Otomotif
Mazda Rilis MX-5 Khusus Penyandang Disabilitas Mazda MX-5 kini ramah disabilitas. (Foto: Mazda)

DENGAN kabin yang ringkas, dua kursi, dan area bagasi yang terbatas, Mazda MX-5 Miata mungkin menjadi salah satu mobil paling praktis yang pernah diproduksi. Namun, kepraktisannya itu membuat mobil roadster termurah sedunia tersebut tak menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin membeli mobil sport.

Terlepas dari kekurangannya, hingga kini sudah lebih dari 1 juta orang telah membelinya sejak mobil yang di Jepang disebut sebagai Mazda MX-5 NA itu dirilis akhir 1980-an lalu. Mazda MX-5 juga menjadi mobil roadster paling laku sepanjang sejarah.

Mazda MX-5 Miata dibuat sebagai bagian dari upaya produsen mobil asal Jepang itu untuk memproduksi mobil sport dengan harga lebih terjangkau, melayani khalayak nan lebih luas. Dijual dengan atap kain standar atau spesifikasi RF bergaya targa, Mazda MX-5 Miata kini disesuaikan untuk penyandang disabilitas.

Baca juga:

Mazda MX-5 Launch Edition Resmi Dilelang Rp669 Juta

Pengemudi bisa meletakkan kursi roda di kursi penumpang. (Foto: Mazda)

Mobil itu sejatinya sudah dirilis sejak September 2014 lalu di beberapa negara. Namun, kini mobil tersebut hadir dengan konfigurasi atau modifikasi baru. Modifikasi yang dibuat Mazda adalah untuk memudahkan pengendara disabilitas atau gangguan fisik.

Biasanya model yang diubah untuk kaum disabilitas adalah minivan (MPV), tetapi Mazda MX-5 tentu jauh lebih menarik daripada mobil pengangkut keluarga itu. Bodi yang kecil dan sasis rigid membuatnya sangat asyik dikendarai meski mesinnya bukan yang paling gahar.

Perubahannya termasuk pegangan kontrol yang terletak di sebelah konsol tengah. Pada dasarnya, alat bantu itu adalah tuas yang menggantikan peran dan fungsi pedal akselerator dan rem.

Baca juga:

All New Mazda MX-5 Siap Mengaspal di Indonesia

Dilengkapi berbagai modifikasi untuk mudahkan pengemudi. (Foto: Mazda)

Bagaimana cara kerjanya? Pengemudi tinggal menariknya untuk mempercepat laju mobil dan mendorongnya untuk memperlambat. Selain itu, "kenop putar" opsional dipasang pada kemudi untuk mengaktifkan kemudi satu tangan. Pemilik dapat menyimpan kursi roda di kursi penumpang.

Tersedia juga penutup untuk kursi roda, begitu juga penyangga samping untuk memudahkan pengemudi masuk dan keluar mobil. Wajar saja, Mazda MX-5 Miata ini dijual eksklusif dengan transmisi otomatis enam percepatan.

Dipasarkan di Jepang sebagai Roadster dan Roadster RF, tambahan untuk varian Self-empowerment itu masing-masing seharga 339.400 yen dan 365.900 yen. Itu berarti sekitar Rp 35,8 jutaan jika dihitung dengan nilai tukar saat ini.

Pihak Mazda juga menjual dua model lain, yaitu crossover elektrik Mazda MX-30, dan SUV Mazda CX-5 dengan modifikasi yang sama. (waf)

Baca juga:

Mazda Siap Luncurkan Mobil Listrik Pertamanya

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Harus Tahu, 3 Fakta Nikotin
Hiburan & Gaya Hidup
Harus Tahu, 3 Fakta Nikotin

Terdapat pada rokok dan produk tembakau alternatif.

Cyberpunk 2077 Mulai dapat Ulasan Positif di 2021
Fun
Cyberpunk 2077 Mulai dapat Ulasan Positif di 2021

Setelah melakukan banyak revisi, 'Cyberpunk 2077' mulai diberi jempol.

Mudik Gratis Bersama Perusahaan Teknologi
Hiburan & Gaya Hidup
Mudik Gratis Bersama Perusahaan Teknologi

Program mudik gratis ini merupakan inisiatif di luar layanan reguler.

Kenali Gangguan Haid yang Ternyata Bisa Berkaitan dengan Kesuburan
Fun
BCA UMKM Fest 2022 Hadirkan Beragam Brand Lokal
Fun
BCA UMKM Fest 2022 Hadirkan Beragam Brand Lokal

BCA UMKM Fest 2022 digelar secara online dan offline.

Persiapan Sebelum Kuliah ke Luar Negeri
Fun
Persiapan Sebelum Kuliah ke Luar Negeri

Tak cuma soal biaya dan urusan akademik, tapi juga yang non-akademik seperti mental, penginapan, dan pakaian.

Dukung KTT G20, Lexus UX-300e Diterbangkan Langsung dari Jepang ke Indonesia
Fun
Jangan Tanyakan ini pada Pacar Baru Kamu
Fun
Jangan Tanyakan ini pada Pacar Baru Kamu

Sepatutnya jangan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini.

Masalah yang Sering Dihadapi Penderita PJB
Fun
Masalah yang Sering Dihadapi Penderita PJB

Diagnosa dini dan penanganan menjadi masalah utama karena sebaran fasilitas tidak merata di Indonesia.