Megawati Senang Pernyataannya 'Milenial Jangan Dimanja' Jadi Pro Kontra Megawati Soekarnoputri saat pengarahan kepada calon kepala daerah usungan PDIP. (Foto: Tim Media PDIP)

Merahputih.com - Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri menanggapi secara santai pro kontra pasca pernyataannya meminta Presiden Joko Widodo tidak terlalu memanjakan kalangan milenial.

Mega mengaku memantau banyak yang memviralkan pertanyaannya dalam acara partainya 28 Oktober lalu.

"Karena apa? Terus kalau sudah disebut generasi milenial, saya nanya, apa baktinya bagi negeri ini? Lalu jadi malah ada talkshow dan sebagainya. Saya senang saja. Tentu sifatnya pro dan kontra," kata Megawati saat memberikan arahan dalam Rapat Koordinasi Bidang DPP PDIP dengan tema Gerakan Menanam dan Politik Anggaran: Kebijakan Terobosan Investasi, secara daring, Sabtu (1/11).

Baca Juga

Megawati Minta Seluruh Petugas Partainya Bercocok Tanam

Menurut Megawati, banyak kalangan milenial yang sukses karena berprofesi sebagai pengusaha.

"Tapi yang lain? Yang saya maksud, berapa banyak rakyat yang sudah kamu tolong? Saya ingin rakyat punya harapan. Partai ini, membawa kemajuan dan kesejahteraan ke depan. Tapi bagaimana (bisa, red) kalau manja? Ya ngamuk lah saya. Bilang milenial tak boleh dimanja. Gara-gara omongan saya, sampai banyak talkshow. Wah keren saya. Padahal ya rakyat Indonesia memang harus digembleng untuk punya fighting spirit, tahu membawa Indonesia maju ke depan, membawa rakyat sejahtera," ujar Megawati dikutip Antara.

Kepada para peserta rakor PDIP itu, Megawati mempertanyakan alasan mereka terus mengangkat dirinya sebagai ketua umum partai sejak pertama berdiri hingga saat ini.

Menurut dia, pilihan kepada dirinya untuk memimpin partai adalah karena disadari sepenuhnya partai butuh pemimpin yang mengarahkan ke arah kebaikan ke depan, bukan mundur ke belakang.

Tangkapan layar Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri saat memberikan arahan pada pengumuman 75 pasangan calon kepala daerah di Pilkada serentak secara virtual, di Jakarta, Selasa (11/8/2020). (ANTARA/Syaiful Hakim)
Tangkapan layar Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri saat memberikan arahan pada pengumuman 75 pasangan calon kepala daerah di Pilkada serentak secara virtual, di Jakarta, Selasa (11/8/2020). (ANTARA/Syaiful Hakim)

Namun, sebagai pemimpin tertinggi partai, Megawati mengaku bahwa dirinya kerap masih belum merasa puas sepenuhnya dengan para kader partai yang mayoritas adalah kalangan milenial. Bagi Megawati, kalangan milenial adalah yang lahir mulai tahun 1980-an.

Misalnya, kerap Megawati melihat bahwa masih ada kader yang tak serius saat lagu Indonesia Raya, mengheningkan cipta, dan menaikkan bendera merah putih. Padahal itu adalah protokol kenegaraan.

"Karena apa? Siapa yang akan membela dan menghormati negara kita kalau bukan kita sendiri?" imbuh Megawati.

Baca Juga

Megawati Heran Warga Sumbar tak Suka PDIP

"Kalau di Amerika. Saya tak mau bilang di RRC, nanti saya dibilang komunis pula. Di Amerika itu, rakyatnya itu kalau dengar lagu kebangsaannya, itu langsung berdiri," tambah Megawati.

"Saya butuh kader yang punya jiwa raga, fighting spirit. Makanya saya bilang jangan manjakan milenial. Apa baktinya bagi negeri ini. Bagi saya milenial ini kan itu lahir sekitar tahun 1980-an. Ya kalian ini banyak juga. Jangan mejeng saja. Harus berbuat. Jangan ada di partai ini kalau tidak (berbuat,red)," kata Megawati. (*)

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Sakit Jadi Alasan Hadi Pranoto Tak Datangi Pemeriksaan
Indonesia
Sakit Jadi Alasan Hadi Pranoto Tak Datangi Pemeriksaan

Polda Metro Jaya sudah menanggil praktisi kesehatan Hadi Pranoto atas omongannya di akun Youtube Anji pada Rabu (24/8) kemarin.

Buntut Kemarahan Risma, PDIP Peringatkan Pemprov Jatim Lebih Bijaksana
Indonesia
Buntut Kemarahan Risma, PDIP Peringatkan Pemprov Jatim Lebih Bijaksana

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengingatkan pimpinan di daerah untuk melepaskan ego kepemimpinan dan mengedepankan gotong royong.

4 SMK di Pasar Minggu Disulap Jadi Lokasi Isolasi Mandiri Tenaga Medis COVID-19
Indonesia
Sejumlah Pentolannya Diciduk Polisi, Ini Respon KAMI
Indonesia
Sejumlah Pentolannya Diciduk Polisi, Ini Respon KAMI

KAMI menolak secara kategoris penisbatan atau pengaitan tindakan anarkis dalam unjuk rasa kaum buruh

KPK Dalami Penunjukan Langsung Vendor Bansos
Indonesia
KPK Dalami Penunjukan Langsung Vendor Bansos

KPK menduga Mensos menerima suap senilai Rp17 miliar dari fee pengadaan bantuan sosial sembako untuk masyarakat terdampak COVID-19 di Jabodetabek.

Jadi Tersangka Kebakaran, Pejabat Kejagung Tidak Dibui
Indonesia
Jadi Tersangka Kebakaran, Pejabat Kejagung Tidak Dibui

Penyidik Gabungan Bareskrim Polri menetapkan 8 orang tersangka kasus kebakaran gedung Kejaksaan Agung (Kejagung) RI, Jakarta.

Ngotot Gelar Formula E di Monas, Sekda DKI: Kita Ingin Terkenal di Dunia dan Akhirat
Indonesia
Ngotot Gelar Formula E di Monas, Sekda DKI: Kita Ingin Terkenal di Dunia dan Akhirat

Saefullah menjelaskan alasan Pemprov DKI tetap bersikukuh menggelar balap mobil berenergi listrik itu lantaran tujuannya agar Indonesia dapat dikenal dunia dan akhirat.

Pungli Oknum Anggota Polisi di Kasus Narkoba Naik 43 Persen
Indonesia
Pungli Oknum Anggota Polisi di Kasus Narkoba Naik 43 Persen

Sementara untuk anggota yang berprestasi diganjar penghargaan dan tanda jasa atau reward, sepanjang 2020, ada sebanyak 416 personel.

Longsoran Baru Terlihat di Gunung Merapi
Indonesia
Longsoran Baru Terlihat di Gunung Merapi

Dilihat dari morfologinya, material longsoran tersebut mengarah ke hulu Kali Senowo, Kali Putih, dan Kali Lamat.

Gaet Pemilih, KPU Harus Gencarkan Sosialisasi Pilkada
Indonesia
Gaet Pemilih, KPU Harus Gencarkan Sosialisasi Pilkada

Paling tidak dari 19 Kabupaten/kota di Jawa Timur yang menggelar Pilkada, tingkat partisipasi pemilih Surabaya berada di angka 67 persen.