Mendur Bersaudara, Tokoh di Balik Perjuangan Pers Masa Penjajahan Foto Soekarno menjelang detik-detik proklamasi. (Foto: Frans Mendur)

Tepat di tanggal 3 Mei, dunia memperingati Hari Kebebasan Pers. Tahun ini, Indonesia mendapat kehormatan menjadi tuan rumah puncak perayaan Hari Kebebasan Pers Sedunia (World Press Freedom Day). Kegiatan yang berlangsung di JCC Senayan, Jakarta Pusat itu pun dibuka oleh Jusuf Kalla (Wapres RI) dan Irina Bokova (Dirjen UNESCO) sejak pukul 10.30 WIB tadi.

Bicara tentang kebebasan pers, Indonesia punya sejarahnya sendiri. BJ Habibie, Presiden RI ketiga, pada 23 September 1999 mengesahkan UU Pers No. 40 Tahun 1999, yang mencabut kewenangan pemerintah untuk menyensor dan memberedel pers. Namun jauh sebelum itu, pers nasional di zaman penjajahan Jepang mengalami masa-masa mencekam. Dokumentasi dan penyebaran foto menjadi aktivitas yang dapat membahayakan nyawa.

Lalu, berasal dari manakah foto-foto kemerdekaan yang kini bisa kita lihat kapan saja?

Presiden Soekarno saat Proklamasi Hari Kemerdekaan RI. (Frans Mendur)
Pembacaan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Presiden Soekarno, Jumat, 17 Agustus 1945, pukul 10.00, di Jakarta. (Foto: Frans Mendur)

Frans Mendur adalah sosok di balik foto-foto sejarah kemerdekaan RI tersebut. Pada Jumat pagi itu, upacara proklamasi kemerdekaan berlangsung sederhana, tanpa protokol. Hanya Mendur bersaudara (Alex dan Frans Mendur) yang hadir sebagai fotografer pengabadi peristiwa bersejarah itu.

Frans berhasil mengabadikan tiga foto dari tiga frame film yang tersisa. Foto pertama, Soekarno membaca teks proklamasi. Foto kedua, pengibaran bendera Merah Putih oleh Latief Hendraningrat, anggota Pembela Tanah Air (PETA). Foto ketiga, suasana upacara dan para pemuda yang menyaksikan pengibaran bendera.

Usai upacara, Mendur bersaudara bergegas meninggalkan kediaman Soekarno. Tentara Jepang pun memburu mereka. Alex Mendur tertangkap, lalu tentara Jepang menyita dan memusnahkan foto-foto yang baru saja diabadikannya. Adiknya, Frans Mendur, berhasil meloloskan diri dan mengubur negatif foto di halaman belakang kantor harian Asia Raya.

Meski negatif foto selamat, perjuangan mencuci-cetak foto pun tidak mudah. Mereka harus menyelinap dan meloloskan diri menuju sebuah lab foto. Risiko bagi Mendur bersaudara jika tertangkap tentara Jepang adalah penjara, bahkan hukuman mati.

Proklamasi kemerdekaan Indonesia akhirnya memang diberitakan di harian Asia Raya pada 18 Agustus 1945. Namun, pemberitaan hanya singkat dan tanpa foto, karena telah disensor Jepang. Foto-foto Frans baru dapat dipublikasikan pertama kali pada 20 Februari 1946 di halaman muka Harian Merdeka.

Tanpa Mendur bersaudara, kita tidak akan dapat menyaksikan tonggak penting sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Bersyukurlah bila saat ini pers sudah lebih bebas bersuara. Mari gunakan kebebasan jurnalistik ini secara terhormat. (Bing)

Baca pula info sejarah Indonesia lainnya di sini: Sejarah Kelam di Balik "Genjer-Genjer" sebagai Lagu PKI.



Kapten

LAINNYA DARI MERAH PUTIH