hiburan-gaya-hidup-singlepost-banner-1
Masjid Pejlagrahan, Masjid Tertua di Cirebon Masjid Pejlagrahan yang menjadi masjid tertua di Cirebon. (Foto: MP/Mauritz)
hiburan-gaya-hidup-singlepost-banner-2
hiburan-gaya-hidup-mobile-singlepost-banner-7

MUNGKIN banyak yang mengira bahwa Masjid Agung Sang Cipta Rasa adalah masjid tertua di Cirebon. Namun, ternyata ada satu masjid lagi yang lebih tua usianya daripada Masjid Agung Sang Cipta Rasa, yakni Masjid Pejlagrahan.

Masjid ini terletak tidak jauh dari Keraton Kesepuhan dan Masjid Agung Sang Cipta Rasa, tepatnya berada di Jalan Mayor Sastraatmaja Kelurahan Kasepuhan, Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Untuk menuju ke masjid ini, harus melalui gang kecil. Sehingga, tidak terlihat dari jalan raya.

Baca Juga:

Liburan di Cirebon, Menikmati Kota Tua

cirebon
Masjid Pejlagarahan lebih tua daripada Masjid Agung Sang Cipta Rasa. (Foto: MP/Mauritz)

Keberadaan masjid ini sangat penting dalam penyebaran agama Islam, terutama dalam pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Karena di sinilah, para Wali berkumpul untuk memprakarsai pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa.

Sekilas, bangunan masjid ini tidak tampak seperti bangunan tua. Karena, bangunannya mengalami renovasi, namun tidak mengubah bentuk aslinya. Tembok-tembok baya merah khas bangunan zaman dulu, dilapisi oleh keramik supaya bangunannya lebih kuat.

Menurut pengurus Masjid Pejlagrahan, Asep Syarifudin, penambahan keramik tersebut dilakukan karena tembok-temboknya mulai lapuk. Meskipun begitu, terdapat beberapa bagian masjid yang masih dipertahankan.

"Seperti mimbarnya yang terbuat dari kayu jati, pintu kecil masjid, serta tiang-tiang atau saka dan ukirannya. Lalu, ada naskah kuno yang bertuliskan huruf Arab, namun berbahasa Jawa, yang dipajang di salah satu tiang saka," jelasnya, Jumat (27/12/2019).

Baca Juga:

Begini nih Standar Layanan Makanan Minuman Maskapai Penerbangan

cirebon
Masjid yang konon didirikan oleh Pangeran Wangsungsang. (Foto: MP/Mauritz)

Asep melanjutkan, Masjid Pejlagrahan dibangun oleh Pangeran Walangsungsang pada tahun 1415, atau 65 tahun sebelum Masjid Agung Sang Cipta Rasa berdiri. Nama Pejlagrahan sendiri berarti peristirahatan atau persinggahan.

"Karena di sinilah dulunya dijadikan sebagai tempat peristirahatan bagi orang-orang asing yang datang," tuturnya.

Dulunya, lanjutnya, wilayah Kesepuhan merupakan wilayah pesisir pantai. Dulunya sekitar masjid ini masih alang-alang. Bahkan Keraton Kesepuhan masih belum ada. Kemudian, para Wali datang dan menjadikan masjid ini sebagai tempat berkumpul untuk perencanaan pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa.

Asep melanjutkan, bangunan asli Masjid Pejlagrahan hanyalah berukuran 8x6, dengan memiliki 3 buah pintu, yakni pintu utama dan 2 pintu kiri dan kanan. Tapi sekarang, hanya dua pintu saja yang masih dipertahankan dan satu yang ada di kanan ditutup.

"Karena kecil, maka masjid ini dulunya hanya disebut Tajug Pejlagrahan," jelasnya.

Seiring berjalannya waktu, bangunan masjid direnovasi. Terlahir, renovasi dan perluasan area masjid dilakukan pada tahun 1995. Tujuannya agar lebih kokoh dan mampu menampung banyak jamaah.

"Tapi di sini hanya untuk solat 5 waktu dan tarawih saja. Solat Jumat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa," pungkasnya. (*)

Baca Juga:

Spot Wisata Menawan di Pulau Tidore, Dijamin Memanjakan Mata

Laporan dari Mauritz kontributor merahputih.com untuk wilayah Cirebon dan sekitarnya.

Kredit : mauritz

hiburan-gaya-hidup-mobile-singlepost-banner-3

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH


hiburan-gaya-hidup-singlepost-banner-4
hiburan-gaya-hidup-singlepost-banner-5