Masih Bingung Cara Ikut Gerakan Barista Asuh? Gampang Benget, Ini Panduannya! Kenali lebih jauh tentang Gerakan Barista Asuh (Foto: istimewa)

TAK dipungkiri efek pandemi COVID-19 membuat sejumlah industri mengalami guncangan hebat. Mulai dari omset yang turun drastis, karyawan dirumahkan, bahkan yang terparah perusahaan sampai gulung tikar.

Data yang dirilis Kementerian Ketenagakerjaan, hingga 12 Mei 2020 jumlah tenaga kerja yang dirumahkan maupun terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) mencapai 1.727.255 orang.

Baca Juga:

Meski Kondisi Sulit, Riri Mestika Tetap Dukung Barista Asuh untuk Bangkitkan Semangat Para Barista

Rinciannya, pekerja formal yang dirumahkan sekitar 1.033.000 orang. Sedangkan pekerjaan formal yang di-PHK sebanyak 377.249 orang.

Nah, untuk pekerja informal terdampak sekitar 316.976. Jadi kalau dihitung pekerja dirumahkan, pekerja di PHK formal dan informal jumlahnya 1.727.225 orang.

Pandemi Virus Corona memberikan dampak yang besar bagi industri kopi (Foto: unsplash/tylnernix)

Salah satu yang cukup terkena dampaknya yakni industri FnB. Termasuk industri kopi. Sejak awal COVID-19 masuk ke Indonesia, banyak coffee shop yang sudah mulai pusing dan bingung harus melakukan apa. Selain itu tren coffee shop juga diperkirakan turun saat pandemi, karena masyarakat pun terkena dampaknya.

Baca juga:

Barista Asuh, Bukti Industri Kopi Indonesia tak Pernah Cengeng dan Mengeluh

Meskipun terkena dampak dari pandemi, rasa kemanusiaan dari para pemilik coffee shop mulai tumbuh. Menurut Gusti Laksamana yang merupakan pengusaha coffee shop sekaligus pemilik akun influencer kopi @mas_fotokopi, di awal persebaran COVID-19, banyak pengusaha kopi berkontribusi dengan memberikan es kopi susu untuk para tenaga medis. Bahkan mereka juga membuat gerakan untuk membantu para ojek online.

Hingga suatu saat Gusti Laksamana, berdiskusi dengan CEO MerahPutih.com Aang Sunadji dan perwakilan Barista Guild of Indonesia (BGI) Yudistira Bawono.

“Kami sepakat bahwa di lingkungan sekitar kita (dunia kopi) ada yang terlupakan (untuk dibantu). Padahal Coffee Shop elemennya banyak. Dari mulai owner, barista, roaster dan lainnya,” kata Gusti dalam live IG @newsmerahputih.

Memang, setelah diamati coffee shop saat pandemi ini bisa terbilang 'merana'. Karena pendapatan yang berkurang, dan coffee shop harus tutup untuk mengikuti aturan pemerintah. Akibatnya, banyak coffee shop mengurangi atau merumahkan sementara para pegawainya. Termasuk barista.

Melihat fenomena tersebut, ketiganya tergugah mencoba melakukan sesuatu. Akhirnya tercetuslah ide: Barista Asuh.

Gerakan Barista Asuh adalah mengajak para pemilik coffee shop bergandengan tangan untuk memberikan paling tidak 1 shift seminggu pada teman-teman barista korban PHK atau dirumahkan.

Sebenarnya sejak corona melanda BGI sudah mulai mendata para barsita yang menjadi korban PHK atau dirumahkan. Hingga saat ini, lanjut Gusti, ada sekitar 909 barista di seluruh indonesia yang dirumahkan/di-PHK.

Lantas bagaimana cara ikut Gerakan Barista Asuh?

Untuk para para korban PHK atau yang dirumahkan dan berminat untuk ikut gerakan ini bisa mendaftar lewat tautan: bit.ly/solidsaatsulit.

Dari link tersebut, para barista yang terdampak pandemi bisa mengisi data-data untuk menemukan 'Rumah Asuh' yang cocok dan dekat dari tempat tinggal.

Sementara untuk pemilik coffee shop yang ingin berkontribusi memberikan satu shift untuk barista asuh, kamu bisa mengunjungi link bit.ly/baristaasuh.

Nantinya dua database itu akan dihubungkan dengan form Ruang Asuh. Di Ruang Barista Asuh, para barista dan coffee shop dicocokan sesuai lokasi terdekat.

Misalnya, barista yang berdomisili di Tangerang mendaftar, maka di Ruang Asuh dia bisa melihat coffee shop yang berada di sekitar Tangerang yang ikut gerakan Barista Asuh. Dia pun berkesempatan diasuh coffee shop yang ada di dekat tempat tinggalnya. Menariknya, lanjut Gusti, dalam gerakan ini para barista bisa mendaftar lebih dari satu coffee shop.

Nah, untuk urusan berapa penghasilan para Barista Asuh selama satu shift, itu merupakan kewenangan masing-masing coffee shop dan kesepakatan dengan barista yang diasuhnya.

Bisa memilih berupa uang shift, uang transport, uang makan, bingkisan, bagi hasil atau yang lainnya. “Yang penting jangan sampai memberatkan coffee shop yang sebenarnya kondisinya juga sedang susah,” kata dia.

Gusti kembali mengingatkan, tujuan utama dari gerakan ini bukan untuk menyambung hidup para barista korban PHK atau dirumahkan. Tujuan Barista Asuh lebih pada membangkitkan semangat teman-teman barista yang mungkin sedang terpuruk di saat pandemi. Hal itu juga menunjukkan bahwa pelaku industri kopi bisa tetap bergotong-royong saling menguatkan satu sama lain.

Coffee Shop dan Barista sama-sama akan mendapat manfaat dalam gerakan Barista Asuh (Foto: unsplash/quan le)

Lantas apa manfaat bagi coffee shop ikut gerakan Barista Asuh? Nah, dengan ikut gerakan Barista Asuh, coffee shop juga jelas mendapatkan keuntungan.

Misalnya, barista-barista tersebut akan mengumumkan di media sosialnya, dimana coffee shop yang mengasuhnya. Selain mendapat tambahan exposure media sosial, para pelanggan tetap barista itu akan membeli produk coffee shop pengasuhnya. Dengan begitu coffee shop juga mendapat tambahan pemasukan.

Di sisi lain, barista asuh dan coffee shop juga bisa saling belajar dan tukar pengalaman ilmu perkopian. Dengan begitu, ekosistem industri kopi ini tetap terjaga dan semakin kuat menghadapi pandemi.

Selain itu, dengan mengikuti gerakan ini, berarti coffee shop tersebut telah ikut bersama-sama menguatkan industri kopi Tanah Air.

Menurut Gusti, saat ini sudah ada 45 Coffee Shop diseluruh Indonesia yang ikut, dan kemungkinan besar akan bertambah.

Akhir kata Gusti menuturkan kita tak pernah tahu pandemi berakhirnya kapan. Menurutnya, selama masa pandemi ini terjadi sudah seharusnya kita saling tolong-menolong. (Ryn)

Baca juga:

Aang Sunadji, Beangasm.id, dan Growth Mindset di Tengah Pandemi

Kredit : raden_yusuf


Raden Yusuf Nayamenggala

LAINNYA DARI MERAH PUTIH