Mempertahankan Kaladama Khas Cirebon Timur Kaladama khas dari Cirebon Timur. (foto: MP/Mauritz)

KULINER kaladama sudah jadi kebanggaan masyarakat Cirebon Timur, khususnya wilayah Kecamatan Astanajapura, Lemahabang, dan Karangwareng Kabupaten Cirebon. Makanan khas yang sangat mirip dengan tahu gejrot itu amat disukai warga lokal dan turis. Meski tampak sama dengan tahu gejrot, kaladama disjaikan dengan ketupat dan tahu yang bertekstur lebih padat.

Warga lokal menikmati kaladama sebagai jajanan tradisional. Namun sayang, pedagang kaladama saat ini sudah mulai jarang. Hanya beberapa yang masih bertahan berjualan, seperti Marta, 49. Ia masih setia berjualan kaladama di wilayah Cipeujeuh, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon. Sudah 10 tahun Marta menjajakan kaladama racikannya.

BACA JUGA: Kaladama, Tahu Gejrot ala Cirebon Timur

Marta bercerita awalnya ia berprofesi sebagai tukang becak. Namun, ia memilihi beralih sebagai pedagang kupat tahu atau kaladama. Hal itu dilakukannya karena banyak masyarakat yang menyukai kuliner tersebut. Sejak saat itulah, dia mulai mantap berjualan kaladama. "Awalnya saya tukang becak, lalu mencoba mengadu nasib jualan kaladama," katanya saat berbincang dengan Merahputih.com, Sabtu (7/12).

kaladama
Penjaja kaladama kini makin jarang. (foto: MP/Mauritz)

Selama 9 tahun, ia berjualan keliling dengan gerobaknya, dari satu desa ke desa lain. Namun, melihat peluang berjualan secara menetap lebih besar, apalagi lokasinya di depan kawasan sekolah, ia memilih pun menetap sejak setahun lalu di Cipeujeuh, tepatnya di depan SMK Lemahabang. "Di sini lebih enak, yang belinya juga banyak," tuturnya.

Marta mengaku tidak sulit mendapatkan bahan baku berjualan kaladama. Ia mengambil bahan baku tahu dari pabrik tahu yang berada di Cipeujeuh. Ketupatnya juga dibeli dari produsen ketupat. Hanya air kecap manis gurih yang dia buat sendiri.

kaladama
Kaladama nikmat disajikan pedas. (foto: MP/Mauritz)

Pria 49 tahun ini mulai berjualan sejak pukul 14.00 WIB hingga habis. Dari jualan tersebut, dia mendapatkan keuntungan hingga Rp300 ribu. Hal jadi bukti bahwa kebutuhan masyarakat akan kaladama masih tinggi, sedangkan pedagangnya sudah mulai berkurang. "Rasanya juga berbeda dengan yang ada di Kota Cirebon. Lebih pedas rasanya lebih nikmat," pungkasnya.(*)

Artikel ini merupakan laporan kontributor Merahputih.com untuk wilayah Cirebon dan sekitarnya, Mauritz.



Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH