Menelusur Kenangan Sam Poo Kong, Membedah Mitos Laksamana Cheng Ho Salah satu pengunjung Sam Poo Kong memfoto patung Cheng Ho. (Foto: Rizki Fitrianto/MP)

PINTU bercat kuning besar bermahkota dua Naga hijau menggenggam papan nama bertulis "SAM POO KONG" tertutup rapat. Pengujung, termasuk tim merahputih.com, harus menyusuri tembok besar merah ke arah selatan, bersua loket, lantas membeli tiket, agar bisa mengunjungi beberapa bangunan dipercaya berkait Cheng Ho atau Zeng He di Jalan Simongan No 129, Kota Semarang, Jawa Tengah.

"Kalau tiket terusan Rp 25 ribu, Mas," kata seorang perempuan penjaga loket. Tiket masuk Sam Poo Kong sangat bervariasi. Di papan pengumuman terpampang besaran harga, mulai Rp 3 ribu untuk anak-anak dan dewasa sebesar Rp 5 ribu pengunjung lokal, sedangkan bagi turis asing anak-anak seharga Rp 5 ribu, dan Rp 10 ribu untuk dewasa. Bila akhir pekan dan libur nasional, harga tiket naik Rp 5 ribu bagi masing-masing kategori.

Seusai melintasi loket, para pengunjung langsung berhadapan dengan bangunan besar beratap berujung runcing (Ngang Shan). Bangunan megah tersebut menghadap tanah lapang dan sebangun patung Cheng Ho setinggi 10,7 meter.

sam poo kong
Pintu utama kelenteng Sam Poo Kong tertutup rapat. (Foto: Rizki Fitrianto/MP)

Tepat di belakang patung, disekat pagar dan kolam ikan, tersua beberapa bangunan sakral, tempat menyimpan pusaka. Pengunjung tak bisa sembarangan berkunjung. Selain harus memiliki tiket terusa juga harus seizin juru kunci masing-masing bangunan, semisal tempat pemujaan Dewa Bumi, Makam Kiai Juru Mudi, dan rantai kapal Cheng Ho.

"Dulu pernah ada pengunjung mbandel. Akhirnya kesurupan saat itu juga," kata Mujiono, juru kunci tempat pemujaan Dewa Bumi kepada merahputih.com. Mujiono melarang setiap pengunjung mengambil foto di bagian dalam tempat tersebut karena akan berakibat buruk terhadap pemotret.

Setali tiga uang, saat beralih mengujungi makam Kiai Juru Mudi, seorang pria paruh baya berpakaian hitam lagi-lagi menyarankan hal serupa kepada tiap pengunjung. Katiyo (73 tahun), juru kunci makam, menegaskan agar tetap menjaga adab di tempat sakral. Ia telah menjaga makam Ong Keng Hong, Juru Mudi, selama enam tahun, dan banyak menyaksikan hal-hal ganjil terjadi lantaran pengujung bertingkah serampangan.

sam poo kong
Pengunjung asal Mragen, Demak, Jawa Tengah, memperhatian tiap detil kapal tua Sam Poo Kong. (Foto: Rizki Fitrianto/MP)

Sam Poo Kong, menurutnya, menyimpan banyak pusaka bersejarah, salah satunya, Kiai Jangkar. Katiyo begitu bersemangat menerangkan tentang asal-usul jangkar sakral di samping makam Kiai Juru Mudi. "Usia Kiai Jangkar sudah ratusan tahun, salah satu harta peninggalan Cheng Ho saat singgah di Pulau Jawa," paparnya. Kisah tentang Jangkar CHeng Ho tersebut senantiasa dibagikan Katiyo, juga para generasi sebelumnya, kepada para pengunjung Sam Poo Kong.

Jangkar Eropa

Keyakinan Katiyo mengenai Jangkar dan persinggahan armada Cheng Ho di Semarang telah mengakar kuat di benak masyarakat. Prof. HM Hembing Wijayakusuma, pakar pengobatan tradisional, secara meyakinkan menyajikan cerita tutur tersebut sembari membubuhkan lukisan ilustrasi situasi armada Cheng Ho di Gedong Batu, Simongan, pada kata pengantar buku karya Prof. Kong Yuanzhi bertajuk Cheng Ho Muslim Tionghoa, Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara.

Sesampai di muka Pantai Utara Jawa, mendadak seorang juru mudinya bernama Wang Jihong (Ong Keng Hong) sakit keras. Cheng Ho, seturut Hembing, memerintahkan agar armadanya singgah di Pelabuhan Simongan (Mangkang).

sam poo kong
Guratan kisah Cheng Ho di salah satu dinding bangunan Sam Poo Kong. (Foto: Rizki Fitrianto/MP)

Saat mendarat, para awak Cheng Ho menemukan sebuah gua. Mereka menempati cerukan di lokasi bernama Gedong Batu untuk pemulihan Wang Jihong.

Selama singgah, lanjutnya, Cheng Ho selalu mengajarkan penduduk bagaimana cara bertani, beternak, dan perikanan. "Selain itu, ia juga mengajarkan penduduk setempat tentang ajaran Islam, berdakwah, dan bersembahyang berjamaah dengan Imam Hasan" tulis Hembing.

Sepuluh hari kemudian, Cheng Ho melanjutkan pelayaran menuju Tuban meninggalkan sepuluh awak kapal untuk menjaga Wang Jihong.

Persinggahan Cheng Ho berikut bukti peninggalan jangkar kapalnya, menurut penggiat sejarah Semarang sekaligus jurnalis Suara Merdeka, Rukardi Achmadi, secara historis sangat lemah lantaran tak ada catatan maupun dokumen sezaman mengenai persitiwa tersebut. "Lebih banyak cerita tutur saja. Cerita itu lalu terwarisi," kata Rukardi.

sam poo kong
Pintu masuk menuju ceruk tempat berdoa di salah satu bangunan Sam Poo Kong. (Foto: Rizki Fitrianto/MP)

Kiai Jangkar pun, lanjutnya, bahkan tidak membuktikan tentang pendaratan Cheng Ho di Semarang lantaran secara bentuk lebih mirip jangkar kapal-kapal Eropa. "Jangkar Tiongkok matanya tiga, kalau itu hanya dua," katanya. Rukardi meragukan klaim jangkar koleksi Sam Poo Kong berasal dari perahu Cheng Ho. Ia pernah berjumpa dan mewawancara seorang saksi mata penemuan dan pengakatan jangkar.

Saksi mata tersebut, menurut Rukardi, melihat pengangkatan jangkar di kali Semarang pada tahun 1940 saat tak sengaja melintas sepulang kerja.

Jangkar tersebut sempat disimpan di kelenteng See Hoo Kiong selama beberapa bulan, lantas berpindah tangan dan tiba-tiba beroleh klaim sebagai jangkar Cheng HO. Rukardi mengabadikan cerita tersebut pada sebuah artikel di Suara Merdeka dan salah satu bab pada bukunya bertajuk Remah Remah Kisah Semarang.

Meski secara historis lemah, menurut Rukardi, nama besar Cheng Ho dan kepercayaan masyarakat Semarang terhadap Sam Poo Kong memang tak bisa dipisahkan. Melalui berbagai ritual hingga perayaan kenangan terhadap sosok "Laksamana Muslim Tiongkok" terus berlangsung.

Nazar Oei Tji Sien

Tradisi menghormati sosok Cheng Ho telah berlangsung berabad silam. Masyarakat Tionghoa Semarang acap mendatangi lokasi di sekitar cerukan biasa disebut Gedong Batu, Simongan, untuk bersembahyang dan berdoa kepada leluhur.

Cheng Ho, menurut Jongkie Tio, sesepuh Tionghoa Semarang juga penulis buku Kota Semarang dalam Kenangan, menjadi sosok penting dan bertuah bagi tak hanya masyarakat Tionghoa, tapi juga orang Jawa da Arab, lantaran dipercaya beragama Islam.

sam poo kong
Salah satu panorama bangunan Sam Poo Kong. (Foto: Rizki Fitrianto/MP)

Tradisi berdoa dan bersembahyang orang-orang Tionghoa di Gedong Batu sempat terganjal beberapa masalah. Johannes, seorang tuan tanah berdarah Yahudi, menarik pajak kepada orang-orang Tionghoa saat melintasi dan bersembahyang di tanah miliknya.

Pajak tersebut sering naik hingga melonjak pada angka tertinggi 500 gulden. "Orang Tionghoa kala itu bukan hanya perkara membayar, tapi tidak bijak dan elok menghadap Dewa harus dikaitkan dengan sejumlah uang," kata Pak Jongkie.

Tak patah arang, masyarakat Tionghoa pun lantas membuat patung (Kim Sin) Cheng Ho untuk disembahyangkan di Gedong Batu lantas didharmkan di kelenteng Tay Kak Sie, Jalan Mlatiharjo.

sam poo kong
Salah satu gerbang Sam Poo Kong. (Foto: Rizki Fitrianto/MP)

Orang-orang Tionghoa tak lagi datang berbondong ke Gedong Batu, tapi cukup berdoa di Tay Kak Sie. Saban sekali setahun, Kim Sin tersebut akan diarak ke Gedong Batu untuk disembahyangkan. "Dari situ muncul perayaan Sam Poo Besar," ungkap Jongkie Tio.

Meski begitu, keinginan untuk tetap bersembahyang di Gedong Tua tak bisa luntur. Oie Tji Sien, ayah taipan Oei Tiong Ham, bernazar agar kelak beroleh rejeki akan membeli tanah Johannes.

Nazar Oei Tji Sien pun terkabul. Ia membebaskan lahan tersebut dari berbagai pajak dan mempersilahkan seluruh masyarakat bersembahyang di Gedong Batu, lokasi kini berdiri kelenteng Sam Poo Kong. (*) Noer Ardiansjah


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho