Mark Zuckerberg Cuti Kerja Dua Bulan, Ini Alasannya Mark Zuckerberg, Priscilla Chan, dan anak perempuan mereka, Maxima Zuckerberg (Foto:Instagram/zuck)

CEO Facebook, Mark Zuckerberg, mengatakan kalau ia berencana cuti dua bulan. Hal itu ia sampaikan dalam laman akun Facebook-nya sekitar tengah malam tadi, Jumat (18/8). Ia menulis, "Anak perempuan saya akan lahir sebentar lagi, dan saya berencana mengambil dua bulan untuk cuti bersalin lagi."

Cuti kelahiran anak untuk suami hingga bulanan ini tergolong tidak biasa. Sesuai ketentuan Depnaker, perusahaan-perusahaan di Indonesia hanya mengizinkan suami mengambil cuti maksimal tiga hari. Namun di Facebook, Mark mengambil cuti dua bulan untuk menemani sang istri, Priscilla Chan, dalam masa menuju persalinan.

Sebelumnya, Mark juga mengambil cuti dalam jangka waktu yang sama untuk kelahiran anak perempuan pertamanya, Maxima Zuckerberg, di tahun 2015. "Saat Max lahir, saya mengambil dua bulan cuti kelahiran anak. Saya selalu bersyukur bisa menghabiskan banyak waktu dengan dia di bulan pertama hidupnya," kenang Mark.

Alasan panjangnya waktu cuti bukan karena ia CEO, sehingga bisa lebih fleksibel dalam peraturan. Hal ini dikarenakan kebijakan Facebook yang sangat unik untuk urusan keluarga.

"Di Facebook, kami menawarkan empat bulan cuti kelahiran untuk istri dan suami karena penelitian menunjukkan jika orang tua yang bekerja mengambil waktu bagi bayi mereka yang baru lahir, itu baik untuk seluruh keluarga. Dan saya yakin perusahaan masih tetap berdiri saat saya kembali," jelas Mark.

mark zuckerberg anak
Facebook/Mark Zuckerberg

Kebijakan Facebook ini sudah ditetapkan sejak 2015, di mana perusahaan akan tetap membayar pekerjanya yang mengambil cuti kelahiran maksimal empat bulan tersebut. Mark akan memanfaatkan waktu satu bulan untuk menjaga Priscilla dan anak-anaknya, lalu satu bulan lagi untuk liburan bersama di bulan Desember.

Di Amerika sendiri, cuti kelahiran untuk kedua orang tua masih menjadi kontroversi. Kurangnya dukungan dari pemerintah serta stigma negatif yang telah melekat pada karyawan, khususnya pimpinan, untuk mengambil waktu tidak bekerja, merupakan beberapa alasan konsep ini masih dianggap aneh.

Menurut penelitian yang dilakukan Pew Research tahun 2017, hanya 14 persen pegawai sipil di AS yang mendapat akses untuk cuti kelahiran dan masih mendapat gaji selama cuti. Kebijakan cuti di Kanada, Eropa, dan negara lainnya dinilai jauh lebih murah hati dibandingkan di AS. (*)

Baca juga artikel lainnya di sini: Media New York Tulis Tentang Bubble Tea, Warganet Nyinyir


Tags Artikel Ini

Asty TC