Masjid Langgar Tinggi Bukti Asimilasi Empat Budaya Masjid Langgar Tinggi Pekojan, Tambora, Jakarta Barat, Rabu (8/7). (Foto: MerahPutih/Rizki Fitrianto)

Merahputih Megapolitan - Masjid tua Langgar Tinggi yang berposisi di kawasan Pekojan, Jakarta Barat, tepatnya disamping aliran Kali Angke, adalah bukti asimilasi sejumlah budaya bangsa.

Dapat disebut ada empat kebudayaan dominan yang terukir dalam bentuk bangunan masjid yaitu kebudayaan Arab, Tiongkok, Eropa dan Melayu.

Dilihat dari struktur bangunan terlihat ada unsur budaya Tiongkok pada atap bangunan masjid, ada unsur eropa pada bentuk tiang serta warna dinding yang menghiasi bangunan, unsur melayu pada jendela dan pintu masjid, dan ada unsur Arab pada Mihrabnya.

Masjid yang didirikan pada tahun 1828 M, oleh Seorang ulama asal Yaman itu, awalnya adalah sebuah langgar dan tempat persinggahan para saudagar yang melintasi Kali Angke.

"Dulunya Masjid ini adalah tempat salat dan singgah saudagar yang kebetulan melewati Kali Angke," kata ketua pengurus masjid Langgar Tinggi, Habib Ahmad Alwi Assegaf, kepada merahputih.com, Rabu (8/7).

Dulu, sambungnya, masjid berlantai dua ini juga difungsikan sebagai tempat penginapan para saudagar. "Lantai dasar masjid, dulu dijadikan tempat istirahat para pedagang, sekarang dijadikan rumah toko," ujarnya.

Untuk melestarikan unsur budaya yang terkandung dalam bangunan masjid, katanya pengurus masih menjaga keaslian bangunan. "Sebagian besar bangunan masih asli, namun sudah ada yang direnovasi yaitu atap diganti genteng glasur, dinding dikeramik, kolam tempat wudhu juga."

Ditanya keinginan untuk merenovasi kembali, "Saya pengen direnovasi, tapi tidak diubah," jawabnya singkat.

Diakuinya, untuk merenovasi bangunan agar terlihat lebih menarik membutuhkan dana hingga sekira 50 jutaan. "Saya berharap ada yang peduli, terutama pemerintah, agar peninggalan sejarah ini tetap terjaga," pungkasnya.(fdi)

 

Baca Juga:

Masjid An-Nawier Pernah Ubah Arah Kiblat

Renovasi Masjid Tua, Pengurus Masjid Rogoh Kocek Sendiri Rp1,5 Miliar.

Turis Eropa Sering Kunjungi Masjid An-Nawier.

Masjid An-Nawier Masjid Tua yang Keasliannya Masih Terjaga

Masjid Luar Batang Disebut Mekah-nya Indonesia oleh Gus Dur

 



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH