Menanti Kerja Tim Teknis Polri Kasus Novel, Pasukan Elit atau Pisau Tumpul? Teatrikal penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan saat melakukan aksi damai di halaman gedung KPK, Jakarta, Selasa (20/9). (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

MerahPutih.com - Teror penyiraman air keras penyidik senior KPK Novel Baswedan tak kunjung tuntas. Tim Teknis Polri yang dibentuk sebulan lalu itu belum mampu mengungkap siapa dalang teror yang berlangsung 2017 silam. Padahal, anggotanya melibatkan puluhan penyidik berpengalaman dan dipimpin langsung Kabareskrim Komjen Idham Azis.

Pembentukan Tim Teknis Polri ini memang sempat diragukan banyak kalangan. Beberapa orang dekat Novel menganggap tim bentukan Kapolri Jenderal Tito Karnavian itu diprediksi hanya akan mengulangi kegagalan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang sebelumnya dibentuk. Bukannya mengungkap pelaku penyerangan, TGPF yang didominasi akademisi malah mengeluarkan hasil temuan yang menyudutkan Novel.

Baca Juga: Tim Teknis Pengusutan Kasus Novel Pelajari Laporan Setebal 2.700 Halaman

"Tidak ada hal yang signifikan dari temuan satgas. Anehnya justru terkesan menyudutkan Novel karena dugaan teror ke Novel dipicu dendam akibat penggunaan wewenang berlebih," kata Anggota Tim Advokasi Novel Baswedan, Alghifari, belum lama ini.

Kasus Novel Baswedan
Tim Pencari Fakta (TPF) Novel Baswedan bentukan Polri saat mengumumkan hasil temuan mereka. (Foto: MP/Kanu)

Alghifari menyoroti hasil temuan TGPF yang lebih detail menyoroti kasus-kasus korupsi yang ditangani Novel, tetapi malah tidak fokus ke fakta-fakta terkait kasus teror yang dialaminya.

"(Temuan TGPF Polri) Ini menunjukan bahwa tim satgas Polri telah mencoba membangun opini yang spekulatif, tanpa adanya bukti yang mencukupi," kritik pendamping Novel itu.

Operasi Senyap atau Jalan di Tempat?

Kasus Novel Baswedan
Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan (tengah). (ANTARA FOTO/Reno Esnir)

Merujuk itu, wajar kiranya rekan-rekan Novel tidak berharap banyak terhadap tim baru bentukan Kapolri karena sampai saat ini belum ada temuan penting yang diumumkan ke publik. Meski demikian, Pengamat Intelijen dan Keamanan Stanislaus Riyanta mencoba memberikan alternatif sudut pandang terkait kinerja Tim Teknis.

Baca Juga: Rocky Gerung: Pembentukan Tim Teknis Kasus Novel Kedunguan Membongkar Konspirasi

Stanislaus mengingatkan publik tidak perlu mempermasalahkan berapa lama waktu kerja Tim Teknis, asalkan bisa menangkap dalang utama pelaku teror. Terkait belum ada informasi terbaru kinerja tim, dia melihatkan tidak lepas dari metode kerja senyap. Malah, kata dia, kalau perkembangannya terlalu diungkap ke publik akan menimbulkan tekanan bagi penyidik.

"Kan ini yang penting tertangkap seperti pelaku utama. Kejadian ini kan sulit karena subuh, CCTV juga sulit. Banyak faktor yang menyulitkan minimnya fakta fakta," kata pakar Intelijen itu.

Baca Juga: Seluruh Polisi Terbaik di Indonesia Dikerahkan Buru Penyerang Novel

Pengajar Universitas Indonesia (UI) juga mengingatkan belum lagi potensi nuansa politik dan keruwetan lainnya di belakang kasus teror Novel ini yang membuatnya semakin sulit untuk diungkap.

"Mungkin karena novel kerja di KPK dan ada kasus kasus yang belum tertangani. Kasus ini rumit karena ada motif politik," kata Stanislaus, saat dihubungi MerahPutih.com, Kamis (22/8).

Baca Juga: Tiga Orang Pelaku Diduga Ingin Menyiksa Novel Masuk Radar Tim Khusus Polri

Apalagi, Stanislaus melihat teror yang dialami Novel dilakukan orang-orang yang sangat terlatih dan penuh perencanaan. "Memang orang itu terlatih maka akan semakin sulit terungkap. Kemungkinan orangnya profesional dan motif nonkriminal," tandas dia.

Tertutupnya kepolisian memang terlihat dari sikap Karopenmas Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo enggan membeberkan perkembangan terkini tim teknis kasus Novel. "Ya kita tunggu saja. Masyarakat sabar saja. Nanti kalau terungkap dan ada perkembangan, pasti akan kami beri tahu," jawab dia, saat dikonfirmasi media.

Pasukan Elit atau Pisau Tumpul?

Penyidik KPK Novel Baswedan
Penyidik Senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. (Foto: merahputih.com/Ponco Sulaksono)

Untuk diketahui, Kapolri Jenderal Tito Karnavian memberikan waktu Tim Teknis untuk mengungkap kasus teror Novel selama enam bulan atau tiga bulan lebih lama dari waktu yang diminta Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Fokus utama melakukan analisa Tempat Kejadian Perkara (TKP), sesuai dengan teori pembuktian sebuah peristiwa pidana. Olah TKP yang baik dengan didukung peralatan dan proses ilmiah akan meningkatkan kemungkinan pengungkapan sebuah kasus menjadi antara 60 hingga 70 persen.

Baca Juga: Melihat Langkah-Langkah yang Akan Dilakukan Tim Teknis Pengungkapan Kasus Novel

Tim juga akan kembali mendalami puluhan kamera tersembunyi atau CCTV yang berada di sekitar TKP. Mereka juga mendalami serta menganalisa sketsa wajah terduga pelaku yang telah ada untuk mempertajam arah penyidikan.

Dalam proses pendalaman dan analisa ini, Tim Teknis menggandeng Direktorat Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil Kementerian Dalam Negeri (Ditjen Dukcapil Kemendagri) untuk mencocokan identitas terduga pelaku yang telah didapatkan Tim Teknis nantinya.

Skuat Tim Teknis terdiri dari tim interogator, tim surveillance, tim penggalangan, tim Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis), hingga Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri. Ketua tim sekaligus Kabareskrim Idham Azis membagi tim untuk mendalami enam kasus high profile yang ditangani Novel dan diduga terkait dengan aksi penyerangan berdasarkan temuan TGPF sebelumnya.

Kasus KPK Novel Baswedan
Tim Densus 88 Anti Teror - ANTARA/Mohammad Ayudha

Meski terdiri dari pasukan elit kepolisian, praktisi hukum sekaligus pengacara Novel, Saor Siagian menilai Tim Teknis itu hanya akan kembali menjadi pisau tumpul dan gagal memecahkan misteri kasus teror yang menimpa sahabatnya itu. Menurut dia, lebih baik sejak awal kasus ini ditangani Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Independen yang dibentuk langsung Presiden.

Baca Juga: Tito Bentuk Tim Teknis Kasus Novel Beda dengan Perintah Awal, Ini Reaksi Jokowi

Saking ragunya, Saor malah meminta tim melempar handuk putih dari awal, ketimbang sampai habis tenggat waktu 6 bulan belum juga berhasil menangkap pelaku dan dalang di balik teror air keras yang dialami Novel. "Jika memang ada kendala dalam tim teknis ini, bilang saja. Supaya ada TGPF independen dibentuk oleh Presiden," tutup sahabat Novel itu. (Knu)

Baca Juga: 6 Kasus Diduga Jadi Pemicu Penyerangan ke Novel Baswedan


Tags Artikel Ini

Wisnu Cipto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH