Menelisik Dunia Jawa-Perancis Novelis NH Dini Novelis NH Dini. (kinantikinasihbookstore)

"KEMATIAN tiba-tiba selalu membangkitkan berbagai ucapan," begitu Monique merespon kematian ayahanda Daniel pada novel La Barka karya novelis NH Dini.

Ucapan belasungkawa pun lalu-lalang. Bukan untuk Daniel lantaran sang ayah wafat, namun duka mendalam ditujukan pemerhati dunia sastra tanah air di akun media sosialnya kepada sang empunya karya; Nurhayati Sri Hardini atau tersohor disapa NH Dini.

"Semoga Ia beristirahat dengan damai," cicit sastrawan Goenawan Mohamad di akun twitter @gm_gm. Mas Goen beroleh keterangan novelis kelahiran Semarang 29 Februari 1939 tersebut berpulang akibat kecelakaan mobil.

NH Dini menghembuskan napas terakhir sekira 16.30 WIB, 4 Desember 2018, di RS Elizabeth Semarang, lantaran kecelakaan mobil di ruas jalan tol Tembalang km 10, Semarang. Kepergian novelis nan memulai debut di majalah Kisah tersebut begitu tiba-tiba.

novel nh dini
Karya-karya NH. Dini. (Foto: instagram@stylenseason.ig)

Pemerhati sastra seakan kembali diingatkan tentang misteri hari esok pada novel La Barka. Corak realisme La Barka, menurut Subagio Sastrowardoyo pada Pengarang Modern sebagai Manusia Perbatasan, merupakan simpulan pikiran pokok dari berbagai kejadian di masa lalu dan berkembang menuju hari depan nan tak pernah kita ketahui kesudahannya.

Dini memang piawai merekam kegelisahan, menggugah ketabuan, trauma, dan harapan perempuan tentang pernikahan dari sudut pandang seorang perempuan pada novel terbitan Dunia Pustaka Jaya tahun 1975 itu.

Ia acap mengetengahkan dunia perempuan pada karya-karyanya, baik cerpen maupun novel. Dini kali pertama menulis karya sastra ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (1951) bertajuk Pendurhaka, dimuat majalah Kisah. Ia giat menulis beragam cerita pendek dan sempat mendapat perhatian jurnalis cum sastrawan HB Jassin.

Ketika SMA, tepatnya tahun 1956, kumpulan cerita pendeknya lantas diterbitkan. Tak hanya cerpen, Dini pun menulis novel dan terjemahan, biografi, dan banyak artikel.

Dari beragam karyanya, penggubah karya Jepun Negerinya Hiroko tersebut beroleh beragam penghargaan; mulai dari Hadiah Seni untuk Sastra dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1989), Bhakti Upapradana (Bidang Sastra) dari pemerintah daerah Jawa Tengah (1991), SEA Write Award dari pemerintah Thailand (2003), Hadiah Francophonie (2008), dan Achmad Bakrie Award bidang Sastra (2011), serta Lifetime Achievement Awards Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2017.

nh dini
NH Dini. (Foto: instagram@littletalksubud)

Di dalam La Barka, sosok Rina digambarkan Dini sebagai orang Indonesia khususnya Jawa dengan kerumitan hubungan dengan suaminya, seorang insinyur asal Perancis. Pernikahan mereka berakhir. Rina pun bersama anaknya pergi ke Perancis untuk menuntut kebebasan dan lebih jauh memaknai ulang identitas tanah air.

Dini, sang penulis, memantik pembaca melihat sosok Rina sebagai perempuan utuh, tetap berselimut unggah-ungguh Jawa meski menetap di Perancis, dengan segala godaan untuk melepas segala kungkungan. Begitu pun Dini.

Usai mengakhiri karir sebagai pramugari Garuda Indonesia Airways, Dini dipersunting seorang diplomat Perancis, Yves Coffin pada 1960. Keduanya beroleh dua anak, masing-masing bernama Marie Claire Lintang dan Pierre Louis Padang.

Meski sempat berpaspor Perancis dan memiliki dua anak, mahligai rumah tangganya tak lagi bisa dipertahankan. Pernikahannya kandas pada 1984. Setahun setelahnya, Dini baru bisa mendapatkan kembali kewarganegaraan Indonesia. Tanah air tumpah darahnya.

Kegelisahan mengenai eksistensinya sebagai anak negeri sempat ia singgung di dalam karyanya. Paspor baginya bukan pertanda kecintaan seseorang terhadap negaranya. "Dengan berganti kertas administrasi berupa paspor, tidak berarti aku melupakan bahwa aku adalah orang Jawa, satu bagian dari bangsa Nusantara. Aku tetap mencintai tumpah darahku dan manusia Indonesia,” tulisnya pada novel Jepun Negerinya Hiroko. (*)

Kredit : nugroho

Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH