Menatap Layar Smartphone Berisiko Menurunkan Daya Pikir Anak Jangan buat anak-anak sering di depan gawai. (Foto : Voyagerix)

PERKEMBANGAN teknologi membuat siapapun nyaris tak bisa hidup tanpa teknologi. Separuh dari waktunya mulai dari bangun tidur hingga mau tidur selalu menatap layar telepon pintarnya. Rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktunya 5,5 jam perhari untuk melihat ponsel pintar. Padahal kebiasaan tersebut memiliki efek serius bagi kesehatan terutama bagi anak-anak.

1. Anak-anak mengalami penipisan korteks

Kebiasaan Main Gadget
Bahaya Main Gadget (Foto: Trusted Review)

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Amerika disebutkan bahwa layar mempengaruhi otak anak. Penelitian yang melibatkan 11.000 anak selama satu dekade tersebut memantau bagaimana layar digital seperti telepon pintar, video game, hingga tablet mengubah otak mereka. Dari hasil analisis yang dilakukan menemukan fakta bahwa anak-anak yang menghabiskan waktu lebih dari tujuh jam perhari menatap layar mengalami penurunan fungsi kognitif. "Mereka mengalami penipisan korteks terlalu dini," ujar salah satu ilmuwan yang terlibat dalam penelitian tersebut, dokter Gaya Dowling.

2. Menghabiskan waktu 2 jam di depan layar ponsel menghilangkan kemampuan bahasa

Bahaya Layar Gadget
Dampingi Anak Saat Main Gadget (Foto: Malwarebytes Labs)

Studi tersebut juga menemukan fakta bahwa anak-anak yang menghabiskan waktu 2 jam menatap layar memiliki kemampuan bahasa yang sangat rendah. Hal tersebut dibuktikan dengan rendahnya hasil tes IQ dan tes bahasa yang rendah. Menurut Dimitri Christakis, penulis American Academy of Pediatrics, efek tersebut muncul karena anak-anak tidak tahu cara menerjemahkan keterampilan dua dimensi di layar ke keterampilan tiga dimensi di dunia nyata.

3. Membatasi video call

kids
Perseringlah komunikasi tatap muka dengan anak-anak. (Foto: Pexels/Pixabay)

"Jika anak biasa main lego virtual yang notabene-nya adalah dua dimensi, lalu memberikan lego di dunia nyata, mereka akan kesulitan saat menumpuknya," jelas Christakis. Ia menyarankan agar balita dijauhkan dari layar semaksimal mungkin. Itu perlu dilakukan supaya dapat meminimalisir efek layar yang berbahaya. American Academy of Pediatrics menekankan pentingnya komunikasi tatap muka. Mereka menyarankan para orang tua untuk membatasi waktu video call pada balita usia 18 hingga 24 bulan. Selain itu, para orang tua harus menemani si kecil saat mereka menggunakan telepon pintar. Hal tersebut supaya anak tahu batasan. (avia)

Kredit : iftinavia


Iftinavia Pradinantia

LAINNYA DARI MERAH PUTIH