AKURASI dan 'menjaga kredibilitas sebagai sumber berita tepercaya menjadi dua isu utama bagi jurnalis di tengah kecanggihan teknologi kini. Kalangan jurnalis juga memprediksi, fenomena ChatGPT dan aplikasi berbasiskan kecerdasan buatan/artificial intelligence (AI) akan menghadirkan tantangan yang semakin besar untuk jurnalisme autentik.
Melansir laman Cision, sebuah platform analisis konsumen dan media serta komunikasi komprehensif ini telah merilis publikasi tahunan "State of the Media Report" ke-14.
Cision mengadakan survei ini pada Februari-Maret 2023. Survei ini dikirimkan lewat surel kepada anggota Cision Media Database yang telah diseleksi oleh tim riset media Cision.
Seleksi ini bertujuan memverifikasi status anggota Cision Media Database sebagai praktisi media, pemengaruh (influencer), dan penulis blog.
Cision juga menyurvei anggota yang terdaftar pada bank data HARO (Help a Reporter Out) dan mengirim survei kepada praktisi media dalam bank data PR Newswire for Journalists.
Survei tahun ini melibatkan 3.132 responden di 17 pasar di seluruh dunia. Antara lain Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Perancis, Jerman, Finlandia, Swedia, Italia, Spanyol, Portugal, Tiongkok, Australia, Singapura, Malaysia, Indonesia, Taiwan, dan Hong Kong.
Baca juga:
Artificial Intelligence Dapat Deteksi Tanda Awal Kanker Paru-Paru

Survei ini tersedia dalam bahasa lokal dan materinya telah disesuaikan dengan setiap pasar. Lalu, hasilnya dirangkum untuk menyusun laporan global tersebut.
Publikasi tahunan ini memuat respons lebih dari 13.000 jurnalis di 17 pasar global. Lebih lagi, publikasi ini mengulas isu yang dihadapi jurnalis seputar pemberitaan dan akurasi konten, serta tantangan untuk menangkal disinformasi.
Upaya menjaga akurasi konten merupakan prioritas utama jurnalis (58%), bahkan hal ini juga dianggap sebagai prioritas utama bagi perusahaannya (43%).
Lebih dari seperempat jurnalis (27%) memandang tantangan terbesarnya adalah menjaga kredibilitas sebagai sumber berita tepercaya. Terkait jurnalis masa depan, banyak responden ingin mengurangi "bias" dan memisahkan "fakta dari opini".
Berdasarkan temuan ini, jurnalis dan praktisi komunikasi lebih berpeluang menjalin kemitraan autentik yang berbasiskan sikap saling percaya. Juga mencapai tujuan bersama untuk menyampaikan berita secara jujur dan akurat di tengah perubahan lanskap media.
Jurnalis hari ini semakin mengutamakan data yang kredibel dan tepercaya, juga narasumber yang berkompeten. Maka praktisi komunikasi dapat dan harus membantu mereka.
"Dengan bekerja sama, di tengah disrupsi besar ini, jurnalis dan komunikator mampu menjaga dan bahkan meningkatkan mutu jurnalisme," ujar Putney Cloos, Chief Marketing Officer di Cision.
Pertama kalinya dalam "State of the Media Report", responden membagikan perspektif tentang masa depan jurnalisme. Topik utama berkaitan dengan menjaga akurasi, mengurangi bias, dan beradaptasi dengan industri media yang kian bergantung pada teknologi dan data.
Baca juga:
Pentingnya Penyesuaian terhadap Inovasi Artificial Intelligence

Banyak jurnalis juga membahas kelebihan dan kekurangan AI. Inovasi seperti ChatGPT tak akan pernah berhenti, tapi jurnalis yang menghindarinya akan berada pada posisi yang merugikan.
Ketika AI mampu mengerjakan berbagai tugas hingga lebih dari sekadar menulis konten, jurnalis hanya akan mencapai sukses dengan menyampaikan kisah personal dan menemukan kesimpulan dari rangkaian data dan tren data.
Jurnalis diharapkan mampu memakai Generative AI untuk meningkatkan kualitas pekerjaan sehingga tetap relevan.
Data kian menjadi unsur penggerak jurnalisme, sebab 40% jurnalis semakin bergantung pada data tahun ini. Sedangkan 66% jurnalis menilai, menyediakan data dan narasumber dari kalangan pakar merupakan salah satu cara bagi komunikator untuk mempermudah pekerjaan jurnalis.
Platform media sosial menjadi sarana bagi jurnalis dan praktisi komunikasi mengumpulkan data, berjejaring, dan mempromosikan karyanya. Kalangan jurnalis ingin meningkatkan audiens di LinkedIn dan Instagram pada tahun depan.
Di sisi lain, mereka mulai meninggalkan Twitter karena perubahan yang dibuat manajemen baru pada platform tersebut. Ekspektasi jurnalis juga kian meningkat untuk Instagram, TikTok, dan YouTube mengingat popularitas media sosial tersebut dalam menjangkau audiensnya. (dgs)
Baca juga:
Teknologi Artificial Intelligence Bikin Olahraga di Rumah Jadi Lebih Efektif