5 Kesalahan Mengatur Keuangan yang Sering Dilakukan Millenials Ilustrasi generasi Millenials. Foto: Shutterstock

MerahPutih.com - Sejak kecil kita diminta oleh orang tua untuk menabung. Namun, di zaman milienials ini, menabung sangat sulit karena gaji masih pas-pasan.

Belum lagi, kebutuhan gaya hidup yang membuat pengeluaran semakin besar. Tidak heran bila riset yang dilakukan George Washington Global Financial Literacy Excellence Center terhadap 5500 millenials menunjukkan bahwa hanya 24 persen yang mengerti prinsip dasar keuangan.

Ilustrasi menabung. Foto: Pixabay

“Literasi keuangan memang tidak diajarkan di sekolah dan kampus jadi bukan bagian dari pendidikan keseharian kita. Sehingga ketika kita memasuki fase mulai membayar segala sesuatunya sendiri, kita tidak punya strategi yang tepat,” ujar Alexa von Tobel, pengarang buku Financially Fearless.

Berikut lima kesalahan yang sering dilakukan generasi millennials dalam mengelola keuangan:

1. Pengeluaran berlebihan untuk biaya sewa tempat tinggal

Adanya alasan efisiensi dan kenyamanan, membuat banyak millenials yang memilih tinggal sendiri dekat area kantornya. Tapi menurut studi yang diterbitkan Personality and Social Psychology Bulletin, kita cenderung melebih-lebihkan kebahagiaan yang kita dapat dari hal material. Jadi mengeluarkan lebih dari 30% pendapatan untuk menyewa tempat tinggal adalah suatu kesalahan yang seharusnya bisa dihindari.

Menurut Alexa Von Tobel, uang sewa tempat tinggal, belanja kebutuhan sehari-hari, bayar tagihan listrik, air dan transportasi harus masuk dalam 50% dari pendapatan. Jadi kalau kita tetap kekeuh memasukkan uang sewa apartemen atau kost sebesar, misalnya, 40% dari pendapatan, maka cari pos pengeluaran lain sejumlah 10% pendapatan yang harus dihilangkan. Seperti gym membership atau tv cable.

2. Tidak punya dana darurat Dana darurat adalah dana yang kita siapkan sebagai cadangan bila ada keperluan mendadak. Seperti jatuh sakit, membantu orangtua atau perusahaan tempat bekerja tutup beroperasi. Idealnya dana darurat merupakan 3-6 bulan biaya hidup yang dibutuhkan.

Ilustrasi menabung. Foto: Pixabay

Biaya hidup dihitung dari rata-rata uang yang dibutuhkan untuk keperluan makan, transportasi, belanja kebutuhan pokok, biaya sewa tempat tinggal, bayar utang atau tagihan rutin. Kita bisa mencicil dana darurat tiap bulan melalui 20% dari pendapatan kita. Misal, kita masukkan dalam pos Asuransi di digibank, yang harus ditransfer ke rekening dana darurat tiap bulan.

3. Utang kartu kredit yang berlebihan

Hampir semua orang pada dasarnya memiliki utang. Tapi utang kartu kredit adalah yang paling beracun karena tingginya bunga yang diberikan. Selain itu kalau kita sering over limit atau tidak tepat waktu membayar kartu kredit maka ini menjadi catatan yang kurang baik di masa depan bila ingin mengajukan kredit lain. Rencana KPR kita bisa tidak disetujui dan permohonan pinjam modal wirausaha mungkin gagal.

4. Berada dalam hubungan cinta yang menguras keuangan

Biaya gaya hidup tidak cuma dihabiskan sendirian, saat menjalin hubungan cinta, kita juga mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi bila pasangan tidak memiliki pendapatan sebesar kita. Namun kita harus waspada kalau ternyata setelah bersama sekian lama, tidak ada perkembangan signifikan dari pendapatannya. Kita terus yang mengeluarkan uang demi kepentingan bersama.

5. Tidak menabung untuk masa pension

Kita mungkin berpikir masa pensiun masih dua puluhan tahun lagi, jadi buat apa menyisihkan uang dari sekarang? Itu sebuah kesalahan besar. Justru kita harus mulai menyisihkan uang saat usia 25 tahun sehingga saat berumur 60 tahun kita sudah memiliki uang pensiun dua kali lipat lebih banyak dari mereka yang baru mulai menyisihkan uang pensiun di usia 35 tahun.

Melihat hal ini. Head of Digital Banking DBS Bank Indonesia, Leonardo Koesmanto, mengatakan bahwa kesalahan para minenial dalam pengelolaan keuangan dapat dimaklumi karena hal ini bukan sesuatu yang mudah bagi mereka karena laporan lengkap transaksi rekening harus diakses melalui desktop atau cetak buku tabungan

Ilustrasi menabung. Foto: Pixabay

"Bagi para millenials yang biasa melakukan segala sesuatu melalui ponsel, hal ini menjadi sangat menganggu. Tapi semua itu bisa diatasi dengan hadirnya cara baru beraktivitas perbankan berbasis digital seperti spending tracker berbasis virtual assistant dengan artificial intelligent bisa menjadi pilihan terbaik bagi para milenial dalam melakukan kegiatan perbankan,” kata Leo dalam keterangan tertulisnya di Jakarta. (*)

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Ujian SBMPTN di UNS, Peserta Tidak Bawa Surat Sehat Rapid Test Dilarang Masuk
Indonesia
Ujian SBMPTN di UNS, Peserta Tidak Bawa Surat Sehat Rapid Test Dilarang Masuk

Jumlah total peserta yang terdaftar di pusat UTBK di UNS pada tahun ini sebanyak 23.425 orang dari berbagai daerah.

Sidang Pinangki, Hakim Tegur Saksi yang Dihadirkan JPU
Indonesia
Sidang Pinangki, Hakim Tegur Saksi yang Dihadirkan JPU

Sebab berdasarkan data, tidak semua photo passport berhasil di scan di data perlintasan keimigrasian

Pakar Intelijen Desak Paslon Patuhi Larangan Kampanye Rapat Umum di Pilkada 2020
Indonesia
Pakar Intelijen Desak Paslon Patuhi Larangan Kampanye Rapat Umum di Pilkada 2020

Kampanye metode tersebut dan jenis pengerahan massa lainnya berpotensi menciptakan klaster COVID-19 yang membahayakan publik.

Asa Tau Samawa Jati Diri Rakyat Sumbawa
Tradisi
Asa Tau Samawa Jati Diri Rakyat Sumbawa

Dalam ekosistem pacuan, ada anak–anak tangguh yang sedari kecil disatukan jiwanya dengan kuda.

Gegara Corona, Polisi Dilarang Pergi ke Luar Kota bahkan Mudik Lebaran
Indonesia
Gegara Corona, Polisi Dilarang Pergi ke Luar Kota bahkan Mudik Lebaran

Surat telegram ini harus dipatuhi karena berlaku bagi semua anggota Polri juga PNS Polri.

DPR dan Serikat Buruh Bentuk "Tim Bersama" RUU Cipta Kerja
Indonesia
DPR dan Serikat Buruh Bentuk "Tim Bersama" RUU Cipta Kerja

Guspardi mengatakan, usulan dan masukan yang disampaikan masing-masing perwakilan Konfederasi serikat pekerja atau serikat buruh merupakan catatan penting bagi DPR.

Sebar Hoaks Corona, Mayoritas Pelaku Ngaku tak Puas dengan Pemerintahan Jokowi
Indonesia
Sebar Hoaks Corona, Mayoritas Pelaku Ngaku tak Puas dengan Pemerintahan Jokowi

Per Selasa (26/5) tercatat sebanyak 104 kasus ditangani Bareskrim dan polda-polda seluruh Tanah Air.

KRL Disebut Rawan Penularan Virus Corona, Begini Upaya Pencegahan KCI   
Indonesia
KRL Disebut Rawan Penularan Virus Corona, Begini Upaya Pencegahan KCI  

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus memetakan risiko potensi infeksi virus corona (Covid-19) via transportasi publik, utamanya kereta rel listrik (KRL).

Update Kasus Corona DKI Selasa (27/10): 102.678 Positif, 89.060 Sembuh
Indonesia
Update Kasus Corona DKI Selasa (27/10): 102.678 Positif, 89.060 Sembuh

"Adapun jumlah kasus aktif di Jakarta turun sebanyak 312 kasus, sehingga jumlah kasus aktif sampai hari ini sebanyak 11.423 (orang yang masih dirawat / isolasi)," kata Dwi

Ditambah Jayawijaya, Berikut Enam Besar Kasus COVID-19 di Papua
Indonesia
Ditambah Jayawijaya, Berikut Enam Besar Kasus COVID-19 di Papua

Secara keseluruhan jumlah positif COVID-19 di Papua tercatat 2.817 orang.