Masalah Utama Selalu Berkaitan dengan Finansial dan Perbankan Pengelolaan keuangan dan sistem perbankan yang kerap menjadi permasalahan anak sekolah di luar negeri. (Foto: Pexels/rawpixel.com)

DEWASA ini, banyak pelajar Indonesia yang tertarik untuk menempuh pendidikan di luar negeri. Jumlah mereka pun menunjukkan peningkatan dari waktu ke waktu. Commercial Servica Amerika Serikat memperkirakan mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Amerika pada 2018 hingga 2019 mencapai 9130 pelajar.

Berbagai alasan melatarbelakangi mereka untuk mengenyam pendidikan di negara asing. Berdasarkan data yang dihimpun oleh HSBC Group, faktor seperti kualitas pengajaran, peluang pekerjaan di masa depan hingga dukungan jejaring di luar negeri menjadi alasan mereka sekolah di luar negeri.

Baca Juga:

Tiga Hal Ini Hanya Didapat Oleh Para Pelajar Indonesia Yang Sekolah di Luar Negeri

uang
Pengelolaan uang menjadi hal utama yang harus dimiliki anak yang bersekolah di luar negeri. (Foto: Pexels/Pixabay)

"Ambisi untuk mengoptimalkan potensi dan kompetensi agar terus kompetitif mendorong generasi masa kini untuk mendapat pendidikan terbaik di manapun. Namun ambisi tersebut bisa terganjal oleh berbagai faktor eksternal seperti pengelolaan keuangan untuk anak selama menempuh pendidikan di luar negeri," ujar Fransisca Kallista Arnan, Head of Marketing Retail Banking and Wealth Management PT Bank HSBC Indonesia.

Contoh persoalan perbankan lainnya yang berkaitan dengan sekolah anak di luar negeri misalnya sulit mendapatkan persetujuan dari bank di negara tertentu untuk mendapatkan
pelayanan perbankan. Bagi mereka yang bisa membuka bank pun tak lepas dari serangkaian permasalahan. Misalnya, kurang praktisnya dalam melakukan transfer ke rekening anak, biaya di setiap penarikan tunai di mesin ATM. hingga repotnya mengirim kartu kredit dan kartu debit.

Usai menyelesaikan studi pun tak menutup kemungkinan anak tetap mendapatkan kendala. "Setiap bank tentu tak ingin kehilangan nasabah. Mereka yang hanya menetap sementara pun dianggap sebagai konsumen potensial sehingga bank akan berusaha menahan misalnya dengan memberi syarat charge sekian persen jika ingin menutup rekening," urai Kallista ditemui di Hotel Mulia, Rabu (18/9).

Jarak yang jauh membuat orang tua sulit membantu anak mereka yang masih berusia muda dalam menyelesaikan masalah perbankan. Perkuliahan pun terabaikan karena hal-hal yang tidak berkaitan dengan pendidikan namun menunjang keberlangsungan hidup di sana.

Baca Juga:

Cocok Jadi Teman Curhat, Ini 5 Zodiak yang Paling Peka dan Sensitif

uang
Harus membicarakan cara mengelola keuangan. (Foto: Pexels/rawpixel.com)

"Bisa dibayangkan betapa repot dan tidak nyamannya orang tua saat anak membutuhkan dana saat mendesak," tutur Kallista.

Tantangan tersebut membuat HSBC memperkenalkan layanan baru bernama HSBC Premier Next Gen. Pelayanan tersebut teesedia untuk nasabah HSBC Premier yang telah berusia 18 hingga 28 tahun.

"Berbagai potensi kendala yang berkaitan dengan perbankan akan lebih mudah dipantisipasi dengan cara tersebut," jelas Dewi Tuegeh, Head of Customer Value Management, PT Bank HSBC Indonesia.

Dewi mengatakan bahwa layanan tersebut bisa diakses ke 30 negara yang tersebar di daratan Asia, Australia, Amerika, Eropa hingga Afrika. "Mereka juga bisa menikmati fasilitas bebas biaya penarikan mata uang asing di 6500 ATM di seluruh dunia tanpa melalui konversi mata uang ke Rupiah," tukas Dewi. (avia)

Baca Juga:

4 Tipe Orangtua Baru, Kamu Termasuk yang Mana?

Kredit : iftinavia


Paksi Suryo Raharjo