Ramadan 2021
Megengan, Tradisi Khas Masyarakat Jawa Menyambut Bulan Suci Ramadan Megengan, tradisi yang sarat akan makna positif (foto: [email protected]__priyo)

TAK terasa bulan suci Ramadan sebentar lagi akan tiba. Biasanya, setiap daerah memiliki tradisi dalam rangka menyambut awal bulan puasa, salah satunya tradisi Megengan.

Megengan merupakan salah satu tradisi masyarakat Jawa dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan. Tradisi tersebut kerap disebut ritual mapag atau menjemput awal puasa. Megengan biasanya dilakukan pada minggu terakhir bulan Sya’ban menjelang bulan Ramadan.

Baca Juga:

5 Tradisi Ramadan Unik dari Seluruh Dunia

Salah satu kegiatan yang dilakukan pada tradisi megengan ialah Ziarah Kubur (foto: [email protected])

Seperti yang dilansir dari berbagai sumber, Megengan berasal dari kata megeng yang artinya menahan, yang dimaksudkan menahan diri dari sekarang, untuk menyambut datangnya bulan puasa.

Megengan mengandung filosofi untuk menahan segala hal yang membatalkan ibadah puasa. Seperti halnya makan dan minum, serta hal lain yang membatalkan puasa. Megengan juga berarti keselamatan agar tetap terjaga dengan baik menghadapi bulan Ramadhan.

Adapun sejumlah kegiatan yang biasanya dilakukan pada tradisi megengan. Pertama yakni mandi keramas. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mensucikan diri dalam menghadapi datangnya bulan Ramadan.

Baca Juga:

Tradisi Ramadan Unik di Aceh, Berburu Daging di Hari Meugang

apem berasal dari kata adalah afwum yang artinya meminta maaf (Foto: instagram @rumahqueelok)

Kegiatan kedua yaitu berziarah ke makam leluhur. Kegiatan ini maksdunya untuk mendoakan, serta memohon ampun pada Tuhan atas dosa mereka, atau mengingatkan diri sendiri bahwa lewat mereka kita ada di dunia ini.

Selanjutnya, kegiatan ketiga yakni berdoa bersama dengan membagikan kue apem. Kegiatan ini merupakan ungkapan dari rasa permintaan maaf secara tak langsung kepada para tetangga.

Mengapa apem? Karena apem berasal dari kata adalah afwum yang artinya meminta maaf. Maksudnya agar kita saling memaafkan serta memohon ampun pada Tuhan Yang Maha Esa.

Baca Juga:

Terancam Punah, Sultan HB X Ajak Masyarakat Gunakan Aksara dan Bahasa Jawa

Megengan sarat akan makna positif (Foto: [email protected])

Biasanya, acara Megengan ditandai dengan selamatan yang diadakan di masjid, mushola atau langgar wilayah setempat. Pada selamatan tersebut, terdapat berbagai menu makanan dan jajanan digabung menjadi satu, kemudian dipimpin pemuka agama, lalu didoakan untuk keselamatan serta kekuatan dalam menjalankan ibadah puasa.

Megengan juga sarat akan makna. Ada nilai yang bisa dipetik dari bebasnya orang mengambil nasi selamatan milik orang lain. Seperti halnya setiap umat Islam adalah sama dan punya hak untuk mengambil rezekinya.

Disaat nasi selamatan itu dikumpulkan menjadi satu, memberikan filosofi bahwa rezeki itu milik siapa saja, stiap orang yang hadir bisa mengambil nasi selamatan yang diinginkannya. Bila kamu memberikan nasi selamatan yang terbaik, maka Tuhan Yang Maha Esa pun akan memberikan rezeki yang baik pula.

Baca Juga:

Siropen Telasih Surabaya, Limun Tiga Generasi Terkenal hingga 'Negeri Kincir Angin'

megengan
Kebersamaan merupakan budaya yang harus dilestarikan. (Foto: jatimnet)

Makna selanjutnya yakni keikhlasan yang harus dimiliki setiap orang. Ketika kamu menaruh nasi selamatan dengan menu dengan menu terbaik, maka kamu harus ikhlas bahwa menu tersebut bukan milikmu lagi. dalam artian kamu sudah ikhlas memberikan yang terbaik untuk orang lain. Dalam hal ini tentunya dibutuhkan rasa ikhlas ketika kamu menyajikan menu nasi selamatan tersebut.

Makna yang ketiga yakni kebersamaan. Makan ini merupakan sebuah budaya yang tak bisa dinilai dengan uang. Proses pengumpulan nasi selamatan, merupakan implementasi kerjasama bagi setiap orang. Hal itu menjadi pertanda bahwa Islam merupakan rahmatan lil alamin, yang artinya rahmat bagi setiap orang. Karena itu, kebersamaan dibutuhkna untuk menciptakan demokrasi yang diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Singkat kata, Megengang adalah upacara yang sarat makna. Sebuah kearifan lokal yang tetap dipertahankan esksistensinya di sejumlah daerah. Sedikit informasi, setiap orang bisa turut serta di acara budaya tersebut, untuk menyambut bulan suci Ramadhan. (Ryn)

Baca Juga:

Ragam Tradisi Unik Menyambut Bulan Suci Ramadan

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Menu Vegetarian Rumahan yang Simple, Sehat dan Enak
Kuliner
Menikmati Romansa Panorama Sunset Sambil Barbequan di Ratu Boko
Travel
Menikmati Romansa Panorama Sunset Sambil Barbequan di Ratu Boko

Memandangi kota Yogyakarta di waktu malam di Candi Ratu Boko.

Makin Diminati Masyarakat, Wayang Orang Sriwedari Solo Tambah Jadwal Pentas
Travel
Makin Diminati Masyarakat, Wayang Orang Sriwedari Solo Tambah Jadwal Pentas

antusias penonton mulai naik seiring tambahnya jadwal pentas wayang orang.

3 Tips Mudah Membuat Es Kopi Rumahanmu Jadi Lebih Variatif
Kuliner
Masakan Padang Siapa yang Tidak Suka?
Kuliner
Masakan Padang Siapa yang Tidak Suka?

Rasa-rasanya bukan orang Indonesia jika belum mencicipi masakan Padang.

Kuliner Jadi Primadona Pelancong di Kabupaten Sleman Selama Libur Lebaran
Travel
Kuliner Jadi Primadona Pelancong di Kabupaten Sleman Selama Libur Lebaran

Kenangan ini dapat berupa suasana tempat kuliner maupun rasa makanan atau minumannya.

Lima Tempat Rekreasi Yogyakarta yang Ramah Anak
Travel
Lima Tempat Rekreasi Yogyakarta yang Ramah Anak

Yogyakarta punya banyak lokasi wisata yang ramah anak.

Taksu Ubud Angkat Keindahan Seni dan Budaya Bali
Tradisi
Taksu Ubud Angkat Keindahan Seni dan Budaya Bali

Segera tayang di kanal YouTube Budaya Saya.

Yogyakarta Bolehkan Gelar Pentas Seni di Liburan Akhir Tahun
Travel
Yogyakarta Bolehkan Gelar Pentas Seni di Liburan Akhir Tahun

Namun penyelenggara wajib mengikuti sejumlah peraturan.

Menguak Sisi Disabilitas Si Buta Dari Gua Hantu
Indonesiaku
Menguak Sisi Disabilitas Si Buta Dari Gua Hantu

Baik Rabin juga Kasrip sama-sama menganggap memiliki anak buta sebagai aib.