Menangis Sebelum Berangkat Mengebom Gereja Petugas pemadam kebakaran melakukan pembasahan di lokasi ledakan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5). (ANTARA FOTO/Moch Asim)

MerahPutih.com - Banyak pihak yang terkejut atas pengungkapan identitas pelaku pengeboman tiga gereja di Surabaya Minggu (13/5) lalu. Pelaku ternyata merupakan satu keluarga yang tercatat dalam satu kartu keluarga (KK). Mereka adalah keluarga Dita Oeprianto, warga jalan Wisma Indah Blok J/22, Wonorejo, Rungkut. Minggu sore setelah kejadian rumah tersebut pun didatangi Densus 88.

Saat didatangi, rumah berwarna bata merah tersebut dalam keadaan kosong. Polisi lantas menyisir mencari barang bukti. Ternyata di sana tim aparat menemukan enam bom berbentuk pipa yang masih aktif yang dikemas dalam tiga kantong plastik.

Bom itu diletaknya di salah satu kamar rumah berwarna merah bata itu. Tak berselang lama, tim Densus 88 pun meledakkan bom di lokasi.

Selain itu, Densus 88 menemukan styrofoam yang digunakan untuk mengemas bom. Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Kapolrestabes Surabaya Kombespol Rudi Setiawan styrofoam itu sama dengan yang ditemukan di lokasi bom di Gereja Jalan Arjuno.

gereja
Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudy Setiawan (kanan) menghimbau warga untuk menjauh dari sekitar lokasi ledakan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5). ANTARA FOTO/Moch Asim

Beberapa bahan kimia juga ditemukan di rumah itu. Di antaranya, aseton, belerang, Hcl, H2O, Aquades, dan korek kayu. ”Itulah yang digunakan pelaku untuk membuat bom TATP,” katanya Rudi seperti dilansir JPNN.com. Jenis bom itulah yang digunakan Dita dan pelaku lain untuk meledakkan tiga gereja.

Polisi membawa beberapa barang bukti lain. Yakni, buku dan dokumen berupa surat. Rudi menambahkan, kondisi rumah cukup berantakan. Dita sejak 2001 tinggal di rumah tersebut.

Menurut keterangan tetangga, di rumah tersbut Dita tinggal bersama seorang istri bernama Puji Kuswati, dan empat anak. Dua di antaranya adalah Yusuf Fadhil, 18; dan Firman Halim, 16. Sedangkan dua lainnya adalah perempuan yang masih berusia Fadhila 8 tahun dan Famela 12 tahun.

Di lingkungan sekitar dia dikenal santun. Saban hari rutin beribadah di musala yang berada di sisi utara kompleks. ”Tidak ada yang curiga, penampilannya pun seperti biasa,” ujar Punjung Sulistio, tetangga Dita.

Empat anak Dita masih sekolah. Anak pertama seorang laki-laki yang duduk di bangku SMA, anak kedua laki-laki yang duduk di bangku SMP, anak ketiga perempuan kelas V SD, dan anak terakhir perempuan kelas II SD.

”Yang saya tahu, anak kelas V SD panggilannya Lala dan anak terakhir kelas II SD panggilannya Ita. Kalau sore masih sering main di halaman,” ujar Punjung yang terakhir bertemu Dita pada Sabtu (12/5).

Sehari-hari Dita dan istrinya bekerja sebagai penyuplai obat-obatan herbal. Soal kedatangan tamu asing ke sana, Punjung menyatakan bahwa mereka memang sering menerima tamu. ”Kalau menerima tamu, lebih sering di teras terbuka. Soal pengajian atau kumpulan di rumahnya juga tidak pernah ada,” ujar warga yang tinggal di sana sejak 2000 itu.

Berdasarkan penuturan warga, subuh sebelum berangkat melakukan pengeboman, keluarga ini menjalankan salat subuh bersama di musala. Ketua RT Khorihan mengungkapkan bahwa mahgrib sehari sebelum pengeboman, Firman Halim, anak kedua Dita sempat nangis-nangis usai salat. "Dia terus dirangkul, dicium, di'puk-puk'," kata Khorihan seperti dilansir Kumparan.

Wali Kota Tri Rismaharini saat mengunjungi Gereja Santa Maria Tak Bercela. (ANTARA FOTO)

Dari rumahnya di Wonorejo, keluarga itu berpisah dengan dua kendaraan. Awalnya, mobil Avanza yang dinaiki Dita bersama sang istri Puji Kuswati dan dua anaknya yang paling kecil, berusia 8 dan 12 tahun.

Sementara itu, kendaraan satu lagi adalah sepeda motor yang dikendarai anak pertamanya, Yusuf Fadhil, 18; dan Firman Halim, 16 langsung mengarah ke Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB) di Ngagel.

Dita mengendarai mobil Toyota Avanza hitam bersama Puji, Fadhila, dan Famela. Mereka menyusuri Jalan Diponegoro. Dita lantas menurunkan anak dan istrinya di dekat GKI jalan Diponegoro. Sedangkan Dita melanjutkan perjalanan ke Gereja di Jalan Arjuno.

Tak lam kemudian terjadilah pengeboman yang hampir bersamaan di tiga gereja di Surabaya. (*)



Thomas Kukuh

LAINNYA DARI MERAH PUTIH