Masih Galau Setelah Putus Hubungan? Ketahui 4 Fakta di Balik Sebuah Perpisahan Putus hubungan asmara memang tidak mudah bagi setiap orang (Foto: 30seconds.com)

TIDAK berpisah secara baik-baik sehabis putus dengan pasangan? Ya, sebagian dari kita pasti pernah minimal sekali mengalami perpisahan yang kacau sampai harus bermusuhan. Entah diakibatkan karena hubungan yang toxic, perselingkuhan, atau rasa penat karena terlalu lama bersama.

Jika kamu merasa perpisahan secara tidak baik-baik ini masih mempengaruhi kehidupanmu, berikut penjelasan tentang beberapa fakta di balik perpisahan dengan seseorang yang sangat kamu cintai.

Menurut pakar percintaan, Marianne Vicelich, perbedaan antara putus hubungan baik-baik dengan yang tidak baik, sebetulnya bisa dinilai dari bagaimana komunikasi kamu dengan mantan kekasih pasca putus hubungan.

1. Putus hubungan biasanya lebih membuat pria sengsara

Pria lebih merasakan sengsara ketika putus cinta. (Foto: Pixabay/HolgerFotografie)

Menurut penelitian dari badan amal kesehatan mental The Lions Barber Collective, laki-laki lebih sulit menghadapi perpisahan dalam urusan cinta, karena laki-laki lebih bungkam daripada perempuan. Perempuan biasanya lebih terbuka dan lebih mudah mengekspresikan perasaannya, apalagi ke lelaki lain.

Sedangkan laki-laki biasanya merasa malu untuk menunjukkan kenyataan bahwa putus hubungan membuat mereka hancur, terlebih ketika harus cerita pada sesama lelaki.

Maka dari itu lelaki lebih pandai berpura-pura merasa baik-baik saja, ketimbang menghadapi emosi yang sesungguhnya terjadi dalam hati.

2. Perselingkuhan biasanya memiliki dampak buruk jangka panjang

Perpecahan pahit bisa disebabkan oleh perselingkuhan (Foto: Verywell Mind)

Perselingkuhan merupakan sesuatu hal yang melibatkan kepercayaan. Sekali kepercayaan seseorang dikhianati, maka hasilnya akan sangat mempengaruhi kondisi emosional seseorang.

Seorang konsultan pernikahan dan pengacara keluarga, Sheela Mackintosh-Stewart, mengatakan bahwa perselingkuhan dapat mengakibatkan perpecahan yang pahit yang dikarenakan perasaan terluka dan dikhianati.

Hal ini membuat seseorang cenderung ingin menghukum pasangannya. Tindakan-tindakan seperti ini sangat memberikan dampak buruk bagi anak-anak dan keungan bersama.

3. Hubungan yang intens bisa menjadi pemicu sulitnya perpisahan

Hubungan yang intens akan memberikan dampak bagi perpisahan. (Foto: botswanayouth)

Hubungan yang intens bisa berarti hubungan yang lebih sering berinteraksi, baik secara fisik, atau tentang bagaimana mereka saling mengekspresikan rasa sayangnya (kadang agak berlebihan dan agak terlalu dini), sampai terlalu sering membuat rencana akan masa depan kalian.

Hubungan yang intens biasanya akan penuh dengan hasrat, emosi kusut, kebahagiaan, maka itu hubungan intens bisa menjadi hubungan yang paling sulit dilalui masa-masa pisahnya ketika berakhir. Ketika kita sangat tertarik dengan orang lain, biasanya perasaan tidak aman dan cemas juga menghantui diri kita.

Menurut Dr. Elena Touroni, direktur klinik psikologi Chelsea, ada teori psikologi kompleks yang disebut sebagai schema chemistry, dimana ada kerentanan yang kita miliki di kehidupan kita pada awalnya, sehingga pada akhirnya kita memilki ketertarikan pada pasangan tertentu. Ketika putus, kerentanan itu akan semakin menjadi-jadi dan membuat perpisahan sangat terasa sulit.

4. Kamu butuh waktu untuk berduka dan bisa pulih dari perpisahan

Kamu butuh waktu unutuk move on (foto: psiloveyou.xyz)

Jika kamu sudah menikah atau sudah bersama dalam periode waktu yang lama, maka pasti perpisahan menjadi suatu hal yang sangat sulit.

Kamu seringkali akan mempertanyakan, apakah benar dia seseorang yang kamu kenal selama ini, jika dia tiba-tiba melakukan sesuatu yang buruk terhadapmu.

Jika ia sangat penting untukmu, maka kamu memang harus merasakan waktu berduka akan kehilangan sosok yang sangat kamu cintai. Waktu adalah cara terbaik untuk seseorang menuju proses pemulihan. (shn)



Ananda Dimas Prasetya

LAINNYA DARI MERAH PUTIH