Masyarakat Nekat Mudik karena tak Ada Jaminan Hidup dari Pemerintah Pemeriksaan kendaraan oleh ptugas Pospam Watas di perbatasan Rejang Lebong-Kota Lubuklinggau, Sumsel. (Foto dok.Humas Polres Rejang Lebong)

Merahputih.com- Pengamat Kebijakan Publik Trubus Rahadiansyah, menilai pemerintah tak bisa seenaknya melarang dan menghambat orang untuk mudik. Pasalnya, mereka memiliki alasan tersendiri untuk pulang ke kampunh halaman, salah satunya karena kesulitan ekonomi di ibu kota.

Menurur Trubus, banyaknya masyarakat yang nekat mudik disebabkkan ketidakpastian hidup di kota. Pasalnya, banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan di tengah pandemi COVID-19. Sementara itu, bantuan sosial yang diberikan pemerintah banyak tidak tepat sasaran dan mengalami keterlambatan pendistribusian.

Baca Juga

DPRD DKI Desak Dishub Gencarkan Sosialisasi Larangan Mudik

"Kemudian, bansos yang dijanjikan pemerintah banyak yang enggak tepat sasaran," kata Trubus kepada wartawan di Jakarta, Selasa (5/5).

Tak hanya itu, masyarakat Indonesia menganggap mudik merupakan bagian tradisi yang wajib dilakukan. Alasannya, mudik adalah bagian dari silaturahim dengan sanak keluarga di kampung halaman.

"Mudik adalah bagian dari tradisi. Jadi, mereka menganggap itu bagian dari silaturahim, memang setiap tahun mereka mudik," kata pengajar Universitas Trisakti ini.

Trubus
Trubus Rahadiansyah

Sehingga, masih banyak masyarakat nekat mudik dengan melintasi jalur-jalur tikus atau mengelabui polisi yang berjaga di pos-pos penyekatan.

Trubus berujar, masyarakat membutuhkan jaminan untuk bisa melangsungkan hidup di kota rantau. Sehingga, mereka nekat mudik untuk tetap bertahan hidup.

"Enggak ada jaminan dari pemerintah. Jadi, pemerintah enggak punya kemampuan untuk memberikan rasa nyaman, memberikan kepastian kepada para pemudik itu," ujar Trubus.

Trubus menilai, saat ini penyekatan bagi para pemudik di jalur-jalur tikus masih lemah dibandingkan penyekatan kendaraan di pintu tol dan jalur protokol.

"Pemerintah selama ini hanya ketat di jalan tol, jalan protokol, jalan utama, jalan nasional. Tapi, jalan-jalan arteri, jalan tikus relatif lama, malah enggak ada pengawasan juga. Ini yang menyebabkan mereka lolos untuk mudik," ungkap Trubus.

Petugas Polantas Polres Sukabumi Kota saat memerintahkan kendaraan pemudik yang hendak masuk Kota Sukabumi, Jawa Barat memutar balik untuk kembali ke daerahnya masing-masing. (Antara/Aditya Rohman)
Petugas Polantas Polres Sukabumi Kota saat memerintahkan kendaraan pemudik yang hendak masuk Kota Sukabumi, Jawa Barat memutar balik untuk kembali ke daerahnya masing-masing. (Antara/Aditya Rohman)

Seperti diketahui, Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya masih mendapati warga yang hendak mudik. Hal itu diketahui dari masih adanya kendaraan yang mencoba keluar Ibu Kota dan daerah penyangga, Minggu 3 Mei 2020.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Kombes Sambodo Purnomo Yogo mengatakan, tercatat ada 895 kendaraan yang berupaya keluar Jakarta dan sekitarnya.

Baca Juga

Pemprov DKI Tindak 841 Perusahaan Langgar PSBB, 141 Ditutup Sementara

Jumlah ini lebih sedikit ketimbang hari sebelumnya sebanyak 933 kendaraan. Rinciannya, 117 kendaraan mencoba keluar Jakarta lewat Pintu Tol Cikarang Barat arah Jawa Barat.

Kemudian, sebanyak 142 lewat Tol Bitung arah Merak. Pada hari ke-10 penyekatan didapati warga lebih banyak coba mudik lewat jalur arteri. Tercatat ada 636 kendaraan lewat jalur arteri. (Knu)

Tag
LAINNYA DARI MERAH PUTIH
[HOAKS Atau FAKTA]: Habib Rizieq Gunakan Serban Berlogo Palu Arit
Indonesia
[HOAKS Atau FAKTA]: Habib Rizieq Gunakan Serban Berlogo Palu Arit

Beredar foto bergambar wajah Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab dengan menggunakan serban berlogo palu arit dan mulutnya terdapat sendal jepit berwarna hitam.

PKS Minta Negara Waspadai Motif Terselubung Dalam Program Vaksinasi
Indonesia
PKS Minta Negara Waspadai Motif Terselubung Dalam Program Vaksinasi

Sekitar 26 juta karyawan badan usaha milik nasional (BUMN) dan swasta akan mendapat prioritas vaksinasi setelah tenaga kesehatan dan tenaga pelayanan publik

Evakuasi Sriwijaya Air, Anies: Kita Bikin Posko dan Siapkan Kantong Jenazah
Indonesia
Evakuasi Sriwijaya Air, Anies: Kita Bikin Posko dan Siapkan Kantong Jenazah

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendirikan posko di Jakarta International Container Terminal (JICT) Tanjung Priok.

Pemberlakuan New Normal Tingkatkan Kemacetan di Jakarta
Indonesia
Pemberlakuan New Normal Tingkatkan Kemacetan di Jakarta

"Penambahan personel ada terutama pada pagi hari dan sore hari," katanya.

Ombudsman Beberkan Maladministrasi Penanganan Kasus Djoko Tjandra
Indonesia
Ombudsman Beberkan Maladministrasi Penanganan Kasus Djoko Tjandra

mbudsman RI melakukan investigasi terkait penanganan skandal terpidana kasus hak tagih Bank Bali Djoko Tjandra yang belakangan ini menjadi perhatian publik.

Yusril: Muladi Seorang Ilmuwan Hukum Berwibawa
Indonesia
Yusril: Muladi Seorang Ilmuwan Hukum Berwibawa

ndonesia kembali berduka. Tokoh hukum Indonesia Muladi meninggal dunia pada Kamis (31/12) pagi.

Kata Anies Kenapa Kasus COVID-19 Jakarta Masih Tinggi
Indonesia
Kata Anies Kenapa Kasus COVID-19 Jakarta Masih Tinggi

Peningkatan kasus COVID-19 di Jakarta dikarenakan mobilitas masyarakat di luar rumah masing tinggi.

Komisi II Agendakan Evaluasi Pelaksanaan Pilkada 2020 Pekan Depan
Indonesia
Komisi II Agendakan Evaluasi Pelaksanaan Pilkada 2020 Pekan Depan

Selain itu, berbagai persoalan dalam pelaksanaan pilkada akan dibahas

Klinik di Jakarta Layani Swab Test, Harganya Rp750 Ribu
Indonesia
Klinik di Jakarta Layani Swab Test, Harganya Rp750 Ribu

"Ada (tes corona). Untuk tes swabnya diharga 750.000. Di sini gak ada rapid test, adanya swab test. Bukan pengambilan darah," ucap petugas Klinik Venosa.

Satpam Kantor Hasto Akui Minta Harun Masiku Rendam Ponsel Saat OTT KPK
Indonesia
Satpam Kantor Hasto Akui Minta Harun Masiku Rendam Ponsel Saat OTT KPK

Hal itu diungkapkan Nurhasan saat bersaksi untuk terdawak Wahyu Setiawan dan Agustiani Tio Fridellina melalui video conference, Kamis (11/6).