Mendidik Anak Ada Batasnya

Andreas PranataltaAndreas Pranatalta - Senin, 16 Oktober 2023
Mendidik Anak Ada Batasnya
Anak juga perlu kebebasan. (Foto: Unsplash/Kelly Sikkema)

MENDIDIK anak memang penting, tapi tetap perlu ada aturan dan batasannya. Jika sikap orang tua terlalu keras pada anak dalam penerapan disiplin, hal ini bisa memberikan pengaruh negatif terhadap kepribadiannya di kemudian hari.

Ketika orang tua mendidik terlalu keras, dampaknya pada anak adalah cenderung menjadi pribadi yang terlalu khawatir, tidak percaya diri, berperilaku agresif atau malu dekat orang lain, susah bersosialisasi, dan sulit mengendalikan diri. Bahkan, risikonya justru dapat menyudutkan anak untuk terpaksa berbohong demi menghindari hukuman.

Dilansir Psychology Today, penulis dan mantan jurnalis New York Times, Andree Aelion Brooks mengatakan anak kerap mengalami stres karena banyaknya jadwal yang diberikan orang tua. Mulai dari ekstrakurikuler, kegiatan rohani, pramuka, hingga les musik. Dalam riset yang dilakukan untuk bukunya berjudul Children of Fast-Track Parents, ia mewawancarai 80 profesional kesehatan mental, 60 orang tua, dan 100 anak.

Baca juga:

'Five Nights at Freddy's' Berbahaya untuk Anak

Mendidik Anak juga Ada Batasnya
Berikan perlindungan terhadap anak. (Foto: Unsplash/Vika Strawberrika)


Brooks menyimpulkan bahwa mengekspos anak-anak ke kegiatan ekstrakurikuler terlalu dini belum tentu merupakan ide yang baik. Beberapa anak jadi tidak maksimal karena banyaknya tanggung jawab yang harus mereka lakukan.

"Anak-anak kelas menengah di AS terlalu banyak jadwal, sehingga mereka hampir tidak punya waktu. Mereka tidak punya waktu untuk menggunakan sumber daya mereka sendiri dan menjadi kreatif," kata Psikolog perkembangan dan klinis sekaligus profesor di The Wright Institute, Diane Ehrensaft, Ph.D.

Di sisi lain, pakar pendidikan anak usia dini, Peggy Patten, setuju dan mencatat bahwa anak-anak saat ini memiliki banyak kesempatan luar biasa, tetapi membutuhkan waktu untuk mengeksplorasi berbagai hal secara mendalam. Ketika mereka terlibat dalam banyak hal yang berbeda, itu akan memperlambat prosesnya.

Baca Juga:

PlayStation Showcase Digelar Hari ini, Segudang Update Game Menanti

Mendidik Anak juga Ada Batasnya
Berikan ruang untuk anak agar dapat mengekspresikan diri mereka. (Foto: Unsplash/Annie Spratt)


Menurut salah satu pelopor dalam penelitian mengenai stres, Hans Selye, mengatakan bahwa stres dalam jumlah sedang sebenarnya baik untuk kita. Ia menggambarkan dua jenis stres, yakni eustress dan distress.

Eustress adalah stres menyenangkan yang kita rasakan ketika menghadapi tantangan hidup yang normal. Seorang anak yang menyukai sepak bola misalnya, dapat berkembang dengan baik pada tekanan yang terkait dengan latihan dan permainan. Distress, di sisi lain, terjadi ketika kita merasa kewalahan. Anak yang menyukai sepak bola akan merasa kewalahan jika terlibat dalam empat atau lima kegiatan lainnya.

Anak-anak juga membutuhkan waktu senggang dengan orang tua, waktu untuk bersantai, bermain game, atau sekadar hang out bersama teman-teman. Kegiatan semacam ini akan meningkatkan kesadaran diri mereka dengan apa yang benar-benar mereka minati. Sebagai orang tua, kamu juga bisa meminta bantuan psikolog untuk mendapatkan tips mendidik anak sesuai karakternya. (and)

Baca Juga:

Game Marvel Bakal Rilis di Playstation 5 Sampai 2023

#Parenting
Bagikan
Ditulis Oleh

Andreas Pranatalta

Stop rushing things and take a moment to appreciate how far you've come.
Bagikan