ang, Sunan Kudus alias Ja‘far Shadiq, konon, bernama tulen Ja Tik Su.

Walakin, setidaknya bagi saya, keabsahannya masih perlu dielaborasi lebih lanjut. Homophonic translation bisa menjadi salah satu pisau analisis. Saya, nan sudah sewindu tinggal di Tiongkok, contohnya, juga diberi nama Tiongkok kendati saya bukan berdarah Tionghoa. Nama Presiden Jokowi pun, dalam literatur berbahasa Mandarin, ditrasliterasikan menjadi Zuo Kewei.

Amsal lain dan teramat penting untuk tidak diungkit, pada zaman dinasti Tang, ungkap Ma Tong dalam buku fenomenal Sejarah Singkat Sekte dan Sistem Tarekat Islam di Tiongkok (Zhongguo Yisilan Jiaopai yu Menhuan Zhidu Shilüe, 1983), Nabi Muhammad dikenal dengan “nama Mandarin” Mohemo. Asma ini, bisa dipastikan, adalah perubahan kata (verbastering) karena alih bahasa secara homofonik atas kata “Muhammad”. Sebab, kalau harus melafalkan sesuai kaidah makhraj bahasa Arab, lidah orang Tiongkok tentu akan sangat kesulitan.

Terlepas dari itu semua, ringkasnya begitulah salah satu trayek penyebaran Islam ke Nusantara, kala itu masih menganut animisme, Hindu, dan Buddha. Kita tidak patut menafikan sumbangsih Tionghoa atau juga Cheng Ho, meski secara tak langsung, di dalamnya. Friedrich Nietzsche dalam Zarathustra mengingatkan, “Wirf den Helden in diener Seele nicht weg!” Jangan menghilangkan pahlawan dalam jiwamu! (*)

Novi Basuki, mahasiswa program doktoral di Sun Yat-Sen University, Tiongkok.


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH