Matung Pandeglang, Tradisi Unik Berbagi Kerbau Jelang Lebaran Kerbau untuk hewan potong. Foto: MP

MerahPutih.com - Berbagai tradisi daerah kini mulai punah tergerus perkembangan zaman. Namun, warga Kabupaten Pandeglang, Banten, terutama yang tinggal di pelosok masih mempertahankan budaya "matung" atau motong kerbau bersama-sama menjelang Idul Fitri.

Pagi tadi seusai solat subuh, warga di beberapa perkampungan berkumpul dan bersama-sama motong kerbau, mengulitinya dan memotong daging dan anggota badan hewan lainnya untuk kemudian dibagi secara rata.

Matung, sebenarnya berasal dari kata patungan atau iuran. Warga berpatungan sesuai kesepakatan dan uang yang terkumpul dibelikan kerbau untuk disembelih sehari sebelum Lebaran. Daging hewan itu dibagikan pada kelompok masyarakat yang berpatungan.

Pantauan di Kampung Pasirbatungan dilaporkan Antara, sekitar 20-an warga berkumpul dekat rumah Suja`i, yang merupakan ketua kelompong matung kerbau. Hampir semuanya membawa pisau untuk memotong daging hewan bertubuh besar itu.

"Saya matung bersama 30 orang warga. Tiap orang iuran Rp500 ribu, jadi terkumpul Rp15 juta, dibelikan satu ekor kerbau ini," kata Suja`i sampil menunjuk seekor kerbau jantan yang siap dipotong.

patungan
Ilustrasi. Foto:Shutterstock

Suja`i mengaku, setiap tahun memotong kerbau bersama para tetangganya. Dia bertugas mengumpulkan uang dan membelikan kerbau.

"Saya selalu yang mengumpulkan uang dan membelikan kerbau. Gak apa-apa yang penting bisa berjalan, dan kami bisa matung tiap tahun," katanya sambil berpamitan mau memotong kerbau.

"Sudah siap ya. Ayo kita mulai. Tolong diikut keempat kakinya disatukan," kata Suja`i memberi perintah pada rekan-rekanya.

Dua orang warga mendekati kerbau, kemudian mengikat kakinya menjadi satu. Kerbau itupun oleng dan terjatuh. Kemudian, yang lain mendekati hewan itu, dan tanpa perintah membagi tugas masing-masing.

Satu orang memegangi ekor kerbau, dua orang memegang kepala dan tandung kerbau, empat orang memang bagian badan kerbau yang tergeletak pada posisi miring ke kiri.

Bertindak sebagai algojo, Opik. Pria bertubuh kekar itu mendekati leher kerbau dan menyembelihnya. Selesai sudah memotong kerbau yang dilakukan secara bersama-sama pada "acara matung".

Berikutnya, secara bersama-sama juga masyarakat menguliti atau melepaskan kulit kerbau dan memotong setiap bagian hewan itu, ditimbang kemudian dibagi 30 bagian. Setiap bagian sama, ada daging, hati sampai usus.

"Semuanya kita bagi rata. Tulang, daging sampai jeroan. Kan dibelinya juga sama-sama jadi harus sama juga pembagiannya," kata Suja`i.

daging kerbau
Daging kerbau. Foto: Antara

Pemandangan serupa juga terjadi di Kampung Kadongdong, Purbasari dan Wakaf. Setelah pembagian selesai, masing-masing warga membawa daging bagiannya yang sudah dimasukan pada kantong plastik, dan dengan suka cita pulang untuk memasak daging menjadi masakan khas Lebaran.

Kebersamaan

Tokoh masyarakat Pandeglang, HM Yusuf menyatakan budaya matung merupakan kebiasaan turun-temurun. Tidak ada keterangan pada tahun berapa dimulainya dan siapa yang memulainya.

"Sejak saya kecil itu sudah ada, dan sampai sekarang oleh sebagian masyarakat, terutma yang tinggal di pelosok masih dipertahankan," kata pria yang sekarang berusian 60 tahun itu.

Menurut dia, inti dari budaya ini sebenarnya kebersamaan. Dengan matung semua warga bisa mempunyai daging kerbau dengan volume cukup banyak untuk dimasak saat Lebaran.

"Kan sama. Kalau dapat 5 kg, semuanya segitu. Jadi yang kaya dan kurang mampu punya daging sebanyak itu untuk Lebaran," ujarnya.

Yusuf menjelaskan, kalau harus membeli dagaing dadakan menjelang Lebaran cukup berat. Jika harga daging Rp120 ribu/kg, maka untuk dapat 5 kg harus mengeluarkan uang Rp600 ribu saat itu juga.

"Kalau matung kan dicicil. Pengumpulan uang yang telah disepakti dalam waktu satu tahun. Itupun tidak ditentukan cicilannya harus berapa. Istilahnya `sabogana" (berapapun punya), yang penting saat Ramadan, lunas," ujarnya.

kerbau
Foto: MP

Bahkan ada juga yang pembelian kerbau dari hasil "persatuan" (masyarakat memborong satu pekerjaan bersama-sama), uang dari pekerjaan itu dikumpulkan pada satu orang, dan saat Ramadan dibelikan kerbau untuk disembelih bersama.

Banyak hikmah yang bisa diambil dari budaya matung yang rutin dilakukan sebagian warga Kabupaten Pandeglang, di antaranya kebersamaan, berbagi dan sikap gotong royong yang merupakan sikap harus senantiasa dimiliki warga negara ini. (*)


Tags Artikel Ini

Wisnu Cipto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH