May Day! May Day! Kisah Organisasi Buruh Mengusir Mengambil-alih Perusahaan Belanda Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI). (Foto/nipponsquad.wordpress.com)

PADA 29 November 1957, Indonesia sekali lagi gagal beroleh mayoritas suara untuk mempertahankan Irian Barat di majelis umum PBB. Pihak republik tak patah arang. Mereka menempuh berbagai cara, mulai dari diplomasi hingga militer.

Pemerintah indonesia melalui Ketua Panitia Aksi Pembebasan Irian Barat, Sudibjo, mengumumkan aksi mogok kerja selama 24 jam terhadap semua perusahaan Belanda pada 1 Desember 1957. Akibatnya, diperkirakan perusahaan-perusahaan Belanda mengalami kerugian lebih dari seratus juta rupiah.

Dua hari berselang, organisasi buruh langsung berimprovisasi. Pagi hari tanggal 3 Desember 1957 Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) mengambil alih kantor pusat Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) milik Belanda di Jl. Merdeka Timur, Jakarta.

Menanggapi situasi demikian, pihak manajeman mengemukakan bahwa mereka harus membicarakan terlebih dahulu dengan pemerintah, dan dijawab oleh pemimpin mereka. "Kami dan kaum buruh adalah pemerintah," dikutip dari tesis Bondan Kanumoyoso, dengan judul Nasionalisasi Perusahaan-Perusahaan Belanda di Indonesia, 1957-1959. (hal 82).

Kantor KPM di Batavia. (Foto/id.wikipedia.org)
Kantor KPM di Batavia. (Foto/id.wikipedia.org)

Pengambilalihan Kantor pusat KPM berlangsung damai tanpa kekerasan. Mengingat pemerintah dan penguasa militer tidak melakukan suatu tindakan, maka dapat diduga pemerintah Indonesia secara diam-diam turut mendukung berbagai aksi tersebut. Duagaan semakin menguat setelah pada 6 Desember 1957 Menteri Perhubungan saat itu mengungkapkan persetujuannya atas pengambilan KPM.

Berhasil merebut KPM, organisasi buruh semakin menggila. Terbukti, hanya satu hari berselang, Serikat Buruh Bank Seluruh Indonesia (SBBSI) berupaya menguasai bank-bank milik Belanda. Aksi ini berhasil digagalkan oleh Bank Indonesia yang tidak menghendaki kekacauan dan kesimpangsiuran pascaperebutan KPM.

Takut kejadian serupa terulang, pada 8 Desember 1957 penguasa perang langsung menetapkan sebua bank milik Belanda di bawah pengawasan Bandan Pengawasan Bankyang diketuai Koordinator Finek/Staf Harian Pengausa Militer.

Meski pada awalnya aksi anti-Belanda ini dipimpin oleh Komite Ansi Pembebasan Irian Barat yang didukung oleh pemerintah. Akan tetapi pada pelaksanaan pengambilalihan perusahaan belanda dilakukan secara independen oleh serikat-serikat buruh yang berafiliasi dengan SOBSI dan KBKI. (Zai)

Baca juga berita terkait di: May Day, Selamat Hari Buruh Jadi Trending Topic

Kredit : zaimul

Tags Artikel Ini

Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH