Melatih adalah Misi Balas Dendam Roberto Mancini ke Timnas Italia Roberto Mancini (Twitter)

TIMNAS Italia bagi Roberto Mancini adalah unfinished business. Sebuah urusan yang belum selesai. Seperti luka di masa lalu yang sampai sekarang belum tuntas disembuhkan. Dan keputusannya menjadi pelatih Gli Azzurri adalah upaya untuk mengobati dendam itu.

Saat masih aktif bermain, Roberto Mancini lahir di era di mana para striker dunia adalah tukang gocek yang handal. Berbeda di era sekarang di mana sebagian besar penyerang (penyerang ya, bukan winger) adalah para goal poacher, target man, atau fox in the box, Mancio adalah sosok attacante dengan kemampuan dribbling yang luar biasa.

Tak salah jika dia sering disebut sebagai deep-lying-forward atau yang kini kerap disebut false nine, atau juga second striker yang semua posisi itu menonjolkan kebutuhan gocekan bola handal dan visi cipta peluang.

Memang, nama Mancini tak pernah berada di posisi teratas daftar pencetak gol terbanyak. Tapi karena kemampuannya menciptakan peluang, para striker yang menjadi teman duetnya bisa leluasa mengeksekusi umpan-umpan matang menjadi gol.

Salah satu bukti paling tak terbantahkan adalah rekan duetnya di lini depan Sampdoria, Gianluca Vialli. Vialli yang dia “servis” habis-habisan bablas jadi tukang gedor paling produktif Sampdoria di Serie A 1990-1991.

Tak hanya memuncaki Capocannoniere, duet Vialli-Mancio membawa Il Samp meraih gelar juara liga pertama sejak klub berdiri--bahkan kini jadi satu-satunya gelar klub asal Genoa tersebut.

Roberto Mancini

Lalu kenapa Mancio punya dendam kesumat dengan Gli Azzurri? Begini ceritanya.

Saat menjadi pemain, Mancio sering bermasalah dengan para allenatore alias para pelatih. Masalah pertama dia buat saat Italia ditangani pelatih legendaris Enzo Bearzot yang membawa Italia juara dunia 1982.

Pada 1986, Bearzot memanggil Mancini ke timnas untuk kali pertama. Dia diajak melawat ke benua Amerika dalam rangkaian uji coba dengan timnas Amerika Serikat dan Kanada. Saat itu usianya baru 19 tahun dan sudah mencetak 40 gol di liga!

Malam sebelum uji coba di New York, Bearzot meminta para pemain tidak keluyuran. Wajib tidur lebih sore. Alih-alih menuruti perintah signore berjuluk Il Vicio itu, Mancio malah pulang pagi. Dia asik nongkrong di Studio 54 bersama Andy Warhol dan artis Hollywood Al Pacino.

Baca Juga:

Secangkir Kopi Sudah Cukup Menggambarkan Sosok Jenius Roberto Mancini

“Aku tidak peduli kamu mencetak berapapun gol di liga. Tingkahmu sangat memalukan! Kamu tahu aku semalam sampai tidak tidur gara-gara mengkhawatirkan keberadaanmu!” kata Enzo Bearzot sambil menyemprotkan segala sumpah serapah kepada Mancio muda.

Kemarahan Bearzot tak ada obatnya. Sampai pada Piala Dunia 1986, tak ada nama Mancio dalam daftar pemain Gli Azzurri. Padahal, saat itu dia disebut-sebut sebagai salah satu bakat terbesar Italia. “Padahal, dia hanya perlu menelpon dan minta maaf,” kata Bearzot yang juga menyesali keputusannya itu.

Konflik kedua datang saat Piala Dunia 1990. Mancini memang dipanggil oleh Azeglio Vicini. Tapi dia sama sekali tidak diturunkan. Roberto Baggio dan Toto Schillaci yang notabene adalah bintang baru saja diberi punya kesempatan bermain. Makin dongkol dong Roberto.

Luka di Piala Dunia 1990 belum berakhir, Mancini kembali bermasalah. Kali ini dengan manajer baru timnas, Arrigo Sacchi. Dalam uji coba persiapan dengan Jerman Barat di Stuttgart, Sacchi janji kepada Mancini dia akan diturunkan full 90 menit.

Namun, pelatih yang sukses dengan AC Milan itu ingkar janji. Penyebabnya, para suporter Italia yang rela absen kerja demi datang ke Stuttgart adalah warga Sisilia. Mereka meneriaki stadion dengan nama sosok pewaris nomor 10 Diego Maradona di Napoli: Zo-La, Zo-La, Zo-La.

Baca Juga:

Pidato Singkat Mancini di Balik Kesuksesan Italia Juara Piala Eropa 2020

Mereka menuntut Gianfranco Zola, pemain asal Sisilia itu, dimainkan.

Sacchi kalah dengan desakan penonton. Di babak kedua, Zola masuk menggantikan Mancini. Mancini kalap. Dia marah besar. “Kamu ingkar janji!” katanya kepada Sacchi. Sejak saat itulah, Mancini memutuskan mundur dari timnas. Tak peduli bahwa dia sedang ditunggu-tunggu penampilannya di Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat.

Tanpa Mancini di Negeri Paman Sam adalah petaka Italia. Mereka memang bablas sampai final. Tapi justru karena keok di final dalam drama adu penalti itulah luka kekalahan menusuk lebih dalam. Sacchi harus memilih Baggio jadi eksekutor meski sang pangeran berkuncir itu sedang tidak fit. Tendangannya melambung tinggi di atas gawang Cláudio Taffarel.

Kalau saja Mancio ikut ke Amerika Serikat, barangkali dia yang akan menjebol gawang Brasil di final. Dosa 1994 bukan dosa Baggio. Tapi juga Mancio.

Dari sinilah luka masa lalu itu berusaha dia tebus dengan menjadi manajer. Kini, satu gelar Euro 2020 sudah dia persembahkan. Mancini menuntaskan puasa gelar Eropa lebih dari setengah abad Gli Azzurri.

Tinggal gelar Piala Dunia 2022 yang akan bisa membilas semua dosa Mancini. (aga)

Kanal
LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Wagub DKI: Insya Allah Tahun Depan JIS Bisa Digunakan
Olahraga
Wagub DKI: Insya Allah Tahun Depan JIS Bisa Digunakan

"Insya allah sesuai jadwal, seperti perkiraan kita. Tentu nanti tahun depan udah bisa kita gunakan ya," ucap Wakil Gubernur (Wagub) DKI, Ahmad Riza Patria di Jakarta, Jumat (3/9).

Asosiasi Pelatih Sepak Bola Bandung Resmi Terbentuk, Siapkan Kursus Gratis
Olahraga
Asosiasi Pelatih Sepak Bola Bandung Resmi Terbentuk, Siapkan Kursus Gratis

Kemajuan sepak bola di Bandung diharapkan semakin meningkat dengan hadirnya Asosiasi Pelatih Sepak Bola Seluruh Indonesia (APSSI) Kota Bandung yang resmi dibentuk di Kota Bandung, Minggu (6/6).

Polri Masih Proses Perizinan Liga 1
Olahraga
Polri Masih Proses Perizinan Liga 1

"Masih dalam proses, tentunya Polri kan harus melibatkan izin dari yang lain, dari Kemenpora, dari BNPB dan sebagainya," kata Kadiv Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono

Indonesia Raya Berkumandang, Ganda Putri Parabadminton Berikan Emas
Olahraga
Indonesia Raya Berkumandang, Ganda Putri Parabadminton Berikan Emas

Leani Ratri Oktila/Khalimatus Sadiyah bertarung di final, setelah di semifinal ganda putri SL3-SU5 ini mengalahkan pasangan asal Prancis, Lenaig Morin/Faustine Noel.

'Torang Bisa' Theme Song PON Yang Gambarkan Semangat Papua Sebagai Tuan Rumah
Olahraga
'Torang Bisa' Theme Song PON Yang Gambarkan Semangat Papua Sebagai Tuan Rumah

Torang Bisa, adalah tagline PON ke-20 yang juga berarti "Kita Bisa" menjadi nuansa dasar dalam menciptakan lirik lagu ini. Maknanya adalah semangat dan sportifitas, serta keyakinan bahwa kita semua BISA!

Kas Hartadi dan Mimpi Dewa United FC Mentas di Liga 1
Olahraga
Kas Hartadi dan Mimpi Dewa United FC Mentas di Liga 1

Dewa United FC memilih Kas Hartadi sebagai pelatih kepala dalam mengarungi kompetisi Liga 2 musim 2021. Sosok berusia 50 tahun memiliki prestasi gemilang di kancah sepak bola nasional.

Piala Dunia U-20 Ditunda, Persiapan Bakal Lebih Matang
Olahraga
Piala Dunia U-20 Ditunda, Persiapan Bakal Lebih Matang

FIFA pada 24 Desember 2020 lewat laman resminya mengumumkan pembatalan penyelenggaraan Piala Dunia U-20 2021 di Indonesia. Meski begitu, Indonesia tetap ditunjuk sebagai tuan rumah untuk edisi 2023.

Hasil Liga Champions: Real Madrid dan Manchester City Melaju ke Perempatfinal
Olahraga
Hasil Liga Champions: Real Madrid dan Manchester City Melaju ke Perempatfinal

Real Madrid dan Manchester City melaju ke perempatfinal Liga Champions. Kedua tim melaju ke fase berikutnya setelah menang pada leg dua 16 besar, Rabu (17/3) dini hari WIB.

Analisis Penampilan Timnas Indonesia U-19 di Kroasia
Olahraga
Analisis Penampilan Timnas Indonesia U-19 di Kroasia

Timnas Indonesia U-19 masih menjalani training camp (TC) di Kroasia.

Resmi Diperkenalkan, Berikut Nama-Nama Pemain Dewa United FC
Olahraga
Resmi Diperkenalkan, Berikut Nama-Nama Pemain Dewa United FC

Dewa United FC kembali memperkenalkan pemain barunya untuk mengarungi Liga 2 2021.