Melajang atau Menikah? Serta Alasan Kuat Orang Melakukannya Menikah atau melajang ada alasannya sendiri (Foto: Pixabay/StockSnap)

PERTANYAAN "kapan nikah?", Mungkin adalah salah satu pertanyaan paling memuakkan ketika kamu pergi ke acara keluarga. Skenario klise ini pasti pernah atau mungkin akan terjadi dalam hidupmu suatu hari. Perkara jomlo dan menikah tentu jadi sebuah perbincangan yang enggak pernah ada habisnya. Rasanya kamu merasa 'kalah' kalau membandingkan dirimu yang masih sendiri dengan orang lain yang sudah berdua.

Namun, kamu harus menyadari bahwa memutuskan untuk melajang bukan artinya tidak mau menikah, dan menikah bukan hanya sekedar soal tidak mau menghabiskan hidup dalam status single.

Baca juga:

Apakah Kamu Bahagia Bersamanya?

Mengutip tulisan Karel Kasrten Himawan dari laman The Conversation, selama empat dekade terakhir angka orang yang tidak menikah di Indonesia meningkat secara konsisten lho. Saat ini, beberapa negara di Asia dan Barat enggak lagi menganggap pernikahan sebagai suatu yang sakral.

Definisi tersebut tergantikan jadi hanya sekedar lembaga usang yang enggak relevan lagi. Makanya jumlah orang yang memutuskan untuk tidak berjanji sehidup semati akhirnya semakin melesat. Padahal tidak selamanya mereka yang single memilih hidup sendiri karena tidak mau menikah. Kemudian apa alasannya?

Kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan

Melajang atau Menikah? Serta Alasan Kuat Orang Melakukannya
Kesetaraan gender membuat orang sudah bisa sendiri tanpa harus menikah (Foto: Pixabay/089photoshootings)

Seperti yang kamu tahu saat ini banyak sekali perempuan yang menuntut kesetaraan gender yang sama dengan lelaki. Berbagai campaign ditunjukkan untuk memberikan hak yang sama antara perempuan dan laki-laki. Hal ini tentu memberikan kekuatan untuk pemberdayaan perempuan.

Jika melihat data dari Badan Pusat Statistika (BPS), pada tahun 2000 perempuan Indonesia berusia 15 tahun ke atas yang menamatkan pendidikan universitas hanya 3,24 persen, sementara jika dibandingkan saat ini ada 9,52 persen perempuan yang bisa meraih gelar sarjana lho.

Pendidikan tentu jadi aspek penting yang akan mengarahkan perempuan untuk sukses dalam dunia karier. Bahkan menurut data Survei Angkatan Kerja Nasional ada kenaikan yang baik pada partisipasi angkatan kerja perempuan pada tahun 1980 yang 32,65 persen menjadi 52,36 persen di 2013. Pastinya ada penambahan yang lebih signifikan lagi pada saat ini.

Nah, kekuatan perempuan dalam pendidikan dan karier ini akhirnya membuat kaum hawa meninggalkan nilai tradisional yang hanya mengukur mereka sekedar urusan dapur saja. Saat ini kita bisa melihat perempuan ada di posisi-posisi penting yang bahkan bisa setara dengan laki-laki. Oleh karena itu, perempuan sudah bisa berdiri di atas kakinya sendiri tanpa harus selalu mengandalkan laki-laki.

Sayangnya, kesetaraan ini tidak masuk dalam konteks pernikahan. Menurut penelitian dari Ariane Utomo pada tahun 2012, orang-orang Indonesia tuh masih menomorsatukan pernikahan hipergami. Tradisi hipergami ini menyatakan bahwa pernikahan terjadi dengan kondisi laki-lakinya yang punya status sosial, ekononi, dan tingkat pendidikan yang lebih tinggi daripada si perempuan.

Enggak percaya? Coba aja nyalakan televisimu dan saksikan sinetron-sinetron teranyar. Premisnya selalu sama. Laki-laki kaya, berjenjang karier tinggi, punya mobil mewah, pintar akhirnya mendapatkan perempuan yang secara status lebih rendah darinya.

Oleh karena itu akhirnya ketika perempuan sudah menunjukkan nilainya, bayang-bayang superior dari adat dan budaya laki-laki ini masih terlalu kental. Jadi, melajang bukan berarti tidak mau menikah, namun karena hidup sendiri pun sebenarnya sudah bisa dilakukan tanpa perlu ikatan perkawinan.

Baca juga:

Bukan Berkeluarga, Ini 3 Prioritas Gen Z dan Milenial Menurut Survei

Kriteria yang terlalu tinggi

Melajang atau Menikah? Serta Alasan Kuat Orang Melakukannya
Tradisi hipergami membuat orang memiliki kritieria yang tinggi (Foto: Pixabay/Free-Photos)

Jangan berekspektasi terlalu tinggi, karena kadang realita tidak seindah itu. Kutipan ini cocok banget kalau kita melihat tradisi hipergami. Tradisi ini secara enggak langsung membuat kita jadi susah cari pasangan. Soalnya kalau kata orangtua harus lihat dulu bibit, bebet, dan bobotnya.

Jika berlandaskan pada tradisi hipergami yang harus mencari laki-laki dengan pendidikan dan karier tinggi seperti di film, berapa lama lagi kita mendapatkan jodoh dan menikah?

Melihat analisis Himawan, sebenarnya kaum lajang di Indonesia bukan tidak mau menikah. Mereka masih mencari dan berharap-harap cemas menunggu pasangan yang paling ideal. Akhirnya mayoritas jomlo bukan melajang karena tidak bertemu jodohnya, tapi belum bertemu dengan orang yang paling tepat sesuai dengan kriterianya.

Sebaliknya, enggak semua pasangan memutuskan untuk menikah karena mereka enggak mau hidup melajang lho. Ada beberapa alasan di balik keputusan untuk berkomitmen hidup berdua ini.

Memandang pernikahan sebagai suatu tujuan hidup

Melajang atau Menikah? Serta Alasan Kuat Orang Melakukannya
Menikah hanya dijadikan tujuan dalam hidup saja (Foto: Pixabay/Pexels)

Mengutip dari penelitiannya Nancy J yang berjudul Courtship and Marriage in Indonesia's New Muslim Middle Class, orang Indonesia tuh obsesif banget sama yang namanya pernikahan. Makanya muncul deh pertanyaan-pertanyaan ofensif tentang kapan seseorang menikah.

Dalam kebudayaan kita, menikah itu jadi satu-satunya cara untuk membuktikan seseorang sudah dewasa secara usia, karakter, dan mental. Dan banyak orang yang beranggapan kalau menikah itu jadi satu-satunya cara bahagia.

Menikah dijadikan sebuah goal dalam kehidupan seseorang. Siklusnya selalu sama. Setelah lulus kuliah ya kerja, setelah kerja ya menikah, selanjutnya ya memiliki anak. Padahal sebenarnya banyak juga yang ingin melajang dulu tapi ada banyak tekanan dari lingkungan di sekitarnya.

Stigma sosial dari masyarakat

Melajang atau Menikah? Serta Alasan Kuat Orang Melakukannya
Tekanan sosial dari lingkungan membuat orang terpaksa menikah (Foto: Pixabay/448271)

Hal ini membuat kaum lajang akhirnya mendapat sebuah stigma sosial. Kalau enggak menikah, mereka bisa dicap sebagai orang yang egois (enggak mau kasih cucu ke orang tuanya), terlalu pemilih, jual mahal, atau bahkan langsung dipertanyakan orientasi seksualnya. Padahal kan ya setiap orang punya privasi dan alasannya sendiri buat memilih keputusan terbaik untuk hidupnya sendiri.

Namun, dorongan dan tekanan dari lingkungan ini akhirnya membuat banyak orang terpaksa menikah. Mereka merasa bakal dihantui terus menerus dengan pertanyaan sakti di awal artikel jika tidak segera melakukannya. Sebuah kenyataan pahit yang benar-benar terjadi di masyarakat kita ini.

Makanya setelah mengetahui ini semua, jangan sampai kamu samaratakan ya bahwa menjadi lajang itu bukan berati enggak mau menikah dan memutuskan untuk menikah juga bukan absolut karena udah enggak mau melajang.

Seharusnya sebagai masyarakat intelek, kita menumbuhkan kesadaran sosial dalam mehahami pernikahan. Jangan cuma jadikan perkawinan sebagai mandat dan tanggung jawab sosial saja karena kunci kebahagian itu bukan ada pada menikah atau tidaknya, sebaliknya pada kualitas pernikahan itu sendiri. (Sam)

Baca juga:

Sudah Bahagiakah Para Milenial dan Generasi Z Indonesia?



Ananda Dimas Prasetya

LAINNYA DARI MERAH PUTIH