Membaca Scam ICO dari White Paper Membaca white paper adalah cara teraman menjadi coinvestor. (Foto: Pexels/rawpixel.com)

ICO secara prinsip sama dengan IPO. Sama-sama menggalang dana dari masyarakat. Biasanya penggalangan dana itu dibuat oleh satu startup blockchain yang mengeluarkan token crypto mereka sendiri dan menjual token tersebut untuk ditukar dengan BTC atau ETH.

Tidak ada aturan universal pada tahapan mana seharusnya sebuah proyek dapat melaksanakan ICO. Seringkali, hanya ada sebuah white paper dan gambaran kasar roadmap. Kadang kala ada versi beta dari sebuah produk atau bahkan produk yang sudah diluncurkan dengan fungsi yang terbatas.

Tentu saja selalu lebih aman untuk investasi pada project yang posisinya sedekat mungkin dengan tahap peluncuran produk jadi yang dapat berfungsi seutuhnya.

Ada baiknya sebelum ikut dalam ICO membaca white papernya. Seluruh panduan ini bisa disimpulkan menjadi satu kalimat, ketahui dengan jelas apa yang coinvestors investasikan. Tidak ada cara yang lebih baik untuk mengetahui sebuah proyek dengan membaca white papernya.

cryptocurrency
Berinvestasi pada cryptocurrency menguntungkan, namun harus tetap waspada. (Foto: Pexels-David McBee)

Sebuah ICO merupakan crowdsale, yang berarti menarik pendanaan dari investor kasual. Jadi para pengembang proyek harus bisa menjelaskan tujuan dari kegiatan tersebut dan apa saja yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut secara singkat dan jelas.

Baca juga:

ICO Menggalang Dana Masyarakat, Hati-Hati Penipuan!

Hati-Hati ICO Scam!

White paper yang baik harus berisi garis besar kerangka legal antara investor dan developer. Yang paling utama adalah syarat dan ketentuan untuk ICO. Kemudian, harus ada penjelasan rinci mengenai distribusi token, kapan dan bagaimana token tersebut akan dibagikan kepada investor. Bila distribusi token dihubungkan dengan roadmap maka hal ini merupakan hal yang baik. Sebagaimana sejumlah pendanaan dibutuhkan untuk setiap fase proyek tersebut.

Petanyaan penting lain yang harus dijawab dalam white paper adalah mengapa kegiatan itu membutuhkan tokennya sendiri? Mengapa cryptocurrency yang sudah ada seperti Bitcoin dan Ethereum tidak bisa digunakan? Pertanyaan yang sama juga ditanyakan terhadap penggunaan teknologi blockchain.

cryptocurrency
White paper dapat menjadi jendela melihat ICO. (Foto: Pixabay/Leamsii)

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, proyek yang sah akan memberikan calon investor roadmap. Lebih baik lagi bila dalam roadmap tersebut terdapat rincian tentang bagaimana sebenarnya penggunaan dana yang terkumpul, model penetapan harga serta nilai yang diberikan kepada perusahaan.

Yang terakhir, dan mungkin yang terpenting, coinvestors perlu memastikan bahwa dana yang terkumpul disimpan dalam wallet otomatis melalui smart contract Ethereum. (*)

Kredit : paksi

Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo