Membandingkan Aksi Teroris Memakai Pedang di Riau Dengan Bom di Surabaya Suasana di Mapolda Riau pasca serangan aksi terorisme. Foto: Twitter.com/@deni_jimmi

Merahputih.com - Mantan kepala instruktur perakitan bom Jamaah Islamiyah (JI) Jawa Timur, Ali Fauzi membeberkan alasan mengapa kelompok teroris Jamaah Anshaarut Daulah (JAD) yang menyerang Mapolda Riau dengan rangkaian teror di Surabaya berbeda.

"Di Riau kurang bahan dan kurang skill," kata Ali Fauzi kepada Jawapos seperti dilansir JPNN.com, kamis (17/5).

Di Riau, kelompok JAD menyerang dengan peralatan manual seperti senjata tajam jenis samurai dan pedang. Sementara, rentetan bom di Surabaya, yang juga dilakukan oleh JAD, menggunakan rangkaian bom.

Fenomena itu, kata Ali, menunjukkan bahwa Surabaya mempunyai banyak sumber daya yang bisa mendukung aksi terorisme. Ya, Surabaya memang dikenal sebagai wilayah penjual bahan kimia dengan harga paling murah. Bagi kalangan kombatan, harga bahan kimia di Surabaya dikenal paling murah jika dibandingkan dengan kota lain di Indonesia.

gereja
Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudy Setiawan (kanan) menghimbau warga untuk menjauh dari sekitar lokasi ledakan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5). ANTARA FOTO/Moch Asim

Ali membeberkan betapa mudahnya bahan peledak yang digunakan Dita Oeprianto cs dalam rentetan aksi bom di Surabaya sangat mudah didapatkan di Surabaya. Dalam bom yang digunakan Dita, ada tiga senyawa kimia yang dipakai. Biasanya dibeli secara terpisah untuk menghilangkan kecurigaan toko kimia yang bersangkutan.

Tiga senyawa kimia tersebut kemudian dicampur untuk menghasilkan gaya dan daya simpatetik. Mereka dicampur, lalu kemudian disaring dengan kertas saring. Hanya, senyawa itu sangat berbahaya karena high sensitive. Kena panas saja bisa meledak. Misalnya, yang terjadi di rusun tempat tinggal Anton yang menewaskan dirinya beserta istri dan seorang anaknya.

Menurut Ali, tentu mustahil melarang toko kimia menjual bahan tersebut. Sebab, senyawa itu banyak digunakan untuk kepentingan sehari-hari. "Jadi, yang bisa dilakukan adalah pengawasan," katanya

Sementara itu, terkait serangan di Mapolda Riau, Ali menegaskan bahwa JAD Riau gagal merekrut mantan kombatan lulusan Mindanao dan Poso. "Setahu saya ada banyak di sana. Sebab, saya pernah melatih mereka," ungkapnya. ungkap mantan instruktur kombatan di Poso yang pernah melatih lebih dari 3.000 orang tersebut.

ilustrasi senyawa kimia (pixabay)

Selain itu, teror di Surabaya menunjukkan sebuah fenomena yang memprihatinkan. Yakni, terjadinya transfer ilmu peracikan dan pembuatan bom dari mantan kombatan yang lebih senior. "Sebab, teknik peracikan dan pembuatan bom di Surabaya jauh lebih baik ketimbang serangan-serangan sebelumnya. Memang belum matang, tapi sudah tergolong bagus," tegas Ali.

Jika ditarik ke belakang, pelaku bom Balu I pernah 'berbelanja' bahan peledak untuk meledakkan mobil L 300 di Legian, Kuta, Bali 2002 silam. Tak tanggung-tanggung, pelaku bom Bali I berbelanja bahan kimia seberat satu ton dari salah satu toko kimia, di Surabaya.

Ya, Jalan Tidar, Surabaya, Jawa Timur memang terkenal dengan banyaknya toko bahan kimia.

Dalam pemeriksaan karyawan kimia di Polda Jawa Timur, diketahui pelaku bom Bali I membeli bahan-bahan dasar pembuat bom berbagai macam jenis. Di antaranya adalah potasium klorat, belerang, dan aluminium powder (bronze). (*)


Tags Artikel Ini

Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH