Menangi Pemilu, Erdogan Klaim Turki Berikan Pelajaran Demokrasi kepada Dunia Presiden Turki Tayyip Erdogan, memberikan hak suaranya didampingi kedua cucunya di tempat pemungutan suara di Istanbul, Turki (ANTARA FOTO/REUTERS/Umit Bektas)

MerahPutih.Com - Presiden Turki sekaligus pemimpin Partai AKP Recep Tayyip Erdogan berhasil memenangi Pemilu yang berlangsung Minggu (24/6) kemarin.

Dalam pernyataan pertamanya setelah perhitungan resmi, Erdogan menyatakan bahwa negaranya telah memberikan pelajaran demokrasi kepada dunia. Selain itu, orang kuat Turki tersebut mengklaim tingkat partisipasi warga begitu tinggi dalam pemilihan presiden dan parlemen.

"Turki telah memberikan pelajaran berharga kepada dunia dengan tingkat partisipasi pemilu yang hampir 90 persen," kata Erdogan di Istanbul, Senin (25/6) dini hari.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan
Presiden Turki Reccep Tayyip Erdogan (Foto: xinhua)

Dia menyerukan kepada semua orang untuk melupakan semua perseteruan saat kampanye untuk fokus pada masa depan negara Turki.

"Bangsa kami telah memberikan amanah kepada saya untuk meneruskan kepresidenan dan wewenang eksekutif," kata Erdogan kepada para wartawan di Istanbul, dengan mengutip hasil sementara yang akan membuat dia menjadi pemimpin Turki pertama yang memperoleh kewenangan besar baru sesuai hasil referendum 2017.

Erdogan juga mengatakan bahwa koalisi antara partai AKP dan partai nasionalis MHP telah berhasil mendapatkan mayoritas kursi di perlamen.

Menurut hasil sementara yang tidak resmi berdasar pada 98,11 persen suara yang masuk, Erdogan mendapatkan 52,52 persen suara.

Sementara itu koalisi AKP dan MHP juga menjadi mayoritas di parlemen dengan total suara sebesar 53,59 persen.

Tayyip Erdogan dan partai penguasa AKP mengaku memenangi pemilihan umum presiden dan parlemen Turki pada Minggu.

Pemimpin Oposisi Turki Muharrem Ince
Muharrem Ince, calon presiden oposisi utama Turki, Republican People's Party (CHP), menyapa pendukungnya dalam sebuah reli pemilihan di Istanbul, Turki (ANTARA FOTO/REUTERS/Osman Orsal)

Meski demikian, partai oposisi mengatakan masih terlalu dini untuk mengakui kekalahan dan berharap suara Erdogan tidak mencapai 50 persen agar terjadi pemungutan suara presiden putaran kedua pada 8 Juli mendatang.

"Rakyat telah mengamanatkan kepada kami untuk meneruskan kepresidenan dan pemerintahan eksekutif," kata Erdogan dalam pidato nasional yang pendek, saat suara masih dihitung.

"Saya berharap tidak ada orang yang menggugat hasil ini dan merusak demokrasi," kata dia.

Erdogan (64), yang merupakan penguasa paling populer dalam sejarah modern Turki, kemudian melambaikan tangannya dari atap sebuah bus di Istanbul di antara para pendukungnya.

Sebagaimana dilansir Antara dari Reuters, Presiden yang terpilih pada pemilu Minggu akan punya kewenangan yang lebih besar sesuai dengan hasil referendum 2017 lalu. Dalam konstitusi yang baru, Erdogan bisa menjadi presiden untuk dua kali masa jabatan sampai 2028.

Para pendukung partai oposisi Turki
Pendukung Muharrem Ince, calon presiden oposisi utama Turki, Republican People's Party (CHP), menghadiri reli pemilihan di Istanbul, Turki (ANTARA FOTO/REUTERS/Osman Orsal)

Sementara itu sekutu koalisi AKP, yaitu kubu nasionalis partai MHP secara mengejutkan berhasil merebut banyak suara sehingga koalisi Erdogan akan memiliki kursi mayoritas di parlemen.

"Ini bisa mempercepat reformasi," kata Wakil Perdana Menteri Turki, Mehmet Simsek, dalam akun Twitternya.

Di sisi lain, rival utama Erdogan, Muharrem Ince dari partai CHP meminta para pengawas pemilu untuk tetap bertahan di tempat pemungutan suara untuk memastikan tidak adanya kecurangan pemilu.

Dengan suara masuk sebesar 99 persen dalam pemilu presiden, Erdogan kini memiliki 52,5 persen suara, jauh meninggalkan Ince yang hanya mendapatkan 31 persen, demikian media setempat melaporkan.

Kelompok oposisi sekarang meragukan akurasi dan kehandalan angka hitung cepat yang disiarkan oleh kantor berita negara Anadolu. Lembaga pers ini adalah satu-satunya penyiar hasil hitungan resmi.

Pihak oposisi dan organisasi sipil telah menempatkan hampir setengah juta pengawas di tempat pemungutan suara. Mereka mengatakan bahwa tudingan kecurangan pada referendum 2017 semakin membuat banyak orang meragukan pemilu pada Minggu.(*)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Sejumlah Lembaga Islam Indonesia Hadiri Konferensi Islam Moderat di Irak



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH