Menapaki Jejak Sejarah Kampung Tua Cikambangan Depok Masjid Jublegan (Riyadus Solihin) di Kampung Cikambangan, Depok. (Foto: Merahputih.com/Noer Ardiansjah)

SUARA gemercik air dan deru aliran sungai Ciliwung menyabut merahputih.com setiba di rumah berpagar kayu tepat di pintu masuk Kampung Cikambangan, Kalimulya, Kecamatan Cilodong, Depok, Jawa Barat. Siliran angin dari balik rimbunan pohon sempat membuat kepala H Medan, empunya kediaman, sesekali terantuk. Ketiduran.

Ia kembali segar begitu ditanya seputar sejarah kampung Cikambangan. "Depok itu dulu memang disebut 'tempat jin buang anak', karena memang sagat sepi sekali," kata sesepuh Cikambangan ketika mengingat kembali suasana kampugnya pada masa Pendudukan Jepang, 1942-1945.

Kampung Cikambangan dan Kebon Duren, seturut kakek berusia 80 tahun tersebut, hanya terdapat 18 rumah dan jaraknya berjauhan. Saat masih kecil, lanjutnya, sang kakek kerap mengajaknya berjalan-jalan menunjukkan peninggalan Kerajaan Muara Beres, seperti Jembatan Kuning berusia lebih dari 200 tahun, sumur air busuk penyubur rambut, dan cadas putih tempat pemandian sang raja, serta Masjid Riyadus Solihin.

Jembatan Kuning yang diduga dibangun oleh Belanda. (Foto: Merahputih.com/Noer Ardiansjah)

Tempat-tempat itu kerap dijadikan sebagai lokasi kunjungan para pejuang asal Betawi menimba ilmu kanuragan. Mereka, kata H Medan, belajar bela diri untuk membela tanah air dari penjajahan Jepang. Salah satu yang pernah belajar bela diri dan agama di tempat itu adalah Si Pitung.

"Ya, waktu saya kecil banyak jawara yang datang untuk menimba ilmu. Apalagi di Cadas Putih dan di Masjid Jublegan (Riyadus Solihin). Yang saya tahu dulu ada petapa keturunan Raja Siliwangi yang mengajarkan ilmu bela diri dan syiar agama di sini. Makanya ini kampung tertua yang menjadi cikal bakal Depok seperti sekarang,” paparnya.

Tak hanya itu, Jembatan Kuning yang dibangun Belanda itu kerap dijadikan warga sebagai alat transportasi warga menuju Jakarta. "Pada saat itu, tempat ini belum memiliki transportasi air. Sehinggga warga harus berjalan cukup jauh. Bahan pembangunan jembatan ini terbuat dari baja asli buatan Belanda," pungkasnya.

Misteri Air Busuk

Seiring perjalanan waktu, masih kata H Medan, Kampung Cikambangan ini mulai dikenal masyarakat. Terkenalnya nama kampung ini tak lain dari sumur berbau busuk yang airnya bisa menyuburkan dan menumbuhkan rambut botak dengan cepat. Konon, keberadaan sumur itu terjadi dari bekas tongkat salah satu Wali Songo.

Kepercayaan warga akan mujarabnya air bau busuk itu sudah menyebar ke sejumlah daerah di luar Jawa. Awal penemuan sumur di pinggir Sungai Ciliwung terjadi pada tahun 1948.

Saat itu, kakek dari H Medan melihat seorang perempuan mandi di sumber air itu. Setelah itu, air berubah menjadi busuk dan beraroma tak sedap. Selidik punya selidik, akhirnya warga digegerkan dengan penemuan satu aliran air yang mengalir dari sebuah batu putih di sekitar sungai.

Setelah ditelusuri, ternyata memang air tersebut memiliki bau busuk. Salah satu warga yang penasaran mencoba melihat ke sana. Namun, justru yang terjadi warga tersebut sakit. Saat diobati, kata Medan, warga yang kerasukan itu mengungkapkan jika air itu sangat bertuah untuk menyuburkan rambut dan menghilangkan gatal-gatal.

Seorang warga tengah menghidu bau air misterius. (Foto: Merahputih.com/Noer Ardiansjah)

"Memang itu sudah dibuktikan banyak warga. Siapa pun yang mandi dan keramas di sumur itu pasti memiliki rambut yang subur dan lebat. Sampai sekarang pun banyak warga yang mengambil air itu untuk pengobatan rambut dan gatal-gatal," jelasnya.

Hingga saat ini, lanjut Medan, warga Bekasi, Pulau Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi berdatangan melihat kemujaraban air itu. Bahkan, pada pemerintahan Presiden Soeharto, lokasi itu sempat dipotret lewat udara dan dijadikan lokasi wisata di Jawa Barat. (*)



Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH