Melacak Asal, Menimbang Rasa: Antara Kopi dan Coffee  Pengolahan biji kopi Dharma Boutique Roastery generasi ketiga di Wotgandul Barat, Kranggan, Semarang (ANTARA FOTO/Aji Styawan)

MerahPutih.Com - Dari mana datangnya kopi? Mengapa kopi bukan coffee? Begitulah pertanyaan orang awam ketika sedang berlangsung sebuah event kopi. Belakangan ini, trend kopi begitu fenomenal di kalangan urban Indonesia. Ibaratnya, dimana ada kumpul-kumpul, disitu pasti ada kopi.

Lalu, benarkah ada perbedaan antara kopi dan coffee? Berikut ulasan merahputih.com yang dirangkum dari berbagai sumber.

Syahdan, sekitar abad ke-6, hidup seorang penggembala muda bernama Kaldi yang berasal dari Kaffa, sebuah daerah di Ethiopia,Afrika.

Para penggembala Muslim yang terbiasa terjaga di tengah malam untuk menunaikan sholat itu kemudian mencoba mengolah biji-bijian tersebut dengan berbagai cara. Namun tak ada rasa lezat yang mereka dapatkan, hingga seseorang dari mereka merebus biji-bijian itu dan terciptalah sebuah minuman yang mereka sebut "qahwah", yang kira-kira berarti berwarna gelap.

Minuman yang nikmat ini langsung menyebar di wilayah Arab hingga Mekah, Madinah, dan Turki.

Seiring dengan penyebarannya, nama qahwah pun berubah sesuai dengan cara pengucapan yang berbeda-beda di setiap daerah.

Biji kopi Temanggung

Biji Kopi Temanggung (ANTARA FOTO/Aji Styawan)

Qahwah berubah menjadi "kafa", "kaffa", "kahveh" dan akhirnya menjadi cafe ketika tiba di Prancis. Sementara lidah orang-orang Eropa lainnya menyesuaikan nama tersebut dengan menyebutnya "coffee".

Tak perlu waktu lama bagi minuman dari tanah Arab itu sampai di Tanah Air. Berbagai catatan kuno tentang misi dagang Kerajaan Belanda menyebutkan bahwa pada tahun 1696, Persekutuan Dagang VOC membawa biji-biji kopi dari Malabar di India ke Nusantara melalui pelabuhan di Jawa.

Lisan Melayu orang Indonesia menyesuaikan nama minuman itu dengan sebutan "KOPI".

Dengan tanah yang subur dan iklim tropis yang bersahabat dengan tanaman, bibit-bibit kopi kemudian disebar ke wilayah pesisir utara Jawa, termasuk Batavia (kini Jakarta) dan Cirebon.

Dalam waktu cepat perkebunan kopi di tanah Jawa telah menghasilkan biji kopi dalam jumlah banyak dan berkualitas tinggi untuk diekspor ke Eropa.

Kini, hampir semua wilayah di Indonesia memiliki kopi khasnya masing-masing yang disebut dengan istilah "specialty coffee". Kata ini pertama kali dikenalkan oleh Erna Knutsen pada 1974 untuk menjelaskan rasa biji kopi yang dihasilkan dari daerah yang beriklim mikro khusus dan komposisi tanah yang unik.

Kopi Aceh, kopi Gayo, kopi Mandailing, kopi Kerinci dan kopi Luwak adalah diantara kopi spesialti dari Sumatera. Kopi beraroma khusus lainnya adalah kopi Malinau dari Kalimantan, kopi Kintamani dari Bali, kopi Flores Bajawa dari Nusa Tenggara Timur, kopi Toraja dari Sulawesi Selatan, serta kopi Wamena dan kopi Amungme dari Papua.

Pelatihan Coffee Lab di Bandung

Coffee Lab di Bandung (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Dengan ragam aroma khusus tersebut, kopi asal Indonesia seringkali memenangkan kompetisi rasa kopi di tingkat internasional yang berimbas pada tingginya harga jual biji kopi.

Pada pameran yang diselenggarakan oleh Asosiasi Kopi Spesialti Amerika Serikat (SCAA) di Atlanta pada 14-17 April 2016, spesialti kopi Indonesia, kopi Puntang asal Gunung Puntang di Jawa Barat terpilih sebagai kopi terbaik di dunia.

Kopi Puntang yang termasuk kopi Jawa Preanger itu dinilai memiliki rasa yang istimewa karena dikembangkan dari bibit kopi yang langsung dibawa dari Kenya tanpa ditanam terlebih dahulu di tempat lain.

Baru-baru ini, spesialti kopi lainnya yang berhasil terjual dengan harga tertinggi adalah kopi Gunung Patuha asal Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Pada lelang yang digelar oleh Asosiasi Spesialti Kopi Indonesia (the Specialty Coffee Association of Indonesia/SCAI) yang bersamaan dengan Konferensi Kopi Asia Pasifik, kopi Gunung Patuha dijual dengan harga Rp2,050 juta per kilogram.

Tentang kopi Ciwidey ini, Deputi Pemasaran Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif), Joshua Puji Mulia Simandjuntak sebagaimana dilansir Antara menceritakan pengalamannya sewaktu berada di Amerika Serikat.

"Saya pernah antri panjang hingga di luar kafe di Amerika. Karena hari itu saya tidak kebagian, saya datang lagi di hari berikutnya. Tapi saya tetap dapat antrian di luar kafe sampai kedinginan. Itu karena kafe itu menjual kopi Ciwidey," ucapnya.

Barista mengaduk kopi

Event kopi di Jakarta saban waktu lalu (ANTARA FOTO/Novrian Arbi)

Dia menambahkan bahwa beberapa jenis kopi Indonesia sebenarnya telah dipasarkan di beberapa negara dan dinikmati oleh masyarakat internasional. Namun, karena kopi yang dijual tersebut tak memakai nama "KOPI", para penikmat kopi tidak mengenal bahwa kopi yang mereka minum berasal dari Indonesia.

Selanjutnya dia menjelaskankan bahwa kata kopi hanya digunakan di Indonesia dan Malaysia.

"Penggunaan kata kopi di depan setiap jenis kopi yang berasal dari Indonesia akan menjadi daya pembeda dengan jenis kopi dari negara lain," kata dia.

Guna memasarkan nama KOPI sebagai brand kopi asal Indonesia, maka Bekraf merangkul sejumlah pemilik brand kopi dan brand kafe Indonesia serta menggandeng Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) untuk melakukan perjalanan atau "roadshow" di Amerika Serikat dan Kanada.

"Brand merupakan fokus kita dalam roadshow ini mengingat nilai tambah terbesar ekonomi kreatif terdapat pada kekayaan intelektual yang terkandung di dalamnya," jelas Joshua.

Organisasi Kopi Internasional menempatkan Indonesia di peringkat keempat sebagai eksportir kopi dunia pada periode 2016-2017 dengan 6,891,000 bungkus kopi (1 bungkus = 60 kilogram) atau sekitar 413.460.000 kilogram.

Namun, Indonesia tidak termasuk dalam 10 besar negara dengan peminum kopi terbanyak. Secara per kapita, masyarakat Finlandia adalah peminum kopi terbanyak di dunia, sebesar 12 kilogram kopi per orang per tahun.(*)



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH