Medium Video dan 5 Kelompok Berbeda dalam Pameran Manifesto VII 'Pandemi' ameran MANIFESTO VII 'PANDEMI' dihadirkan dengan 5 kategori berbeda-beda. (facebook.com_@galnas)

GALERI Nasional Indonesia baru saja membuka pameran Manifesto VII 'Pandemi', Sabtu (8/8). Untuk tahun ini, mereka membawa video art sebagai salah satu seni rupa bersama dengan lima kelompok yang berbeda-beda.

Pameran Manfiseto kalin merupakan yang ketujuh. Tema yang diangkat kali ini ialah Pandemi. Tema itu dipilih karena sesuai dengan situasi sekarang di tengah badai COVID-19. Lewat pameran kali ini, penyelenggara ingin membawa perkembangan seni rupa pascapandemi global. Dihadirkannya video art memperluas kemungkinan karya-karya yang dapat dipamerkan.

BACA JUGA:

Sushi Paling Bau Jadi Rasa Es Krim di Jepang, Seperti Apa Ya Rasanya?

Lima kurator, yaitu Rizki A Zaelani, Citra Smara Dewi, Sudjud Dartanto, Bayu Genia Krishbie, dan Teguh Margono, ada di balik pameran Manifesto VII 'Pandemi'. Mereka mengangkat tema ini karena keseharian publik yang telah berubah karena adanya pandemi COVID-19.

manifesto
Pameran ini dimulai dari 8 Agustus 2020 yang dapat dilihat di galnasonline.id. (facebook.com_@galnas)

Perubahan itu juga terlihat pelaksanaan MANFIESTO kali ini. Para kurator membawa video art dan memberi kesempatan kepada publik dalam memamerkan karya. Sebelumnya, pameran ini hanya mengundang perupa yang direkomendasikan para kurator. Namun, kali ini kurator membuka kesempatan berpameran ke publik luas. "Pameran ini menyuguhkan karya video art. Karya dengan durasi yang mengandung waktu sehingga orang bisa melihat dalam durasi tertentu," ungkap salah seorang kurator Manifesto VII 'Pandemi', Rizki A Zaelani.

Dengan konsep baru itu, para kurator membuka beberapa kemungkinan menampilkan karya-karya baru untuk dipamerkan. Pertama, penggunaan video sebagai salah satu seni berdurasi. Kedua, membuka kemungkinan pameran ini bisa diselenggarakan seluas mungkin di seluruh Indonesia. Mereka ingin pameran ini tidak didominasi satu daerah saja. Dengan begitu, publik dapat melihat beragam ekspresi dari berbagai karya. Terakhir, konsep baru ini membuka kemungkinan publik untuk ikut terlibat. Jadi publik juga ikut memasukkan pandangan mereka di samping para seniman.

manifesto
Pameran ini disusun oleh lima kurator. (facebook.com_@galnas)

Medium video dipilih karena paling representatif untuk mengekspresikan gagasan, pengalaman, pernyataan, dan harapan peserta. Selain itu, publik juga dapat menikmati seni yang menggunakan durasi. Karya video yang masuk beragam, seperti lukisan yang dijadikan video, tarian, teater, dan karya yang dibuat menggunakan keceradasan buatan (AI).

Tema Pandemi dihadrikan dalam 5 kelompok berbeda. Kelompok pertama, reaksi balik yakni seni memberikan jawaban yang sedang berlangsung. Kelompok kedua, bagaimana situasi yang sedang dihadapi sekarang ini. Kategori ketiga, menyatakan kesejajaran. Kategori keempat, pandemi sebagai sumber inspirasi untuk melakukan sebuah aksi fantasi. Terakhir, karya-karya yang menghubungkan peristiwa atau situasi pandemi. Misalnya, menghubungkan pandemi dengan peristiwa semesta atau keagamaan.

Pameran yang menampilkan 217 karya dari 204 peserta ini akan menjadi salah satu yang paling ditunggu-tunggu. Tema Pandemi menarik minat publik karena berhubungan dengan situasi sekarang ini.(may)

BACA JUGA:

3 Referensi Budaya Pop Barat Pada Serial Netflix 'It's Okay to Not Be Okay'



Dwi Astarini