Melestarikan Bahasa Batak Lewat Karya Sastra Saut Poltak Tambunan peduli Bahasa Batak. (Foto: Facebook)

"IMAJINASI, begitu pula talenta, semuanya datang dari Tuhan. Itu amanah untuk diproses, dikembangkan dan dikomunikasikan untuk sesama. Meskipun, tentu ada juga pengarang potboil, ilhamnya datang dari dapur dan ditulis untuk dapur juga,” demikian kutipan yang saya dapat dari buku Kiat Sukses Mengarang Novel yang ditulis oleh Saut Poltak Tambunan, pengarang yang akrab disebut SPT dan konsisten menulis lebih dari 40 tahun.

Buku yang ia susun tersebut menjadi modul setiap kali SPT, menyelenggarakan pelatihan menulis. SPT lahir dan menghabiskan masa kecil hingga remaja di kota kecil Balige - sekarang ibukota Kabupaten Toba Samosir di tepi Danau Toba.

Keindahan alam sekitar Danau Toba tentu saja ikut membentuk karakter kepengarangannya. SPT kecil senang bermain sendiri dan mengembangkan khayalannya. Dirinya juga sangat suka membaca cerita, meski pada masa itu di Balige sangat sulit mendapatkan buku cerita.

“Semua buku yang saya baca memperkaya imajinasi saya. Sayangnya Omak (ibu) sangat tidak suka kalau anak-anaknya baca buku cerita,” ujarnya mengenang masa kecil.

saut poltak tambunan
Saut Poltak Tambunan menulis buku berbahasa Batak. (Foto: Facebook)

Tak hanya menanamkan budaya membaca sejak usia dini, dirinya juga gemar menulis. Ia selalu menuliskan tiap kejadian yang dialami.

Anak keempat dari 12 bersaudara ini mengatakan, kecintaannya akan dunia sastra semakin bertambah seiring bertambahnya usia. Saat duduk di bangku SMA, ia mulai menulis surat cinta namun tak ditujukan untuk siapa pun.

“Konyolnya, saya memaksakan imajinasi saya untuk jatuh cinta dengan sosok khayalan agar sesuai dengan puisi yang saya tulis,” tandasnya.

Ia mulai menulis cerita untuk surat kabar di tahun 1972 bertepatan dengan saat ia memasuki dunia kerja di Jakarta, di sebuah kementerian yang saat itu disebut departemen. Karyanya pertama kali berupa cerpen dimuat di majalah Varia. Kaget dan bangga, sebab dimuat tanpa koreksi sedikit pun dari editor. Beberapa cerpen berikutnya juga begitu.

Selanjutnya, ia semakin ketagihan dengan dunia menulis. Meski aktif sebagai pegawai negeri, ia tetap menulis karya sastra. Novel pertama tahun 1977 berjudul Bukan Salahmu, Ronald dimuat bersambung di majalah Kartini. Hingga kini sudah menulis lebih dari 60 judul dan sebagian sudah diangkat ke layar film, sinetron dan Tivi Movie.

Sambil bekerja sebagai PNS, pengarang, kolumnis, editor di grup Majalah Kartini, SPT melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi. Sibuk, waktu menjadi sangat berharga. Sempat pula menjadi dosen Ekonomi dan Akuntansi di perguruan tinggi swasta.

“Saya sadar, tidak mungkin saya lakukan semua ini bersamaan. Saya harus seperti orang berjalan, ketika kaki kiri melangkah kaki kanan diam menjaga keseimbangan. Begitu pula sebaliknya ketika kaki kanan yang melangkah,” ungkapnya. Ia pun fokus terhadap pekerjaannya kala itu.

Ketika mutasi ke unit kerja yang tak terlalu sibuk, dirinya asyik menulis. Namun di waktu lain, kegiatan menulis harus dikurangi karena kesibukan kantor. Dengan cara ini, ia bisa menduduki jabatan yang cukup tinggi dan sukses menulis puluhan buku sastra.

Merawat Bahasa Batak

Menulis menjadi kebutuhan baginya. Hal itu disebabkan karena menulis adalah merawat keseimbangan proporsional antara nalar, naluri dan nurani.

Ketika terpilih menjadi peserta pembicara pada Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) tahun 2011, ia menyaksikan bagaimana peserta dari luar negeri haus dengan cerita kearifan lokal Indonesia. Di tahun yang sama pula SPT tercekat dengan pernyataan yang disampaikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bahwa saat itu masih ada 746 bahasa daerah di Indonesia. Diperkirakan pada akhir abad ini (2090), hanya akan bersisa 10%. Itu berarti 75 bahasa daerah.

“Saya bertanya-tanya, apakah bahasa ibu saya masih ada pada saat itu?” tukasnya dengan tatapan menerawang jauh ke depan.

saut poltak tambunan
Saut Poltak Tambunan membayar ;hutang' budaya. (Foto: Facebook)

SPT melanjutkan, bahwa bahasa daerah adalah titipan leluhur yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya. Jika tidak diturunkan, maka bahasa tersebut akan lenyap pada dua generasi berikutnya.

Sistem kekerabatan suku Batak adalah patrilineal, alur keturunan dari pihak pria. Marga diturunkan oleh laki-laki pada anak-anaknya. Jika seorang pria tidak memiliki anak laki-laki maka putuslah keturunannya alam silsilah keluarga. SPT menganalogikan itu dalam bahasa Batak.

“Jika saya tidak mewariskan bahasa Batak pada keturunan berikutnya, apa yang akan diwariskannya ke cucu saya? Begitu seterusnya. Jika semakin banyak orang seperti saya, maka bahasa Batak akan punah,” terangnya.

Ia merasa menjadi labu yang ditanam di halaman orang tua tetapi berbuah di kebun tetangga. Ia ingin pulang ke tanah halamannya dan melakukan sesuatu lewat karya sastra. Ia putuskan untuk beralih menulis dalam bahasa Batak. Sulit memang, terutama karena SPT sudah lama tidak familiar dengan bahasa Batak. Isteri pun bukan orang Batak sehingga tidak menggunakan bahasa ibu di rumah.

Pada tahun 2012, pria berusia 64 tahun ini menulis dan menerbitkan kumpulan cerpen pertama dalam bahasa Batak, Mangongkal Holi. Bulan berikutnya menulis novel dua bahasa untuk anak-anak, Mandera na Metmet, bahasa Batak dan bahasa Indonesia.

Tahun 2012 ia terpilih menjadi kurator untuk festival sastra UWRF. Festival berskala internasional ini tidak membuatnya tergiur untuk berkiprah sastra ke luar negeri, meski ia sempat dipanas-panasi oleh Andrea Hirata si Laskar Pelangi yang hadir dalam festival itu. SPT justru menegaskan tekadnya untuk membayar ‘hutang budaya’ kepada Batak melalui karya-karya berikutnya.

Tahun 2012 pula ia mendirikan Komunitas Sastra Etnik Tortor Sangombas di Facebook, yang disingkat dari Torsa-torsa Sijahaon Sangombas, yang dalam bahasa lain bisa diartikan sebagai flash fiction. Cerita singkat yang harus menggunakan bahasa Batak yang baik dan benar. (avia)

Kredit : iftinavia

Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH