Membangkitkan Kembali Kain Tenun Tidore Kain tenun Tidore tetap punya fungsi sejajar dengan kain tenun daerah lain. (Foto: YouTube/Bank Indonesia Malut)

APA yang terlintas di pikiranmu ketika mendengar Tidore? Sebuah kerajaan di Maluku Utara yang sering disandingkan dengan Ternate dalam pelajaran sejarah di sekolah? Pulau penghasil rempah-rempah yang mendorong orang-orang Eropa berlayar ke Nusantara pada abad ke-17?

Tidak salah kalau kamu berpikir seperti itu. Itulah gambaran umum orang tentang Tidore. Tapi bagaimana kalau sekarang gambaran kita tentang Tidore diisi pula oleh kain tenun khasnya?

Tenun Tidore memang tak begitu kesohor seperti kain tenun Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Toraja, Jepara, Dayak, atau Batak. Apalagi kain tenun ini sempat hilang selama hampir 100 tahun lebih.

Meski begitu, kandungan filosofis dan historis kain tenun Tidore tetap menjadi sesuatu yang penting untuk membentuk identitas dan kebanggaan orang Tidore sekaligus menambah kekayaan khazanah wastra Nusantara. Sehingga kain tenun Tidore tetap punya fungsi sejajar dengan kain tenun daerah lain.

Anita Gathmir, seorang perempuan kelahiran tahun 1975 di Soasio, Tidore, tergerak menggali kembali 'harta karun' yang hilang tersebut. Sejak 2009, dia melacak keberadaan kain tenun Tidore.

Kain, alat tenun, dan pengrajinnya sudah tidak lagi tersua di masyarakat Tidore. Padahal Kesultanan dan masyarakat Tidore masih mempertahankan banyak tradisi dan ritual yang mengharuskan berpakaian adat. Salah satunya pemakaian kain tenun.

"Namun di upacara adat kami, malah pakai kain dari luar," tutur Mama Ita, begitu Anita karib disapa, seperti dikutip Antara (15/10).

Baca juga:

Spot Wisata Menawan di Pulau Tidore, Dijamin Memanjakan Mata

Anita Gathmir Tenun Tidore
Anita Gathmir, seorang perempuan kelahiran tahun 1975 di Soasio, Tidore, tergerak menggali kembali 'harta karun' yang hilang tersebut. (Foto: YouTub/Putadinokayangan)

Mama Ita bertanya-tanya, mengapa kain tenun Tidore menghilang dari tanah kelahirannya? Karena itulah dia bekerja keras perlu mengumpulkan berbagai catatan, penelitian, dan bukti-bukti sejarah tentang tenun Tidore. Namun, data yang merujuk langsung kain Tidore cukup minim, bahkan nyaris tidak ada.

"Tidak ada data sama sekali kecuali cerita orang tua kami yang berumur 80 tahun," kata Anita dalam Puta Dino Kayangan.

Secara perlahan, pencarian Mama Ita menemukan titik terang. Dia menemukan sebuah foto hitam putih bertulis "Tidore Halmahera" dari Museum di Leiden Belanda.

Kemudian Mama Ita mulai menemukan kembali alat tenun gedogan sulam yang sudah tua, rapuh, dan tidak terawat yang ada di Kedaton (Istana Sultan) di Tidore.

"Saya dikasih tahu paman, ia cerita dulu pernah lihat alat tenun, tapi sudah ditaruh di langit-langit rumah, artinya tidak terpakai. Saya akhirnya mendapatkan informasi," tuturnya.

Sebagai bagian dari keluarga Kesultanan Tidore, Mama Ita tak kesulitan mengakses sisi dalam Kedaton demi melihat alat tenun maupun motif khas Tidore. Selain alat tenun, dia juga menemukan motif anyaman bambu.

Arkian kejadian itu, seorang nenek bernama Zaenab dari Gurabati, Kecamatan Tidore Selatan, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, memberi Mama Ita kain tenun. Pengungkapan keberadaan tenun Tidore pada masa lampau kian terbuka.

Mama Ita mengatakan, masyarakat Gurabati pernah berkegiatan menenun atau membuat kain dengan alat yang sederhana. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh para perempuan dewasa. Namun sayangnya, kegiatan menenun tidak diteruskan oleh anak-anaknya.

Dari berbagai penelusuran inilah akhirnya bisa dipastikan bahwa kain tenun Tidore memang ada. "Saya yakin pasti ada kain khas Tidore," ucap Mama Ita.

Mama Ita makin bersemangat menelusuri kain tenun Tidore. Dia mengajak pula kaum muda Tidore (Ngofa Tidore) untuk ikut membantu mencari kain tersebut.

Bantuan penelusuran datang lagi dari Bank Indonesia (BI) cabang Maluku Utara dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). Mama Ita dan para pemuda Tidore mendapatkan pendampingan untuk merevitalisasi kain tenun khas Tidore.

Baca juga:

Kota Tidore Bakal Disinggahi Kapal Pesiar

Berbekal dukungan itu, Mama Ita mengirimkan sejumlah pemuda dan pemudi Tidore untuk belajar menenun di Jawa. Dia juga mendatangkan guru Tenun ke Tidore.

Untuk mengukuhkan keterampilan menenun kaum muda Tidore, Mama Ita mendirikan rumah khusus tenun bernama Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore pada 14 September 2019.

Puta berarti kain, Dino berarti jahit atau susun, dan Kayangan tinggi. Jika ketiga kata itu digabungkan, artinya jahitan atau susunan kain yang memiliki nilai tinggi.

UMKM bidang tekstil itu kemudian memproduksi kain tenun berdasarkan foto-foto yang terekam di Kesultanan Tidore. Motif anyaman bambu yang sempat ditemukan di Kedaton Kesultanan Tidore kini sudah diproduksi ulang Puta Dino. Motif itu diberi nama Jodati yang berarti ketulusan.

Motif Jodati bermakna masyarakat Tidore yang selalu melakukan sesuatu bersama-sama dan mengesampingkan kepentingan pribadi.

Setidaknya, terdapat 12 motif kain tenun Tidore yang memiliki makna mendalam. Antara lain Marasante yang berarti keberanian dan Barakati (diberkati) yang menggambarkan mahkota yang menghadap ke atas dan ke bawah dan juga gambar empat penjuru mata angin, menceritakan pemimpin yang melindungi seluruh rakyatnya.

Ada pula motif Marimoi yang menceritakan tentang empat kesultanan besar di Maluku: Tidore, Ternate, Bacan, dan Kesultanan Jailolo. Terakhir, motif tua Tobaru yang menyerupai bentuk rantai dan menceritakan masyarakat adat Tidore yang hidup di Halmahera. Rantai merupakan simbol penghubung empat gunung atau Kesultanan.

Kain tenun Tidore yang dibangkitkan kembali oleh Mama Ita dan kaum muda Tidore itu seolah menjadi penghubung antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. "Kain Tenun Tidore unggul dikarenakan memiliki cerita yang kuat tentang revitalisasi dan kekuatan anak-anak muda yang mengangkat kembali sejarah yang hilang," tulis Mama Ita.

Mama Ita berharap kaum muda mampu membangun masa depan Tidore dari daya hidup dan semangat yang diwariskan oleh para leluhur melalui kain tenun Tidore. (dru)

Baca juga:

Karya Desainer Cita Tenun Indonesia di JF3 2022

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Buat GeN Z, Bisa Jadi ini Cake Ultah yang Cocok
Kuliner
Buat GeN Z, Bisa Jadi ini Cake Ultah yang Cocok

Kue ulang tahun ini memiliki sisi cermin di bagian atas.

Keraton Kasepuhan Cirebon Jaga Tradisi Apeman
Tradisi
Keraton Kasepuhan Cirebon Jaga Tradisi Apeman

Tradisi Apeman ini digelar di Langgar Alit.

Aktivitas Pariwisata Indonesia Berangsur Pulih
Travel
Aktivitas Pariwisata Indonesia Berangsur Pulih

Pelancong Indonesia kembali melakukan perjalanan wisata.

Adat Bundo Kanduang dalam Sistem Matrilineal Budaya Minangkabau
Tradisi
Adat Bundo Kanduang dalam Sistem Matrilineal Budaya Minangkabau

Klan yang didasarkan pada garis keturunan perempuan.

Wisata Kuliner Seru Bareng Keluarga di Pergikuliner Festival Kekinian Yuk
Kuliner
Wisata Kuliner Seru Bareng Keluarga di Pergikuliner Festival Kekinian Yuk

Diselenggarakan di Mal Artha Gading hingga tanggal 29 Mei 2022.

Fakta Menarik GWK Bali, Lokasi Welcome Dinner Kepala Negara G20
Travel
Fakta Menarik GWK Bali, Lokasi Welcome Dinner Kepala Negara G20

Digelar di Lotus Pond, kawasan GWK Cultural Park, Jimbaran, Bali.

5 Alasan Bali Mendunia
Travel
5 Alasan Bali Mendunia

Menjadi salah satu pulau terbaik di dunia pada Juli 2022.

Akulturasi Budaya Cirebon dan Tionghoa dalam Festival Pecinan Cirebon
Tradisi
Akulturasi Budaya Cirebon dan Tionghoa dalam Festival Pecinan Cirebon

Wujud nyata melestarikan kekayaan seni dan budaya Cirebon.

Surga Barang Antik di Pasar Cikapundung
Travel
Surga Barang Antik di Pasar Cikapundung

Tempat ini menjadi berkumpulnya ragam aksesori yang telah melewati ragam zaman.

Ingatan Pertama Kali Bus Tingkat Pariwisata Mengaspal Jalanan Ibu Kota
Travel
Ingatan Pertama Kali Bus Tingkat Pariwisata Mengaspal Jalanan Ibu Kota

Bis tingkat pariwisata yang digunakan untuk keliling kota.